Home / Genre / Misteri / Halte Keparat

Halte Keparat

Halte Keparat

Aku amat menyukai malam. Segala sesuatu tentangnya amat membiusku. Heningnya, sunyinya, yang terkadang masih diiringi senandung burung malam.

Begitu juga kali ini, aku menikmati perjalanan pulang dari tempat kerja. Jam di pergelangan tangan kananku menunjukkan pukul 22.30. Maklumlah, buruh sepertiku butuh uang lembur untuk menambah kebutuhan makan.

Halte ini amat sepi, hanya suara jangkrik yang menemani. Serangga itu amat setia pada malam.

Tepat pukul 22.45, dia telah duduk di sampingku. Selalu seperti itu, entah sejak kapan, aku tak mengingatnya. Dia menghiburku dengan cerita-ceritanya. Tentang anaknya, tentang cucunya, dan tentang segala hal yang dialaminya.

Kerut wajahnya semakin nampak ketika dia tertawa. Pakaiannya sederhana, dengan topi baret hitam yang sudah pudar warnanya bertengger di kepala yang sudah penuh dengan uban. Anehnya, selalu tercium aroma seperti tanah basah dan lumut yang pekat setiap dia mulai menyulut kreteknya.

Sesekali dia menghisap kreteknya sambil terus bercerita hingga akhirnya tepat pukul 23.15 dia meninggalkanku sendirian lagi. Dia selalu begitu. Tepat waktu. Padahal, kulihat dia tidak mengenakan jam.

Pukul 23.30 bus yang biasa aku tumpangi datang.

***

Malam ini tidak seperti biasanya, aku merasa ada sesuatu yang hilang. Padahal, segala sesuatu berjalan seperti biasa sejak aku berangkat pagi tadi.

Aku pulang dari pabrik pukul 21.00, karena hari ini tidak ada lembur. Pabrik sedang dalam perbaikan.

Seminggu kemudian aku baru pulang seperti biasa. Jam sudah menunjukkan pukul 22.45. Namun, dia belum muncul. Sampai bis yang kutumpangi datang, dia tak juga muncul. Aku merasa amat resah, sendirian ditemani aroma tanah basah yang entah dari mana.

Tiga hari kemudian, baru dia muncul. Itupun dengan raut muka yang lelah.

Dia duduk di sebelahku. Tapi tak seperti biasanya, kali ini dia hanya diam.

Kulirik wajahnya, matanya menerawang.

“Bapak sakit?” tanyaku pelan.

Dia menggeleng lemah.

“Bapak hanya lelah, Nak. Lelah sekali menahan semuanya.”

Aku mafhum. Namun, apa yang dilakukannya sejurus kemudian membuatku terperangah dengan jantung hampir copot.

Dia mulai memijit tangan dan kakinya. Terdengar bunyi ‘krak’ seperti ranting patah saat dia menarik perlahan tangan kirinya. Mataku membelalak ngeri melihat tangan itu terlepas sempurna dan diletakkan begitu saja di bangku halte di sampingnya. Kemudian, dia melakukan hal yang sama pada kaki, tangan kanan, dan kaki yang satunya. Setiap bagian yang terlepas menghasilkan bunyi ‘pluk’ basah saat menyentuh bangku kayu itu.

Yang terakhir, dia memegangi kedua sisi topi baretnya, menarik napas panjang, dan melepaskan kepalanya dari leher. Kepala yang diletakkan di pangkuannya itu menatap kosong ke arahku.

Aku tidak berteriak. Aku hanya terkunci. Rasa kengerian itu bukan hanya menjerat jiwaku, tapi juga seluruh saraf tubuhku.

Aku tak tahu sudah berapa lama aku duduk membeku di samping tumpukan daging dan tulang yang baru saja menjadi temanku. Saat aku akhirnya mampu berlari, bangku halte itu terasa dingin, lembab, dan … kosong.

Aku selamat, tapi aku tahu, aku tidak akan pernah bisa tidur nyenyak lagi.

***

Pagi sebelum berangkat kerja, seperti biasa aku membaca koran dan minum kopi pahit. Aku hanya sarapan telur dadar tadi.

Di kolom kriminalitas diberitakan bahwa telah ditemukan potongan tulang-belulang. Baju putih dan celana hitam yang telah compang-camping, serta topi baret hitam lusuh. Diperkirakan waktu kematiannya sekitar enam bulan lebih. Di samping tumpukan kain itu, ditemukan sebuah botol kecil Minyak Rambut Cap Kujang yang berkarat. Minyak yang selalu dia ceritakan dipakai oleh putrinya.

Kopi pahit itu tersendat di ujung lidah, tak sempat masuk ke dalam perutku.

Berarti, selama ini yang selalu menemaniku dengan cerita-ceritanya itu siapa?

Tiba-tiba, telingaku terasa berdenging. Aku mencium samar-samar aroma tanah basah dan kretek yang sangat kukenal.


Oktober ke-11, Na.


Penulis

Tag:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Arsip

Kategori

Antologi KompaK’O

Random image