Aku akan menemuinya. Malam ini.
Aku hanya perlu mengumpulkan sedikit keberanian terlebih dahulu.
Gedung itu gelap. Kakiku sakit, tapi aku tetap meluangkan waktu, dengan hati-hati menyedot debu setiap inci bilik kantor ini sambil menyimpan ruang kerja favoritku untuk terakhir.
Ruang kerjanya.
Aku melirik ke lorong gelap tempat pintunya sedikit terbuka, sebuah persegi panjang cahaya kuning tumpah ke karpet. Kami selalu berdua yang terakhir di sini.
Selalu. Apakah dia sengaja melakukannya?
Aku mengusap telapak tanganku yang berkeringat ke celana. Dialah alasan aku datang 45 menit lebih awal untuk membersihkan.
Itu karena senyumnya dan dorongan tulus yang dia berikan pada harga diriku yang kering kerontang.
Tengku Khairil mungkin adalah COO perusahaan ini, tetapi dia tentu tidak bertindak seperti itu. Dia tidak hanya melihat angka dan laba. Dia melihat manusia.
Dia melihatku.
Malam pertamaku bekerja di sini tiga bulan lalu, aku sangat gugup.
Ya, aku seorang entrepeneur dan aku bos diriku sendiri. Tapi tetap saja menegangkan menerima klien baru.
Terutama klien besar seperti Pangeran Kerajaan Keuangan dan Investasi.
Malam itu aku sangat ceroboh. Tanpa sengaja aku menabrakkan penyedot debu ke rak tanaman dan rak itu jatuh, menyebarkan tanah pot sejauh satu setengah meter ke segala arah.
Aku bergegas membersihkan kotoran itu, yakin akan dipecat. Kemudian aku terkejut ketika mendengar suaranya.
Tengku Khairil, di depanku.
Berdiri menjulang di atasku.
“Saya sangat berterima kasih.”
Dia menyeringai ketika aku mendongak.
“Itu tanaman terjelek yang pernah saya lihat. Sudah saatnya seseorang mengakhiri penderitaannya.”
Matanya berbinar geli.
Malam itu adalah awal segalanya. Sekarang Khairil mengunjungiku setiap malam ketika aku membersihkan di sini. Dia tinggal sampai larut malam dan mengantarku dengan mobil, dengan alasan pusat kota terlalu berbahaya bagi seorang wanita yang berjalan sendirian.
Kalau dia hanya mengkhawatirkan keselamatanku, mengapa semua pertanyaan pribadi tentang Layanan Cleaning Service Cinde-Lara-ku, kehidupan sebagai ibu tunggal, dan mainan yang disukai anak TK-ku?
Itulah yang sedang kupikirkan.
Malam ini. Perutku terasa mual.
Beberapa minggu terakhir, Paxel telah mengirimkan paket anonim ke rumahku setiap beberapa hari.
Pertama, sekotak camilan favorit kami. Kemudian truk monster untuk anakku. Tapi kemarin semuanya berubah. Aku membuka sepasang sepatu tenis Nike seharga dua juta. Pas dengan ukuranku. Dan baru-baru ini aku menyebutkan kepada Khairil tentang kakiku yang sakit.
Tiba-tiba pekerjaan rumahku selesai. Tidak ada lagi penundaan. Aku menarik napas dalam-dalam dan menuju pintu kantor Khairil. Aku melirik kotak Nike dengan amplop di atasnya. Aku pasti sudah gila.
Mengapa aku memutuskan ini adalah ide yang bagus?
Maksudku, secara realistis. Berapa kemungkinan seorang pria seperti Tengku Khairil akan tertarik pada pembantu rumah tangga? Ini mungkin bunuh diri sosial.
Aku sudah tiga langkah dari pintunya ketika aku berhenti. Kahiril sedang menelepon.
“Kau selalu membuatku tertawa, Olivia. Aku mencintaimu,” katanya. Kasih sayang menggema melalui pintu yang terbuka.
Kata-katanya membuatku terkejut. Aku menutup mulutku.
