Selain itu, polisi juga mengirim beberapa orang anggotanya yang menyamar menjalani berbagai macam propesi untuk mencari orang yang sudah dengan berani meneror keluarga dokter Dana yang terkenal baik dan sangat dermawan.
Keluarga tersebut sangat terpandang dan sangat disegani berbagai lapisan masyarakat. Apa lagi di kalangan masyarakat elite. Tak ada kawan dan lawan yang berani untuk mencari musuh dengan keluarga tersebut. Karena itu, kejadian ini akan diusutnya sampai tuntas. Karena menyangkut keselamatan keluarga yang sangat diseganinya.
Bahkan, Pak Efendi berniat untuk mengungkap kasus ini sampai ke akar-akarnya. Dia akan memberikan pelajaran kepada orang yang sudah berani mengusik ketenangan anak dan menantunya.
Sampai kalian lari ke lubang cacing pun aku akan mencari kalian, gumam Pak Efendi dalam hati.
Sebuah sentuhan di pundaknya dan suara lembut dari dokter Dana menghentikan amarahnya. “Ada apa ini, Pa?” Dokter Dana heran kerena dia melihat ada beberapa polisi yang memakai baju khusus dan juga anak buah beserta bodyguard papanya juga terlihat tegang dan berkeringat.
“Bukan apa-apa, Nak. Hanya ada hal kecil saja, kamu tidak perlu cemas.”
“Tapi apa ini? Kenapa ada getaran sampai ke dalam rumah. Semua orang panik. Sekarang mereka semua ada di taman belakang. Kami mengira tadi ada gempa bumi.”
Sebenarnya dia ingin merahasiakannya dari dokter Dana. Dia tidak ingin membuat anaknya cemas, apalagi sekarang anaknya sedang bahagia. Namun dia juga ingin anaknya agar lebih meningkatkan kewaspadaan dan keamanan rumahnya.
Akhirnya dia memutuskan untuk menceritakannya kepada anaknya. Agar anaknya bisa lebih waspada dalam menerima paket atau apa pun yang bisa membahayakan keluarganya.
“Jadi, Nak. Tadi ada orang yang datang mengantar paket. Setelah di periksa ternyata itu adalah bom yang dikemas dalam mainan anak-anak dengan rapi. Untung Papa dan anak buah Papa segera menyadari kalau bingkisan itu ternyata berisi bom. Makanya Papa menghubungi Polisi untuk mengusut kasus ini dan menjinakkan bom itu.”
“Astaga, Pa? Siapa orang yang sudah berani ingin menghabisi kami?” dokter Dana merasa sangat geram. Namun Pak Efendi memintanya agar dia tidak melakukan apa pun yang akan membuat si pelaku waspada.
“Jangan sampai karena amarah kita, orang itu menjadi lebih waspada dan berkesempatan untuk melarikan diri, Nak. Kita akan membuat siapa pun dia, akan sangat menyesal karena telah berani mengganggu ketenangan keluarga kita.”
“Baik, Pa. Tapi aku tidak bisa tinggal diam, Pa. Jika aku sampai tahu siapa dalang dari semua ini, aku tidak akan mengampuninya. Tapi, tunggu Pa. Jika orang itu mengirimkan bom dalam bentuk mainan anak-anak, itu berarti orang itu tahu kalau Silvia sedang hamil. Jadi kemungkinan ada mata-matanya di rumah ini.”
“Bisa jadi, Nak. Kalau begitu kita harus lebih hati-hati, Nak.”
“Iya, Pa. Aku harus lebih memperhatikan Silvia, Pa. Karena bisa saja orang itu berusaha menyakiti Silvia.”
“Itu benar, Nak. Lebih baik sekarang kamu fokus untuk menjaga kesehatan Silvia, dan jangan sampai dia mengetahui hal ini, karena itu akan mengganggu kesehatan mentalnya, akan berdampak buruk juga untuk janin yang dikandungnya,” ucap Pak Hermansyah putra membujuk Dokter Dana yang sangat emosi.
“Ya, Ayah. Aku akan merahasiakan ini dari Silvia. Tapi aku juga akan mencari tahu siapa dalang dari semua ini. Orang itu harus membayar setiap kecemasan dari keluarga kita.”
“Tidak usah, Nak. Lebih baik kamu menjaga Silvia saja. Dia sedang hamil muda. Segala hal yang akan membahayakan janinnya harus dijauhkan darinya. Papa tidak ingin terjadi apa pun terhadap calon cucu Papa.”
“Iya, Pa. Tapi aku tidak bisa berdiam diri saja, sementara di luar sana ada orang yang sedang berusaha dengan segala cara untuk menghabisi kami. Apa yang harus aku lakukan Pa!” Amarah dokter Dana kembali memuncak. Dia memegang keningnya yang terasa panas.
Seorang polisi yang sepertinya memiliki pangkat yang tinggi dan juga mengenal dokter Dana juga ikut menenangkan Dokter Dana.
“Beberapa anggota kami sudah melakukan pencarian dengan penyamaran, Pak Dana. CCTV di kantor ekspedisi juga sudah diperiksa.”
“Lalu bagaimana hasilnya, Pak?” tanya dokter Dana.
“Mahon maaf, saya belum mendapatkan informasinya lagi. Saya harap Bapak bersabar. Biarkan tim kami yang bekerja. Jangan lakukan apapun yang akan mengganggu jalannya penyelidikan kami. Dan kami akan melakukan segala upaya untuk menemukan pelakunya. Karena ini sudah termasuk tindakan kejahatan yang membahayakan nyawa seseorang,” ucap polisi itu dengan ramah dan tegas.
Dokter Dana tidak ingin berdebat dengan polisi. Dia memutuskan untuk menerima apa yang di katakan papanya dan polisi tersebut. Dia hanya mencemaskan keselamatan istri dan calon anaknya. Jika memang polisi sudah menyelidiki kasusnya lebih baik dia fokus untuk menjaga istrinya. Dia juga tidak ingin membuatnya cemas dengan memberitahukan atau menunjukkan kepanikannya di depan Silvia nanti.
Namun, ternyata, dari tadi Silvia sudah mendengar percakapan dokter Dana dengan ayahnya dan papa mertuanya. Dia awalnya hanya ingin mencari suaminya, karena dia merasa cemas dengan suaminya. Setelah membujuk mertua dan dua orang ibunya, akhirnya dia bisa berjalan sampai keluar ditemani seorang pembantu rumah untuk mencari dokter Dana sampai ke halaman depan.
Tapi bukannya takut, Silvia malah menjadi lebih bersemangat dan kepalanya yang tadi terasa pusing sekarang menjadi lebih sehat. Wajahnya menjadi lebih bersemangat dan terlihat berani seperti seorang pejuang wanita yang merasa mendapat tantangan untuk ikut mencari tahu siapa pelaku yang sudah berani ingin menghabisinya dan keluarganya.
Dia tidak bisa hanya berdiam diri saja. Dia juga harus melakukan sesuatu untuk keselamatan keluarganya. Terutama calon bayinya.







