Beranda / Genre / Chicklit / Drama Queen

Drama Queen

Drama Queen

Hatimu sedang berbunga. Kekasihmu menandaimu dalam puisi indah yang dia post di media sosialnya. Tak lupa dia juga menyebutmu sebagai orang paling berharga di sepanjang hidupnya. Seketika hidupmu terasa lengkap, nyaris sempurna.

Lalu kawan-kawan berdatangan. Komentar mereka rata-rata mengagumi puisi ciptaan kekasihmu sambil mendoakan kalian berdua. Itu yang kau harapkan, kan?

“Puisi yang indah, Chakra.”

“Bang Chakra keren puisinya.”

“Beruntungnya dirimu Selenora.”

“Samawa ya, Selen.”

“Mantap bro, buruan di halalin!”

“Semoga langgeng.”

Masih banyak pujian yang kau baca dengan senyum yang tak pernah lepas dari wajahmu. Dan kau selaku nyonya terundang, ikut membalas beberapa komentar dengan hati penuh bunga, bersama kekasihmu, Chakra.

Kemanisan itu tak berhenti di sana. Kau pun segera menyusun kata-kata senada. Kau mengajak langit, hujan, dan embun untuk menjadi pemeran dalam puisimu yang penuh bunga.

Kau bahkan meniup angin, menyeret daun, memetik bintang hanya demi mengisi puisimu agar lebih bernuansa alam. Bukankah alam itu luas? Seperti rasa cintamu padanya.

Kau ingin mengesankan kekasihmu, karena itu kau segera mencari foto jari telunjuk dan jempol yang membentuk tanda ‘love’, lalu menyematkannya di bawah puisi penuh bunga milikmu. Membubuhkan emot ‘penuh cinta’ disamping nama Chakra yang sudah lebih dulu kau sebutkan.

Hal yang sama terjadi, komen berdatangan, sekadar memberi pujian atau hanya sekadar menebar sapa. Bagimu itu sudah indah. Kau menikmatinya.

Sampai sebuah komentar bernada genit dari seseakun membuat senyum lenyap dari wajah chubymu.

“Oh, ini pacar barumu, Bang? Lumayan. Pinter juga cari penggantiku.”

Seseakun itu bernama Nor Alees. Chakra tak terlihat menanggapi, itu yang membuatmu sedikit tersulut emosi.

Drama itu kembali terjadi. Kesedihan atas pengkhianatan Chakra seolah jadi warna baru di dindingmu. Puisimu bercerita tentang patah yang sebenarnya. Bahkan saat Chakra membuat puisi meminta maaf pun kau mengabaikannya. Kau hanya membiarkan dirimu larut dalam kekecewaan yang tanpa batas.

Nasihat dan saran mengalir tanpa henti. Semua berharap kau segera baik-baik saja. Bahkan di antaranya ada yang menawarkan bahu untuk bersandar, berbondong-bondong jadi cosplay sebagai penghibur dadakan. Meskipun mereka bukan pria kesepian, tapi tetap saja itu bisa jadi pundak loncatan. Begitu kan, pikirmu?

Tak perlu waktu lama bagi kalian untuk mengakhiri semua. Chakra yang kecewa akhirnya bunuh diri usai meninggalkan seuntai surat di lini masa miliknya.

“Maaf sudah mengecewakanmu.

Sampai kapan pun kau adalah satu-satunya untukku.

The one and only. 

My Lovely Selenora 💖”

Tak berselang lama, seseorang yang mengaku saudara Chakra memberitahukan bahwa Chakra sudah meninggal akibat bunuh diri minum racun serangga. Dia juga meminta maaf jika semasa hidupnya almarhum melakukan kesalahan di duta maupun dunia maya.

Kamu sudah pasti yang paling hancur. Berkali-kali merutuki diri karena tak memberi kekasihmu itu kesempatan untuk menjelaskan.

Lagi-lagi dindingmu kembali berhias kata-kata penyesalan yang dipenuhi tangis kesedihan dan puisi-puisi berisi ratapan tentang kehilangan.

Beragam tanggapan kamu terima, dari yang menguatkan hingga yang menghujat dan menyuruhmu introspeksi diri. Bahkan ada yang tega menyebutmu ‘pembunuh’ karena sudah membuat Chakra bunuh diri.

Semuanya kau terima dengan bijak, hingga sampai pada titik di mana kamu menganggah pernyataan maaf dan menyatakan “Hiatus”.

Kau merasa lelah dan segera menghentikan segala drama.

Kamu membuka aplikasi biru mengetikkan password yang ada dalam catatanmu. Kamu tak pernah lupa mencatatnya, karena kamu tak ingin jadi botak hanya untuk mengingat email dan password yang berbeda-beda.

Tak lupa kau menandai nama Chakra, saudara Chakra, dan Nor Alees sebagai ‘arsip’. Kau sudah melenyapkan jejaknya, menghapus semuanya dan menutup akunnya.

Kisah cinta bersama Chakra sudah usai. Waktunya memulai kisah baru bersama Rimba, dan dua nama lainnya sebagai pendukung cerita.

Kau bahkan sudah membuat tiga akun baru, lalu mencatat email dan password-nya di dalam memo keramat berwarna pink. Tempat penyimpanan segala rahasia para akun yang menjadi tokoh dalam drama di mana kau menjadi satu-satunya sutradara.

Bagimu, ini menyenangkan. Meski kau tak terlalu memikirkan, apakah mereka sepenuhnya percaya atau tidak dengan sandiwaramu. Mungkin lebih tepatnya, kau tidak peduli. Kau hanya ingin bermain, sekali lagi.



Patih, 7 Maret 2023 22.25

Revisi, 23 Oktober 2025 06.04

Penulis

  • Vi Vone

    Tentang penulis: Vi Vone merupakan perempuan yang besar di Surabaya, dan kini bertempat tinggal di tanah kelahirannya, Gresik. Seorang ibu rumah tangga yang mempunyai kesenangan menulis beberapa tahun belakangan ini. Baru tiga kali membuat buku antologi puisi bersama para sahabat literasi di dunia maya, dan dua buku cerita fiksi romance. Dia menyebut dirinya sebagai Penyintas Senggang. Keyakinannya adalah, "Apa yang ditulis dari hati akan sampai pula ke hati."
     

Tag:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *