Beranda / Genre / Petualangan / Syena: Perempuan Bernama Elang (Bab 8)

Syena: Perempuan Bernama Elang (Bab 8)

Syena
This entry is part 9 of 9 in the series Syena: Perempuan Bernama Elang

Hari-hari setelah kunjungan ke Waldspielpark Heinrich-Kraft Park mengubah banyak hal.  Ada ritme baru dalam hidup Syena, sebuah ritme yang tenang, sederhana, tapi menghidupkan. Setiap pagi ia datang lebih awal ke sekolah, menyiapkan kelas, menata buku cerita, alat tulis dan gambar, juga sesekali menempel gambar-gambar kecil di dinding. Anak-anak kini tak lagi canggung dengannya, yang mulanya menatap aneh karena penampilannya yang berbeda, kini bahkan beberapa  anak mulai berebut ingin duduk paling dekat saat Syena bercerita.

Namun, di antara semua wajah ceria itu, ada satu wajah yang perlahan menarik perhatiannya. Emma Schreiber, gadis kecil yang sejak awal kedatangan sering menempel di kakinya. Emma tidak pernah berisik seperti yang lain. Tidak ikut berlarian, bahkan lebih sering berdiri di pinggir, memperhatikan teman-temannya. Matanya cokelat hangat, menyimpan sesuatu yang sulit dijelaskan. Tatapannya jernih, polos, tapi seperti ada kesepian yang diam-diam menetap di sana.

Hingga hari itu, Syena belum benar-benar  menyadari, ia hanya melihat gadis kecil berdiri di dekat rak buku, memandangi halaman tanpa benar-benar membukanya.

Syena mendekat perlahan. “Namamu Emma, kan? Kamu suka buku?”

Gadis itu mengangguk kecil, mata jernihnya menatap Syena beberapa detik, lalu menjawab pelan, nyaris seperti bisikan, “Aku … hanya melihat gambarnya, aku belum bisa membaca.”

Syena tersenyum. “Kamu suka cerita apa, Emma?”

Emma tidak langsung menjawab. Ia hanya menunjuk satu buku bergambar di rak dan menyerahkan pada Syena.

“Kamu ingin saya membacakan untukmu?”

Emma mengangguk, berjalan mendekat dan duduk menempel pada Syena yang mulai membacakan lembar demi lembar halaman bergambar tersebut. Sejak hari itu, ada sesuatu yang berubah.

Emma makin dekat, yang awalnya hanya duduk malu-malu di dekat Syena saat sesi cerita, pelan-pelan mulai berani berpindah ke barisan depan. Hingga suatu hari, tanpa banyak kata, ia duduk tepat di samping Syena dan menyandarkan kepalanya sebentar.Sebuah gerakan kecil yang sederhana, tapi cukup untuk membuat hati Syena bergetar.

Namun, Syena tidak ingin mengusik dan membuat Emma kembali merasa canggung. Sebaliknya, ia justru menganggap kehadiran gadis kecil itu istimewa, ada semacam perasaan yang membuatnya merasa nyaman.

“Fräulein Syena, hari ini cerita tentang apa, ?” tanya Emma sambil mengunyah bekal makan siangnya saat jam istirahat

“Kamu mau saya cerita tentang apa?” Syena balik bertanya.

“Apa saja yang Fräulein Syena ceritakan, aku suka,” ujarnya sambil memasukkan potongan kentang ke mulut.

Syena tersenyum,“Bagaimana jika saya cerita tentang Marsha?”

“Marsha?”

“Iya, Marsha … anak kecil yang menemukan cahaya di dalam dirinya.”

Emma menatapnya lekat. “Seperti aku?”

Pertanyaan itu membuat Syena terdiam sejenak, lalu mengangguk pelan. “Iya … seperti kamu.”

“Marsha adalah gadis kecil yang selalu merasa kesepian, karena Marsha tidak memiliki ibu. Teman-temannya satu per satu menjauh karena Marsha selalu bermuka masam, dan suka menyendiri. Hingga kemudian Marsha bertemu seorang perempuan yang menyayanginya, tidak menghakimi, dan selalu membacakan cerita untuknya. Marsha menyukai teman barunya, pelahan ia  menemukan kembali rasa percaya dirinya, ia kembali rajin belajar, tidak canggung, dan selalu tersenyum. Teman-temannya pun akhirnya tidak mengolok-olok lagi, mereka mau terteman dengan Marsha karena sebenarnya ia anak yang riang dan baik hati.”

“Tapi Kamu bukan temanku, Kamu guruku,” bantah Emma setelah Syena mengakhiri ceritanya.

“Di kelas Kamu memanggilku Fräulein Syena, tapi diluar kelas Kamu bisa memanggilku Syena,” tandas Syena.

“Apa itu artinya kita berteman?” tanya Emma, mata bulatnya menatap intens.

“Hu’um … kita bisa menjadi teman jika Kamu mau.” Syena mengacungkan kelingkingnya, Emma menatap ragu, tapi kemudian ia balas dengan mengaitkan kelingkingnya.

“Sekarang kita teman,” ujarnya, keduanya akhirnya tertawa bersama.

