Beranda / Genre / Religi / Pasar Dilanda Badai

Pasar Dilanda Badai

Pasar Dilanda Badai
1

Orang-orang yang memakan (bertransaksi dengan) riba tidak dapat berdiri, kecuali seperti orang yang berdiri sempoyongan karena kesurupan setan. Demikian itu terjadi karena mereka berkata bahwa jual beli itu sama dengan riba. Padahal, Allah telah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba. Siapa pun yang telah sampai kepadanya peringatan dari Tuhannya (menyangkut riba), lalu dia berhenti sehingga apa yang telah diperolehnya dahulu menjadi miliknya dan urusannya (terserah) kepada Allah. Siapa yang mengulangi (transaksi riba), mereka itulah penghuni neraka. Mereka kekal di dalamnya. – Q.S. Al Baqarah 275

Pasar itu berdiri di jantung kota seperti samudra yang bergejolak. Lampu neon berkedip laksana bintang palsu, dan aroma minyak goreng dan parfum berebut menguasai  udara.

Setiap kios meneriakkan janji. Setiap pedagang mengenakan senyum yang diukir dari kebutuhan.

Dia bergerak di tengah kekacauan bagai orang yang berjalan dalam tidur. Sepatu berjenama, setelan jas rapi, tas kerja penuh dengan kontrak, utang, dan angka-angka.

Dia dikenal sebagai “Sang Pembuat Hujan.” Bukan karena dia membawa kehidupan, tetapi karena dia membanjiri orang dengan pinjaman. Membasahi mereka dengan bunga riba, dan menyaksikan mereka tenggelam sementara dia tetap kering.

“Dua kali lipat dalam enam bulan,” bisiknya. “Tanpa biaya di muka. Hanya namamu.”

Dan mereka menandatangani.

Seorang janda dengan toko di pojok jalan.

Seorang ayah yang berusaha membayar obat-obatan.

Seorang pemimpi muda dengan cita-cita membuka kedai kopi.

Satu per satu, mereka datang kepadanya. Satu per satu, dia menambahkan nama mereka ke dalam portofolio keputusasaannya yang terus bertambah.

Namun suatu malam, lampu padam.

Seluruh pasar menjadi sunyi saat badai datang—bukan badai hujan, tetapi badai azab.

Langit terbelah. Kios-kios bergetar. Dan dialah satu-satunya yang tidak bisa lari.

Tas miliknya terbuka, tapi alih-alih kertas, yang keluar adalah bayang-bayang. Suara-suara orang yang hancur, kontrak yang berlumuran tinta, koin-koin yang menjerit.

Dia mencoba berbicara, berlari, berdiri. Tapi anggota tubuhnya seperti ranting patah di dalam air. DIa tersandung di arus yang tak kasat mata. Lengan melambai-lambai, bola mata berputar-putar. Seolah-olah ada kekuatan tak terlihat yang menyerangnya dari segala penjuru.

Para pedagang menyaksikan. Utang mereka telah dibayar dengan penderitaan. Rumah mereka direbut, kedamaian mereka hancur.

Sekarang mereka melihatnya sebagaimana adanya. Bukan seorang pria yang sukses, tetapi sosok hampa yang terbebani oleh apa yang telah dibangunnya.

Kemudian terdengar bisikan.

Bukan dari pasar.

Bukan dari kerumunan.

Dari dalam.

“Itu hanya bisnis,” katanya serak. “Perdagangan … Bunga … Apa bedanya?”

Namun bisikan itu kembali.

“Dan Allah telah memperbolehkan perdagangan tetapi melarang riba.”

Dan tiba-tiba, perbedaannya adalah segalanya.

***

Dalam perumpamaan yang jelas dari Surah Al-Baqarah 2:275 ini, Allah menarik garis antara dua realitas: perdagangan, yang halal dan adil, dan riba (bunga), yang dilarang dan merusak.

Orang-orang yang mengonsumsi riba tidak akan bangkit pada Hari Kiamat seperti orang lain. Sebaliknya, mereka akan bangkit seolah-olah gila. terhuyung-huyung, bingung, roboh di bawah beban perbuatan mereka.

Mengapa?

Karena mereka memperlakukan riba seolah-olah sama dengan perdagangan. Tetapi sementara perdagangan mengangkat masyarakat melalui pertukaran yang jujur, riba mengeksploitasi yang rentan, mengubah kebutuhan menjadi keuntungan.

Riba meracuni kepercayaan, mengubah kesempatan menjadi penindasan, dan meninggalkan jiwa-jiwa yang hancur dan sistem yang rusak.

Gambaran itu menghantui. Jiwa yang bergejolak, bukan karena penyakit, tetapi karena hidup dalam kebohongan. Kebohongan bahwa kekayaan tidak mengenal batas, bahwa keuntungan membenarkan kejahatan, dan bahwa keuntungan berada di atas prinsip.

Tetapi Allah mengungkapkan kebenaran. Orang-orang yang bertaubat mungkin mendapat rahmat, tetapi orang-orang yang tetap keras kepala merupakan penghuni neraka, ditakdirkan untuk tetap berada di dalamnya.

Kita hidup di dunia yang sering kali memberi penghargaan atas kelebihan dan menyebutnya kesuksesan. Tetapi perumpamaan ini mendorong kita untuk melihat dengan mata yang lebih dalam.

Ini mengguncang kita dari ilusi bahwa semua keuntungan adalah kemajuan.

Ketika kita membangun kekayaan dengan memanfaatkan keputusasaan orang lain, kita kehilangan lebih banyak daripada yang kita peroleh. Kita kehilangan kemanusiaan kita. Kedamaian kita. Kedudukan kita di hadapan Allah.

Ini bukan hanya tentang bank dan angka. Ini tentang etika yang kita jalani. Pilihan yang kita buat ketika seseorang membutuhkan pertolongan.

Apakah kita membantu mereka berdiri, ataukah kita memasang jebakan?

Gambaran orang yang tersandung lebih dari sekadar hukuman. Iu adalah refleksi.

Kalau kita pernah membenarkan kesalahan dengan mengatakan “semua orang melakukannya” atau “itu hanya bisnis,” maka ayat ini adalah cermin yang dihadapkan kepada kita.

Dan obatnya?

Belas kasihan. Tobat nasuha. Dan kembali kepada perdagangan yang adil, jujur, dan berakar pada kasih sayang.

Perenungan

1. Dalam hidup atau komunitas Anda, di mana Anda melihat garis antara perdagangan yang adil dan eksploitasi menjadi kabur?

2. Pernahkah Anda membenarkan sesuatu yang tidak etis dengan membandingkannya dengan sesuatu yang tampak serupa tetapi tidak sama?

3. Langkah apa yang dapat Anda ambil untuk memastikan transaksi keuangan Anda selaras dengan keadilan dan belas kasihan?

Penulis

  • Alexis

    Pengarang  novel Lamaran atau Pinangan? (Pimedia, 2022) dan (Deception) Ingkar Jodoh (Pimedia, 2022). Segera terbit, Penyintas Terakhir.

Tag:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *