Dokter Dana melihat Silvia yang bengong, segera menghampirinya.
Dokter bertanya, “Ada apa, Silvia? Kenapa bengong lagi? Ayamku tadi pagi mati gara-gara semalaman dia bengong kayak kamu.”
“Tidak ada apa-apa Dok. Dokter ini ada-ada saja, masa aku disamakan sama ayam. Tapi kayaknya kita diawasi, Dok.”
Seketika tawa dokter Dana pecah. Tawa yang sudah lama tidak pernah ada dalam hidupnya.
“Ha-ha-ha. Ada-ada saja kamu ini. Emang ada ya, orang kurang kerjaan seperti itu? Atau bisa jadi juga sih suamimu yang mengawasi kita.”
“Bisa jadi juga, Dok. Sebab dia curiga aku juga selingkuh seperti dia.”
“Maksudnya selingkuh denganku?” Dokter Dana menunjuk dirinya sendiri.
Silvia terdiam. Dokter Dana berusaha memecah keheningan dengan bertanya. Karena dia khawatir Silvia akan salah paham dengannya.
“Tapi kamu tidak selingkuh, kan?”
“Apa aku terlihat seperti tukang selingkuh, Dok?” kedua alisnya bertaut.
“Sama sekali tidak. Kamu terlihat sangat cantik,” ucap sang dokter setengah berbisik. Dia berdiri sangat dekat dengan Silvia.
Ucapan itu untuk sesaat membuat detak jantung Silvia berdebar kencang, walau pun pertanyaan yang dilontarkannya tidak menyambung dengan jawaban dari Dokter Dana.
“Hm, Dokter. Ayo,” ucap Silvia tersenyum ramah untuk menghilangkan kekikukannya. Dokter Dana hanya tersenyum dan membuka pintu depan mobilnya.
“Ayo masuk, Silvia.”
Setelah Silvia masuk dia juga berjalan ke arah pintu yang satunya lagi. Dia membuka pintu dan akan segera masuk, namun tanpa sengaja dia juga melihat seseorang yang memakai jaket kulit warna coklat dengan topi warna hitam sedang menguntit dari balik mobil yang sedang terparkir. Gerak geriknya seperti sedang mengawasinya.
Ternyata apa yang dilihat Silvia memang benar. Tapi kenapa orang itu mengawasiku? Apa itu orang suruhan Papa? Ada-ada saja Papa ini, gumam Dokter Dana dalam hatinya.
“Ada apa, Dok? Kenapa Dokter lama berdiri di depan pintu mobil tadi? Apa Dokter juga melihat orang yang mencurigakan itu?” tanya Silvia setelah dokter Dana masuk dan menyalakan mesin mobilnya.”
“Iya, kamu benar Silvia. Sepertinya ada seseorang yang sedang mengawasi kita. Tapi ya sudahlah, tidak usah cemas, nanti aku akan cari tahu siapa orang itu.”
Mobil berjalan melewati jalanan yang tidak terlalu ramai. Pembicaraan singkat dan santai terjadi di sepanjang jalan. Dokter Dana merasa nyaman berbicara dengan Silvia.
Sifat humoris dan lucu Silvia membuat Dokter Dana sering tersenyum dan tertawa kecil. Hingga tak terasa mereka sudah sampai di depan butik milik Boby.
“Dokter. Terima kasih banyak. Karena Dokter sudah mau repot untuk ngantarin aku.”
“Sama-sama, Silvia. Jaga diri kamu baik-baik, ya. Jangan lupa minum obat, dan satu lagi, sebenarnya ini agak pribadi, apa boleh aku utarakan?”
Dokter Dana memandang Silvia lekat-lekat. Silvia merasa kaku di tempat dia berdiri. Mukanya memerah.
Dia menunggu apa yang ingin di utarakan Dokter Dana dan berharap yang akan dikatakannya adalah sesuatu yang diharapkannya. “Te-tentu saja, Dok. Katakan saja,” ucap Silvia harap-harap cemas.