Hari-hari berlalu, dan kedekatan mereka tumbuh tanpa disadari. Emma mulai sering mencari Syena. Kadang hanya untuk duduk diam di sampingnya. Kadang membawa gambar yang ia buat dengan krayon.

“Ini Fräulein Syena,” katanya siang itu, tangannya menunjuk gambar seorang perempuan berhijab dengan senyum lebar

“Ini … saya?” tanya Syena, pura-pura tak percaya.

Emma mengangguk. “Fräulein Syena selalu tersenyum, dan itu membuatmu terlihat sangat cantik.”

Syena menahan sesuatu di dadanya, ia tidak ingat kapan terakhir kali seseorang melihatnya seperti itu. Bukan sebagai seseorang yang kuat, atau seseorang yang harus bertahan.Tapi … seseorang yang tersenyum hangat.

Sore itu, setelah kelas selesai, sebagian anak sudah pulang. Ruangan kembali sepi, hanya menyisakan beberapa anak yang masih menunggu dijemput, termasuk Emma.

Gadis kecil dengan rambut dikuncir dua itu duduk di dekat Syena, memegang sebuah buku cerita bergambar yang sudah mulai usang.

“Fräulein, maukah membacakan ini?” ,” pintanya pelan.

“Dengan senang hati,” jawab Syena sambil mengangguk. Ia lalu duduk di kursi kecil. Tanpa ragu, Emma naik ke pangkuannya, bersandar dengan nyaman seolah itu adalah tempat yang paling aman di dunia.

Syena membuka buku itu dan mulai membaca pelahan, suaranya lembut mengeja kalimat demi kalimat dengan irama yang teratur.

“…dan akhirnya, bintang kecil itu menyadari bahwa ia tidak pernah benar-benar sendiri.”

Emma menyimak dengan tenang,  napasnya pelan, tubuh kecilnya masih bersandar di dada Syena.

Di luar jendela, cahaya sore mulai meredup, menciptakan suasana yang syahdu. .Syena melanjutkan membaca, tangannya sesekali mengusap lembut rambut Emma.

Tanpa ia sadari, di luar sana … di depan pagar sekolah, sepasang mata tengah mengawasinya.  Pemilik tubuh tegap mengenakan mantel gelap, wajahnya sebagian tertutup bayangan, tapi tatapannya tajam. Laki-laki itu tidak bergerak, hanya memperhatikan satu titik. Syena dan gadis kecil di pangkuannya.

Di dalam ruangan kelas, Syena menutup buku perlahan, “Sudah selesai,” bisiknya.

Emma masih diam, matanya setengah terpejam, Syena mengusap pucuk kepala Emma, lalu berucap pelan, “Kamu suka ceritanya?”

Emma tidak menjawab, tapi Syena merasakan anggukan kecil di dadanya.

“Fräulein Syena.”

“Hu’um?”

“Kalau aku sedih … apa aku boleh di sini?”

Syena menatap mata polos Emma, pertanyaan itu sederhana, tapi jujur, dan ia merasakan ada sesuatu yang menusuk.

Syena memeluk Emma lebih erat. “Boleh. Selalu boleh.”

Emma tersenyum kecil, lalu memejamkan mata sepenuhnya.

“Tapi kenapa Kamu sedih?” tanya Syena hati-hati.

“Papa selalu sibuk, tidak pernah punya waktu untukku,” rajuknya sambil merapatkan tubuhnya kembali pada Syena.

“Kita sekarang adalah teman, jadi Emma tidak harus kesepIan dan sedih.”

“Danke, Fräulein Syena,” ucap Emma, dengan gerakan spontan ia berdiri dan mengecup pipi Syena dengan cepat.

Syena tersipu, lalu mengangkat pandangannya ke jendela. Namun, untuk sesaat … ia tertegun. Ia merasa seperti ada kelebat bayangan. Tiba-tiba perasaan yang lama tidak ia rasakan… muncul kembali, ketakutan … meski samar. Syena menatap ke arah luar, tidak ada siapa-siapa.

Ia mengerutkan kening pelan, lalu menggelengkan kepala untuk menepis pikirannya, “Apa aku terlalu paranoid?” gumamnya lirih.

Namun, jauh di dalam hatinya ada sesuatu yang bergetar lagi, sesuatu yang belum sepenuhnya hilang. Syena menghela napas panjang, “Allah … semoga tak seburuk sangkaku.”

Sementara di luar sana, laki-laki itu akhirnya berbalik, berjalan menjauh dengan langkah tenang. Namun, pikirannya justru dipenuhi tanya tentang sosok perempuan yang memangku gadis kecil itu, dan satu hal tertanam jelas dalam benaknya, perempuan itu … bukan perempuan biasa.

Syena: Perempuan Bernama Elang

Syena: Perempuan Bernama Elang (Bab 7)

Penulis

  • Perempuan senja yang hobi nulis dan traveling untuk mencari inspirasi.

    Perempuan senja yang hobi nulis dan traveling untuk mencari inspirasi. Penulis Historical Fiction, Travel love, dan Misteri. Untuk mengenal lebih jauh ikuti FB : tari abdullahdua

Tag:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *