Seringkali manusia ingin diberkati Tuhan secara instan, cepat, limpah, luar biasa, pokoknya seperti sulap-sihir. Entah jawaban doa, kesuksesan, keberuntungan, kesembuhan, apapun itu. Tak terhitung fiksi entah literatur hingga film seakan-akan ‘menggampangkan’ semudah ‘make a wish’, membaca mantra ‘I believe in magic!’ hingga tinggal jentikkan jari ala Thanos, semua yang dimau langsung didapat atau terjadi. Tapi etapi, mengapa doa saya seringkali lama baru terjawab? Padahal saya doanya yang baik-baik, lho! Nah, iman malah goyah karena sekeliling kerap mengolok-ngolok: Kok gak ada perubahan? Di mana Tuhanmu itu? Akibatnya kita berhenti berdoa. Kita terus berusaha sendiri, enggan minta tolong Tuhan. Dia terasa jauh, asing.
Sebuah kalimat mungkin terasa usang atau klise karena seringnya kita baca atau dengar: Waktu Tuhan bukan waktu kita. Namun suka tak suka, setuju atau tidak, kalimat itu terbukti nyata adanya. Jangka waktu yang bagi kita panjang, sangat sebentar bagi Tuhan. Sebuah contoh, gajian seminggu lagi terasa begitu lama, dana mulai menipis, sementara kebutuhan harus dipenuhi. Atau utang seseorang kepada kita belum juga lunas, bahkan ia berhenti berjanji, diam-diam mengingkari. Waktu Tuhan bisa kapan saja, sementara kita kerap membatasi waktu dengan berbagai sebutan, misalnya ‘tanggal tua’, ‘jatuh tempo’ atau ‘tenggat waktu’. Waktu Tuhan yang kapan saja ini sering kita buat jadi terlambat karena ulah kita sendiri. Ah, kayaknya gak mungkin, dah! Atau, darimana uangnya, saya gak punya sumber pendapatan lain! Kata-kata (meskipun iseng) juga adalah doa, sebuah afirmasi yang didengarkan Tuhan pemilik alam semesta (juga bukan alam semesta yang kemudian bekerja, melainkan Dia!) Maka ucapkan dan tuliskanlah kata-kata baik sesering mungkin. Hindari kata-kata pesimis hingga kata-kata menjatuhkan. Apakah kemudian gak boleh berkeluh kesah? Tentu saja boleh, namun tujukanlah bukan kepada diri sendiri atau manusia, melainkan kepada Tuhan.
Sebuah contoh doa sederhana yang sering penulis panjatkan dalam diam, “Tuhan, aku merasa … (isi sendiri dengan unek-unek Anda yang panjang-lebar itu). Kuakui diriku begitu terbatas, aku tak sanggup mengatasinya sendiri. Atas kehendak-Mu, lakukanlah sesuatu. Namun bukan kehendakku yang jadi, melainkan kehendak-Mu. Amin.” Dengan demikian, apapun dan kapanpun jawaban Tuhan, hati kita sudah siap dan tak kecewa karena yakin jika itulah yang terbaik. Yang terbaik belum tentu instan, cepat, limpah atau luar biasa. Belum tentu sakit bisa langsung sembuh, kerja langsung sukses, tanding langsung menang, dan lain sebagainya. Akan tetapi pada waktu yang tepat, kita akan menyadari jika Tuhan menjawab secara luar biasa. Bertubi-tubi, nendang, unbelievable, unexpected, apapun istilahnya.
Seringkali juga, kita merasa hidup dalam sandiwara-Nya. Ibarat lagu lama (Dunia ini) Panggung Sandiwara, kita merasa ‘hanya’ jadi tokoh-tokoh yang sudah diberikan peran, ikut mentah-mentah pada skenario awal plus takdir atau ending yang begitu kaku, tak bisa diubah. Kita lupa jika masing-masing manusia memiliki free will. Ibarat buku fiksi zaman dahulu ‘pilih sendiri petualanganmu’, demikianlah kisah Tuhan untuk setiap ciptaan-Nya. Jalan cerita-Nya sudah tertulis, namun kita masih diberikan pilihan serta keputusan. Benar, plot twist-Nya kadang tak terduga. Bukan seperti sebuah prank, justru plot twist itu digunakan Tuhan untuk menguji apakah kita sabar, setia, yakin, serta siap menerima yang terbaik. “Tuhan, aku tak tahu apa maksud-Mu. Mungkin imanku begitu kecil, nyaris tak percaya karena begitu lemah diriku. Namun aku masih percaya kepada-Mu, aku tetap terhubung dengan-Mu, kupercayakan hidup rapuh ini hanya ke dalam tangan-Mu.”
Bertekunlah dalam kesesakan dan tetaplah sabar dalam doa. Percayalah jika Tuhan selalu menolong anak-anak-Nya, kesayangan-Nya, tepat pada waktu-Nya.
Semoga bermanfaat.
Tangerang, 22 September 2026









