Bodyguard datang dengan membawa dua kantongi besar bingkisan dan menyerahkan kepada kurir tersebut.
“Ini untuk saya, Pak?” tanyanya kepada bodyguard itu dengan sopan sebelum mengambil bingkisan itu dengan agak takut.
“Sudah! Jangan banyak tanya. Ambil saja, sebelum bos kami berubah pikiran,” ucapnya dengan tegas membuat kurir itu gemetaran dan segera mengambilnya.
“Sekarang pergilah. Sampaikan kepada orang yang mengirim paket itu, ucapan terima kasih dari kami.”
Pak Efendi bicara dengan nada yang lembut.
“Maaf, Pak. Saya hanya petugas kurir dari sebuah perusahaan pengiriman barang. Bagaimana mungkin saya bertemu lagi dengan orang yang mengirim paket itu lagi, jika orang yang bersangkutan tidak datang sendiri ke perusahaan kami, Pak,” kilah petugas kurir tersebut dengan hati-hati saat bicara, karena takut menyinggung Pak Efendi.
“Berapa gajimu bekerja di sana?”
“Gaji saya, Pak?” Orang itu merasa heran karena ditanyai soal gaji.
“Iya. Kamu tidak salah dengar, berapa gajimu bekerja di sana?”
“Dua juta sebulan, Pak.”
“Saya beri kamu lima juta sebulan, apa kamu mau melakukan pekerjaan untuk saya?”
“Apa pekerjaannya berbahaya, Pak?”
“Apa kamu bersedia? Jika tidak silakan pergi.”
“Iya, Pak. Saya bersedia,” jawabnya dengan cepat.
” Baik. Kalau begitu, kamu catat alamat rumah ini. Dan jika ada orang yang memberikan kado atau apapun ke alamat ini, kamu segera menghubungi saya. Dan jika temanmu yang menerima kado atau apapun untuk mendapatkan alamat ini saya juga akan memberinya gaji yang sama sepertimu, sedangkan kamu akan mendapatkan bonus jika kamu segera menghubungi saya. Tapi….” Pak Efendi menghentikan ucapannya.
“Tapi, apa tuan?” Kurir itu bertanya karena penasaran dengan kata tapi yang diucapkan Pak Efendi.
Lalu Pak Efendi melanjutkan kalimat yang ditundanya. “Tapi, jika sampai ada apapun yang lolos ke alamat ini, tanpa tahu siapa pengirimnya dan melalui perusahaanmu, maka….”
“Ma-ma-maka apa, Pak?” Sang kuris kali ini benar-benar ketakutan.
“Maka anak buahku akan menemukanmu di mana pun kamu berada. Dan aku tidak akan memberitahukan konsekuensinya sebelum kamu melakukan kesalahan.”
Ucapan Pak Efendi sukses membuat jantungnya berpacu seratus kali lebih cepat dari biasanya. Dia membayangkan hal-hal terburuk yang akan terjadi padanya begitu dia melihat ke arah masing-masing dari bodyguard yang berada di sekitarnya.
Sungguh menyesal dia datang ke tempat itu. Baru sebulan bekerja di perusahaan itu, dia sudah mendapatkan masalah yang serius.
Begitu dia berhasil keluar dari tempat itu, ingin rasanya dia juga langsung keluar dari perusahaan pengiriman paket tersebut. Namun dia takut akan menimbulkan masalah lebih berat lagi.
‘Bagaikan makan buah simalakama,’ gumamnya dalam hati. Ke mana pun dia akan pergi pasti mereka akan mencari dirinya.
“Sa-sa-saya akan berusaha sekuat tenaga, Pak.”
“Ok. Kalau begitu, pulanglah. Dan ingat. Jangan sampai ada sebuah paket yang sampai ke rumah ini melalui perusahaanmu tanpa ada kabar sebelumnya darimu!”
“Ba-ba-baik, Pak.”
“Sekarang berikan nomor ponsel bos-mu.”
“Sa-saya hanya kurir biasa, Pak. Saya tidak punya nomor ponsel bos saya Pak.”
