Home / Genre / Romansa / Cinta Kedua & Terakhir: Bab 29

Cinta Kedua & Terakhir: Bab 29

CINTA KEDUA & TERAKHIR
This entry is part 30 of 30 in the series Cinta Kedua & Terakhir

“Dok. Sudah sore. Aku balik dulu, ya?”

Waktu terasa sangat cepat. Padahal Silvia baru saja bermain dengan Kaila. Andai saja dia tidak ada janji dengan ayahnya untuk acara makan malam dengan keluarga Efendi, tentu dia akan berlama-lama di rumah Dokter Dana untuk bermain dengan Kaila.

“Baiklah. Mari, saya akan antar kamu pulang.”

“Antar ke butik saja, Dok.”

“Kenapa gak sampai ke rumah? Tenang saja, aku gak bakalan nginap di rumah kamu.”

“Bukan begitu, Dok. Masalahnya kalau Dokter mengantarku sampai ke rumah, takutnya tetanggaku pada ribut, Dok. Tetanggaku super usil.”

(Maafkan aku para tetangga. Aku gak ada maksud untuk menjelekkan kalian. Semoga kalian mau memaafkanku. Aamiin.)

“Kenapa, kamu? Habis berdoa?”

Dokter Dana heran melihat Silvia menangkupkan kedua telapak tangannya ke mukanya seperti orang yang habis berdo’a.

Silvia berdiri sambil cengengesan.

“He, he, nggak, Dok. Eh iya, Dok. Aku berdoa semoga kita terhindar dari fitnah dan dosa.”

“Hmm, dasar kamu. Bisa aja ngelesnya,” dokter Dana mencubit hidung mungil Silvia. Mereka berdiri berhadapan. Dokter Dana memandang lekat wajah cantik Silvia.

Tanpa sadar tangannya bergerak merangkul pinggang kecil Silvia. Membelai rambutnya dan mendekatkan wajahnya lebih dekat lagi.

Hingga mereka saling merangkul dan Dokter Dana mencicipi bibir seksi Silvia dengan penuh kasih sayang.

Mereka hampir terbawa suasana semakin jauh. Tapi Silvia segera melepaskan diri dari Dokter Dana. Dia mengatur napasnya yang terengah-engah.

“Maaf.”

Cuma kata itu yang terucap dari bibir Dokter Dana. Tapi dia tidak menyesal telah melakukannya, karena perasaannya terhadap Silvia benar-benar tulus.

Silvia hanya menunduk. Dia membetulkan bajunya yang berantakan.

Dokter Dana menghampirinya dan tiba-tiba memeluknya dengan erat.

Dia kembali memegang leher Silvia dan mencumbunya. Dia menciumi bibir dan lehernya.

“Aku sangat mencintaimu Silvia. Menikahlah denganku,” ucapnya terengah-engah.

Silvia tak kuasa menolak cumbuannya. Tapi dia harus menolak ajakan menikah dari Dokter Dana. Dia sudah terikat janji dengan Efendi.

“Maafkan aku, Dokter. A-aku tidak bisa menerima lamaranmu. Karena aku sudah dijodohkan.”

Seketika Dokter Dana menghentikan cumbuannya yang sudah sampai di dadanya.

Seleranya untuk bercumbu mendadak hilang.

“Dijodohkan? Kenapa kamu dijodohkan? Dengan siapa?”

“Dengan anaknya Om Efendi.”

“Apa! Efendi siapa?”

“Om Efendi Kusuma. Pemilik Perusahaan terbesar dan Rumah Sakit Perdana Kusuma.”

“Oo, apa kamu sudah kenal dengan orang yang akan dijodohkan denganmu itu?”

“Sebenarnya belum, tapi aku sudah berjanji untuk menerimanya. Keluarga kami sangat berutang budi dengan beliau. Jadi aku tidak bisa menolak perjodohan ini, Dok.”

Mata Silvia mulai memanas. Dia juga sangat mencintai Dokter Dana, tapi dia harus mengubur perasaan itu dalam-dalam.

Dokter Dana terlihat sangat tenang. Melihat ekspresi Dokter Dana, Silvia merasa cintanya hanya bertepuk sebelah tangan.

Mungkin yang dia ucapkan tadi hanya basa-basi saja. Memang laki-laki semuanya sama saja, pikirnya.