Olivia? Dia sudah punya pacar? Tentu saja! Mengapa aku berasumsi dia masih lajang?
Olivia mungkin supermodel setinggi seratus delpan puluh sentimeter yang bahkan tidak punya sikat toilet sendiri.
Khairil muncul di ambang pintu kantornya, sudah selesai menelepon. Dia tersenyum ketika mata kami bertemu. Mulutku ternganga. Aku terdiam.
Ini kesalahan besar. Aku panik, berbalik dan berlari secepat mungkin menuju lift.
“Cinde? Cinde! Ada apa? Tunggu!” Khairil memanggilku.
Aku tersandung saat berlari ke lift. Kotak sepatu Nike jatuh ke lantai di belakangku. Begitu juga amplop berisi suratku. Tapi sudah terlambat. Pintu lift menutup. Charles mengamatiku, lalu kotak sepatu itu.
Dan aku pun pergi.
Lima belas menit kemudian aku berjalan perlahan, menepuk dahiku dengan telapak tangan, ketika telepon berdering.
Khairil.
Aku menggeser layar ke kanan.
“Halo?”
“Hai.” Suara Khairil yang menenangkan memenuhi liang telingaku.
“Hai.”
Bisakah aku melebur ke udara malam dan menghilang selamanya?
“Lihat ke belakang.”
Mobil Khairilada di belakangku. Dia melambaikan tangan. Bagaimana dia bisa menemukanku secepat itu?
“Oh, hai.” Aku mencoba terdengar keren seolah-olah aku tidak baru saja mempermalukan diriku sendiri hingga menjadi culun versi 4.0.
“Saya membawa sepasang sepatu di sini. Dan saya rasa itu milikmu.”
“Maaf. Aku tidak tahu—”
“Tidak tahu apa?”
“Apakah kamu membaca suratku?”
Charles menghela napas. “Ya.”
“Kamu punya … Olivia. Aku konyol. Aku sangat menyesal.”
“Bisakah kau berhenti?”
Aku menghela napas dan berbelok ke kanan menuju taman perpustakaan. Tempat itu sepi. Charles memarkir mobilnya di belakangku dan keluar dari mobilnya sebelum aku sempat duduk.
Dia membawa kotak Nike.
Aku menundukkan kepala, berharap semoga aku mati saja.
“Saya rasa kamu menjatuhkan sepatu ini,” katanya sambil menyeringai.
“Oh. Benar. Terima kasih.”
“Apakah ukurannya pas?”
“Ya… Sepatu ini darimu?”
“Tentu saja.”
Dia mengedipkan mata. Hujan gerimis mulai turun. “Apakah kamu keberatan masuk ke mobil?”
“Oh. Tidak. Ya. Terima kasih.”
Khairil membuka pintu penumpang dan aku masuk. Dia segera masuk dari pintu pengemudi. Aroma parfumnya menguar. Jeruk pedas.
“Saya berutang maaf padamu,” katanya memulai. “Seharusnya saya berbicara dulu denganmu malam ini daripada menelepon adik saya, Olivia, untuk meminta nasihat.”
“Nasihat?”
“Ya. Begini, saya sudah berusaha mengumpulkan keberanian untuk mengajak gadis impian saya makan malam.”
“Oh.”
Khairil mengangkat tanganku dari konsol di antara kami. Bibirnya menyentuh buku-buku jariku dan perutku terasa melumer seperti agar-agar.
“Kamulah, , Cinde. Kamulah gadis impian saya.”
“Serius?” Aku kesulitan merangkai kalimat lengkap saat ini.
Khairil tertawa, lalu suaranya semakin pelan.
“Jadi. Sudikah kamu?”
“Sudi apanya?”
“Makan malam dengan saya?”
Aku mendesah, menggigit bibir bawahku. Ini benar-benar terjadi. Cinde Lara dan Tengku Khairil.
“Aku mau.”
“Dan Cinde?” Khairil mencondongkan tubuh ke sisiku, memegang wajahku dengan tangannya yang hangat.
“Ya?”
“Senang rasanya sepatu itu pas.”
Bekasi, 26 Januari 2026









