Home / Genre / Fiksi Sejarah / 12. Amanat Ya’kub Ağa dan Pesan Sultan Bayezid II

12. Amanat Ya’kub Ağa dan Pesan Sultan Bayezid II

Khairuddin Barbarossa 1600x900
This entry is part 13 of 13 in the series Khairuddin Barbarossa

1511 Masehi

Hizir Reis dan Darwis Effendi menemukan sepucuk surat dari Ya’kub Ağa yang berisi:

“Putra-putra pemberaniku, sebagai Pasukan Sipahi, inilah amanat yang kuberikan pada kalian. Busur panah dan cincin milik İlyas. Dua pedang dan belati, masing-masing milik Oruç dan Hizir. Jubah dan turban milik İshak. Jika ada yang syahid dari kalian, busur dan anak panah berikan pada Niko. Pedang dan belati berikan pada satu diantara para levent Oruç. Jubah dan turban berikan pada Piri keponakan Kemal Pasha. Ini adalah simbol perjuangan dan keadilan. Adapun panji hijau bersimbol bulan sabit, adalah panji kebesaran Utsmani di mediterania. Jagalah panji itu jangan sampai tersungkur ke tanah.”

Setelah membaca itu, Hizir menatap Darwis Effendi dengan perasaan heran.

“Apa maksud semua ini, Darwis?” Tanya Hizir.

Dengan tersenyum teduh, Darwis Effendi menjawab:

“Rahasia kalian telah terungkap. Ayahmu menginginkan kalian membantu Utsmani sebagai penegak keadilan. Pelayaran yang kalian jalani ini sebenarnya adalah pelajaran, bahwa musuh-musuh tak hanya menghalangi perjuangan di darat, melainkan di samudra luas pun mereka kerap kali menjajah umat Islam. Untuk menjaga kehormatan umat Islam, ayahmu mengharapkan kalian sebagai pejuang.”

Mendengar penjelasan Darwis Effendi, Hizir Reis terpana.

“Bukan tanpa alasan, kau dan İshak disekolahkan di Büyük Ağa Medrese kota Amasya, sementara Oruç dan İlyas disekolahkan di laut liar. Ayahmu tidak salah melepaskan İlyas bersama Oruç. Akan tetapi, takdir Allah yang harus kalian terima.” Lanjut Darwis Effendi.

“Jadi, maksud ayah ini apa, Darwis Effendi?” Tanya Hizir yang masih belum memahami arti simbol yang diwariskan oleh ayahnya.

“Kau bersama İshak, membantu Utsmani di daratan. Kau yang membawa pedang sebagai pelindung İshak yang berperan di kenegaraan.” Jawab Darwis Effendi, sambil menatap Hizir dengan memberikan jeda, agar Hizir mencerna pada kalimatnya.

Hizir pun sedikit merenungi perkataan Darwis Effendi.

“Aku mengerti, Darwis Effendi. Kakakku Oruç dan İlyas berjuang di mediterania. Pedang sebagai simbol keadilan, dan panah sebagai simbol perlawanan terhadap kezaliman.” Balas Hizir Reis.

Tapi, formasi perjuangan berubah. İlyas sudah tiada. Busur beserta anak panah yang ada di hadapan mereka tak mungkin diberikan kepada Niko. Sebab, perjuangan yang akan mereka hadapi teramat berat. Hanya orang yang memahami makna keadilan dengan baik. Sementara Niko, ia seorang Nasrani yang taat, maka hanya cukup sebagai levent saja, karena memang dirinya pun tak ingin mengambil peran lebih.

Dengan membawa simbol-simbol yang diwariskan itu, mereka pulang sambil memikirkan orang yang tepat bagi pemegang busur dan anak panah.

Di Pulau Lesbos—pada saat rumah Oruç telah menjadi puing-puing yang terbakar, ada beberapa orang yang masuk ke rumah itu untuk mencari Oruç dan istrinya, Despina. Mereka adalah Şahin Kılıçoğlu bersama beberapa ksatrianya. Şahin Kılıçoğlu adalah putra Kılıç Bey, sahabat Ya’kub Ağa. Ia diperintahkan oleh ayahnya, untuk mencari tahu kondisi Oruç, ketika suara ledakan berdentum di rumah Oruç. Pada saat mencari Oruç, Şahin Kılıçoğlu menemukan tiga jenazah yang terbakar. Dua jenazah perempuan dan satu jenazah laki-laki. Karena Şahin Kılıçoğlu tidak menemukan orang lagi di rumah Oruç, maka Şahin memerintahkan ksatrianya untuk mengirim surat kepada Hizir yang berada di Midili, bahwa Oruç dan Despina telah meninggal dunia. Selain itu, Şahin Kılıçoğlu memberi kabar kematian Oruç kepada ayahnya, Kılıç Bey. Dengan cepat, kabar duka itu menyebar ke seluruh penjuru Pulau Lesbos. Pada saat kabar duka menyebar, disana pula ada sosok yang bernama Şahbaz. Ia adalah putra Ismail I pendiri Dinasti Safawiyah. Dinasti ini telah menjadi duri dalam daging bagi Kesultanan Utsmaniyah sejak 10 terakhir ini.

Hamza, utusan dari Şahin Kılıçoğlu, sampai di Midili. Ia meminta izin kepada penjaga Pulau untuk bertemu dengan Hizir Reis. Atas izin penjaga, ia pun bertemu Hizir di rumahnya İshak Ağa.

“Hizir Reis, aku diutus oleh Şahin Kılıçoğlu untuk memberikan surat ini kepadamu.”

Hizir sedikit terkejut mendengar perkataan Hamza, kemudian menatap Darwis Effendi.

“Surat apa ini, Hamza?”

“Tentang Oruç Reis dan Despina.”

“Semoga kabar baik.” Balas Hizir Reis.

Hizir pun membuka surat itu. Pada saat membacanya, ia begitu terkejut dan merasa tak percaya.

“Apakah benar yang ditulis oleh Şahin Kılıçoğlu, Hamza?” Tanya Hizir sedikit tegang.

“Ada apa, putraku?” Tanya Darwis Effendi.

Kemudian, Darwis mengambil surat itu dari tangan Hizir. Pada saat membacanya, ia pun terkejut.

“Benar, Hizir Reis. Semalam ada yang menyerang rumah kakakmu. Aku membawa anak panah ini barangkali engkau mengenalinya.” Jawab Hamza.

Hizir pun mengambil anak panah itu. Ia melihat anak panah tersebut dengan seksama. Pada saat melihat bulunya, ia mengenalinya. Karena bulunya berwarna warna hitam merah.

“Ini anak panah Pasukan St. Jon of Rhodes.” Kata Hizir.

St. Jon of Rhodes adalah tentara yang sama dengan St. Jon of Jerusalem.

“Darwis Effendi, aku akan pergi menuju Lesbos bersama Hamza.” Kata Hizir.

Darwis hanya mengangguk, kemudian Hizir segera berangkat menggunakan perahu yang digunakan oleh Hamza.

***

Di Ibu Kota, tepatnya di Istanbul, Sultan Bayezid II memberitahu kepada İshak Ağa, bahwa ia harus menjaga Pulau Lesbos dengan sebaik-baiknya sebagaimana amanat ayahnya, Ya’kub Ağa.

“Jangan biarkan Pulau Lesbos berada dalam kesengsaraan, terlebih lagi jatuh ke tangan orang-orang kafir.” Kata Sultan Bayezid II kepada İshak Ağa.

İshak Ağa diam dan mengangguk mendengar pesan dari Sultan Bayezid II.

Sultan Bayezid II mengambil stempel dan panji Kesultanan Turki Utsmani sebagai tanda resmi atas dipilihnya İshak Ağa menjadi gubernur Pulau Lesbos.

“Kau aku tunjuk menjadi gubernur Pulau Lesbos. Berlaku adil disana dan jangan melanggar amanat sebagai pemimpin. Semoga membawa kebaikan.” Lanjut Sultan Bayezid II seraya memberikan stempel dan panji Kesultanan Utsmaniyah kepada İshak Ağa.

İshak Ağa menerima amanat itu, dan berjanji akan menjalankan sesuai pesan dan titah Sultan Bayezid II untuk berlaku adil di Pulau Lesbos.

Khairuddin Barbarossa

1. Poseidon Memberi Petaka Bagi Oruç

Penulis

Tag:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Arsip

Kategori

Antologi KompaK’O

Random image