Air matanya akhirnya jatuh juga. Tapi kali ini bukan karena cintanya yang harus dia pendam, namun karena kekecewaannya atas ekspresi yang ditunjukkan Dokter Dana.

“Kalau begitu, selamat atas perjodohanmu, Silvia. Jika kamu mengundang aku dan Kaila, kami pasti datang di acara pernikahanmu.” Senyuman manis Dokter Dana semakin menambah luka hati Silvia.

Secepat itukah perasaanmu berubah, Dok? Dia membatin dalam tangisnya. Baru tadi dia mencumbu Silvia dan melamarnya, sekarang dia sudah bisa mengikhlaskan dia untuk menikah dengan orang lain.

Mulut laki-laki memang tidak bisa dipercaya. Sama seperti Bang Pazel. Tangisnya makin menjadi.

“Kenapa menangis, Silvia? Sebentar lagi adalah hari yang paling bahagia untukmu. Kamu harus siap menempuh kehidupan yang baru, dan aku juga akan sangat bahagia bila melihatmu bahagia.” Dokter Dana memeluk dan membelai rambut Silvia.

“Secepat itukah Dokter bisa mengatakan cinta dan mengakhirinya?” Silvia membenamkan wajahnya di dada bidang Dokter Dana dan meremas punggung bajunya. Tangisnya terisak.

“Kamu masih ingat apa yang aku katakan waktu kamu mengetahui perselingkuhan mantan suamimu?” Senyum kemenangan di sembunyikannya saat dia berhasil membuat gadis pujaannya menangis.

Silvia langsung mengingat kata-kata Dokter Dana waktu itu. Bahwa semua yang kita miliki di dunia ini hanyalah titipan dari Yang Maha Kuasa.

“Iya, Dok. Aku ingat. Tapi a-aku sudah terlanjur merasa nyaman dengan Dokter. Rasanya sakit banget jika harus bersama dengan orang yang belum aku kenal dan menjauh dari orang yang aku sa-sayang.”

Tatapan Dokter Dana begitu lembut. Dia membelai rambutnya dan menghapus air matanya.

“Jangan menangis. Mungkin ini sudah takdir. Kita harus menerimanya dengan ikhlas.”

“Apa Dokter benar-benar mencintaiku?” dahinya berkerut melihat keikhlasan di mata Dokter Dana.

“Sangat-sangat mencintaimu.”

“Lalu kenapa Dokter secepat itu mengikhlaskan aku?”

“Karena itu takdir Tuhan. Siapa yang dapat menolak takdir dari Yang Maha Kuasa?”

Silvia menutup mukanya dengan kedua telapak tangan. Air matanya sangat sulit dia hentikan.

“Bersihkan wajahmu. Aku akan mengantarmu sampai ke butik.”

Dokter Dana menyerahkan sekotak tisu. Lalu dia berjalan keluar dari kamar Kaila menuju ruang tamu. Senyum di wajahnya tak henti-hentinya mengambang.

Sedangkan Silvia masih sesenggukan menahan tangisnya. Cintanya yang tumbuh begitu subur terhadap Dokter Dana harus dia buang jauh-jauh hanya demi mengabdikan dirinya untuk orang yang sudah menyelamatkan hidup ayahnya.

Tak adakah sebuah pilihan untuknya? Silvia sungguh merasa hancur sekali lagi. Dia harus merasakan kehilangan lagi, meski dengan cara yang berbeda.

Sekuat apa pun usahanya untuk berhenti menangis, namun cairan bening itu tak mau berhenti mengalir.

Sesakit inikah rasanya mencintai seseorang yang tak mungkin bisa bersatu denganku? batinnya merintih.

Apa pun yang terjadi adalah pilihannya. Tidak ada seorang pun yang memaksanya. Namun entah kenapa hatinya tidak rela meninggalkan orang yang sudah menanamkan rasa cinta di hatinya.

Rela tak rela dia harus rela.

Ini adalah pilihanku. Aku harus memenuhi janjiku kepada Om Efendi Kusuma. Mungkin ini sudah jalan dari Allah Yang Maha Esa.

Dia pun berhasil memantapkan pilihan hatinya untuk memenuhi janji yang dia buat. Jika seseorang bisa dengan mudah mengatakan cinta dan mengakhirinya pula dengan cepat, itu bukanlah orang yang baik untuknya.

Cinta Kedua & Terakhir

Cinta Kedua & Terakhir: Bab 28

Penulis

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Arsip

Kategori

Antologi KompaK’O

Random image