“Baiklah kalau begitu, kamu boleh pulang.”
Kurir yang ketakutan setengah mati itu pun melajukan motornya dengan ngebut setelah berpamitan dan keluar dari gerbang kediaman Dokter Dana. Sedangkan paket yang tadi dibawanya sekarang berada di tangan anak buahnya. Pak Efendi menyuruh pengawalnya agar membuka paket tersebut.
Dengan perasaan berdebar-debar salah satu pengawalnya membuka satu persatu kertas kado yang terdapat pada paket tersebut.
Keringat yang sebesar biji jagung membanjiri tubuhnya selama dia membuka paket tersebut. Hingga terbuka dan terlihatlah isi dari paket yang misterius itu.
Ternyata, isinya hanya sebuah boneka. Sedangkan paket yang lain berisi mobil-mobilan.
Pengawal yang membuka paket tersebut bersyukur, karena ternyata isinya bukan bom, atau hal lain yang bisa membahayakan.
Pak Efendi memberikan perintah lagi.
“Cepat periksa di semua sisi mobil-mobilan itu. Kalau perlu, hancurkan secara hati-hati. Begitu juga dengan bonekanya.”
Seketika pengawalnya kembali merasa pucat dan bercucuran keringat. Tapi mereka tidak berani untuk menolak perintah Bos mereka. Dan ternyata benar. Ada sebuah benda kecil yang berkedap-kedip berwarna merah.
Pak Efendi tidak menghubungi polisi, karena dia takut akan membuat berita itu menyebar dan si pengirim berkesempatan untuk melarikan diri.
Akhirnya dengan ide dari Pak Hermansyah, Pak Efendi menghubungi koneksinya yang ada di kepolisian untuk membawa penjinak bom dan sebuah benda yang dapat menekan suara ledakan bom. Pak Efendi meminta mereka secara rahasia dan agar mereka juga merahasiakan beritanya.
Setelah memperhatikan bom tersebut secara teliti, polisi memastikan bahwa bom tersebut dikendalikan dari jarak jauh. Dan bomnya sangat rumit. Jalan satu-satunya hanyalah diledakkan.
“Taruh masing-masing di dalam peredam suara,” perintah Kepala Regu mereka. Mereka pun melaksanakannya dengan hati-hati dan sangat cepat. Tanpa menunggu waktu lama, ternyata bom yang berada di dalam alat peledak bom dan peredam suara tersebut meledak, sehingga menimbulkan bunyi gemuruh dan sedikit goncangan.
“Selamat, Pak. Karena Bapak sudah berhasil menyelamatkan keluarga Bapak dari bencana yang sangat besar. Jika saja Bapak terlambat sedikit saja, maka bom ini akan menghancurkan seluruh bangunan beserta isinya,” ucap kepala regu tim penjinak bom.
Sedangkan kurir yang sudah meninggalkan kediaman Dokter Dana bagai orang yang di kejar setan. Sang kurir mamacu kuda besinya dengan sangat laju tanpa terkendali, sehingga dia terpaksa harus kehilangan nyawanya saat bertabrakan dengan sebuah mobil pikap yang datang dari arah yang berlawanan.
Berita tentang kecelakaan itu pun sampai ke telinga Pak Efendi. Karena merasa kasihan, Pak Efendi menyuruh anak buahnya untuk membantu keluarga korban. Dia menanggung biaya bulanan keluarganya sebagai bentuk pertanggung jawabannya.
Karena gagal mendapatkan orang untuk mencari informasi tentang orang yang mengirim paket ke rumahnya, jadi dia menyuruh anak buahnya untuk langsung menghubungi bos dari pemilik perusahaan tersebut.
Akhirnya bos dari perusahaan tersebut mengintruksikan kepada seluruh karyawannya agar meminta alamat orang yang akan mengirim paket atau dalam bentuk apa pun ke alamat Dokter Dana, bahkan mereka diminta untuk memperlambat transaksi agar mereka dapat menghubungi Pak Efendi dulu tanpa dicurigai.