Sesaat kemudian dokter itu bicara. “ Berhenti minum obat pelangsing. Karena itu bisa berdampak buruk untuk kesehatanmu dalam jangka panjang. Maaf, aku tahu kamu mengonsumsi obat pelangsing dari tes darah.”
Silvia tertegun untuk sesaat. Pertama dia tertegun karena ternyata Dokter Dana tidak membicarakan hal yang dia pikirkan.
Dia merasa sangat bodoh karena mengharapkan sesuatu yang tidak mungkin. Kedua dia heran, kenapa Dokter Dana menyebutkan bahwa dia makan obat pelangsing. Sedangkan dia tidak pernah mengonsumsi obat itu.
“Baiklah, Silvia. Aku permisi dulu. Hati-hati, jaga diri kamu baik-baik ya?”
Ucapan selamat tinggal dari Dokter Dana menghalau lamunan Silvia yang belum sempat untuk bilang kalau dia tidak mengonsumsi obat pelangsing. Dipandangnya laju mobil Dokter Dana yang semakin menjauh.
Tanpa dia sadari sahabatnya Boby sudah berdiri di sampingnya.
“ Hm! wah, ganteng sekali gebetan barumu, Sil. Kok gak di kenalin sama aku? Apa mau rahasia lagi?”
Silvia hanya tersenyum dan meninggalkan sahabatnya itu. Dia memasuki ruang kerjanya, sedangkan Boby mengekor di belakangnya. Dia sangat penasaran dengan orang yang mengantar Silvia.
“Ayolah, Sil. Cerita, dong, ke aku. Aku penasaran nih,” rengek Boby di ruang kerjanya.
Mereka duduk dan meminum air mineral dingin yang sudah diambil Silvia dari kulkas. Boby memang sudah seperti keluarga bagi Silvia, jadi dia tidak merasa asing dan merasa sungkan berada di butiknya Boby.
Boby juga bersikap ramah kepada seluruh pagawainya, bukan hanya kepada Silvia. Tetapi memang Silvia lebih istimewa, karena dia adalah sahabat dekatnya.
“Memang kamu mau tahu banget atau mau tahu saja, Beb?”
“Mau tahu banget, dong. Kan kalau sahabatku bahagia, aku juga ikut senang. Jangan susahnya aja lu bagi sama gue.”
“Ha, ha, ha. Makasih ya, Beb. Tapi dia itu bukan siapa-siapa gue. Lu masih ingat kan? Waktu gue cerita kronologi kaki gue ini?”
“Ho oh, terus?”
“Nah dia itu papanya dari anak yang hampir tertabrak ojek yang gue tumpangin, Beb. Jadi, dia merasa bertanggung jawab atas kecelakaan yang gue alami. Maka dari itu dia membawa gue ke rumah sakit Perdana Husada. Tau gak, Beb, ternyata dia seorang dokter. Dia yang langsung menangani luka di kaki gue.”
“Oh, sekarang gue mengerti. Itu sebabnya elu berdandan secantik ini kan? Hanya untuk bertemu dokter ganteng itu.”
Suara gelak tawa bergema di ruangan itu.
“Ya, gak gitu juga kali, Beb. Memangnya gue gak boleh rapi?”
“Boleh banget, dong. Sahabat gue yang cantik dan imut.”
Boby mencubit hidung mancung Silvia dengan gemas.
***
Sementara itu di tempat lain, Pazel sedang dirundung dilema. Dia belum mendaftarkan perceraiannya secara resmi ke Kantor Urusan Agama.
Namun yang pasti dia sudah bukan suaminya Silvia lagi. Dia sudah menjatuhkan talak kepada wanita yang sudah menemaninya mulai dari dia belum punya apa-apa sampai dia sekarang memiliki pekerjaan tetap di perusahaan Agung Perkasa.
Semenjak menikah dengan Silvia dia selalu mendapatkan keberuntungan. Baginya Silvia merupakan wanita pembawa keberuntungan.
Namun setelah setahun pernikahan mereka, Silvia tidak juga hamil. Hal itu juga menjadi salah satu pemicu perselingkuhannya dengan mantan pacarnya.










