Home / Fiksi / Cerbung / 22. Masa Kelam

22. Masa Kelam

SEBIRU LANGIT CASABLANCA - SATYA PADMA
This entry is part 23 of 23 in the series Sebiru Langit Casablanca

Tubuh Lamyya terasa lemah. Badannya begitu tiada daya menghadapi beberapa hal yang berhubungan dengan masa lalunya akhir-akhir ini. Keinginan Youssef bertemu ayah kandungnya begitu menggebu. Lamyya menyadari semuanya. Masa lalu yang takkan mungkin terulang lagi.

Satu per satu kenangan Lamyya muncul di benaknya. Perjumpaannya dengan Leon kala itu, saat umurnya baru menginjak dua puluh satu tahun, Lamyya membantu usaha orang tua angkatnya di tengah kota Tunisia yang sedang berkembang. Mereka tidak hanya berdagang, tetapi juga membuka usaha untuk Lamyya yang gemar menjahit.

Bahkan, salah satu pelanggan mereka adalah orang dari golongan atas.

Dari sinilah awal mula perjumpaan Lamyya dengan Leon terjadi. Leon menjadi pelanggan tetap Lamyya karena kualitas jahitannya yang bagus. Tidak hanya itu, Leon juga sering memberikan hadiah-hadiah kepada Lamyya atas jasa-jasanya. Terkadang, Leon datang menemui Lamyya bersama ibunya yang juga sangat menyukai Lamyya. Kepiawaian Lamyya rupanya menarik hati ibu Leon. Dia tak keberatan ketika putranya mengutarakan isi hatinya tentang perasaannya kepada Lamyya.

“Kau sungguh-sungguh ingin menikahi gadis itu?” tanya Bernadeta, ibu Leon.

“Iya, Ibu. Aku sungguh-sungguh ingin menikahinya.  Tidak hanya menjadikannya kekasih.”

“Apa yang membuatmu begitu menginginkannya, Nak?”

Leon diam beberapa saat, kemudian tersenyum lagi ke arah ibunya dan berkata, “Hampir semua yang ada di dirinya aku suka, Ibu. Lamyya gadis yang luar biasa. Aku yakin, dengannya nanti aku akan mendapatkan kebahagiaan.”

“Baiklah. Tapi kau juga harus utarakan maksudmu pada ayahmu.”

“Tentu saja, Ibu. Ayah pasti tidak akan menghalangi apa yang menjadi keinginanku,” jawab Leon penuh percaya diri.

Akhirnya Leon mengutarakan maksud dan tujuannya menikahi Lamyya kepada ayahnya, Mauro. Ekspresi wajah Mauro seketika berubah. Tatapannya begitu tajam ke arah Leon

 “Kau sudah kehilangan akal, Leon, ” kata Mauro berapi-api, “aku takkan pernah mengizinkanmu menikah dengan gadis itu. Dia berbeda dengan kita. Kau tahu?”

Leon tidak tinggal diam. Dengan berani ia menjawab ucapan dang ayah, “Tidak, Ayah. Dia sama dengan kita. Dia tidak ada bedanya dengan kita. Dan yang paling penting adalah karena aku mencintainya.”

Mauro kian murka. “Aku tidak akan pernah setuju! Dan jangan harap kau dan dia akan bersatu. Kau paham itu, Leon?” nada kesombongan begitu melingkupi hati Mauro.

Leon dan Lamyya yang sudah sama-sama jatuh cinta akhirnya menikah di bawah tangan dengan seizin orang tua angkat Lamyya dan ibu Leon.  Mauro tidak pernah tahu hal pernikahan mereka. Leon melakukannya dengan sangat rapi.

Beberapa bulan berlalu. Tanpa terasa kini Lamyya tengah mengandung buah cintanya bersama Leon. Keduanya begitu bahagia.

Akan tetapi, kebahagiaan itu tidak berlangsung lama. Mauro rupanya mengendus rahasia itu dan mendatangi Lamyya bersama orang tuanya.

“Anda mencari siapa, Tuan?” sapa Lamyya kepada Mauro di depan toko milik orang tuanya.

“Aku mencarimu. Kau Lamyya, bukan?” tanya Mauro dengan tatapan mata dingin.

“Benar. Anda siapa?”

“Hmmm…rupanya suamimu tidak pernah bercerita tentang aku.”

“Suami saya? Leon?” Lamyya penasaran.

“Tentu saja.”

“Kau tahu siapa Leon?”

Lamyya menggeleng. “Saya tidak tahu, Tuan.”

“Sekarang kau akan tahu jika Leon itu adalah putraku.”

Lamyya tersentak. Tak menyangka jika pria yang ada di hadapannya adalah ayah mertuanya. Ayah dari Leon, suaminya.

“Ja-jadi, Anda….,” Lamyya terbata. Tak tahu harus berkata apa. Dia tak menyangka jika ternyata ayah mertuanya akan datang menemuinya.

“Di mana putraku?”

“Dia bekerja, Tuan.”

“Aku ingatkan padamu, batalkan pernikahanmu dan putraku!” perintahnya diiringi nada tinggi.

Ucapan Mauro menghantam dada Lamyya. Ada nyeri terasa di sana.

“Apa? Dibatalkan?”

“Ya. Batalkan pernikahanmu dengannya, atau kau akan menyesal nanti!” ancam Mauro.

“Tidak! Kami takkan pernah berpisah dan jangan pisahkan kami.”

“Aku bisa berbuat apa saja yang aku mau.”

“Takkan mungkin. Anda lihatlah ini!” Lamyya menunjuk ke arah perutnya yang mulai terlihat membuncit.

“Ini adalah calon cucu Anda. Apakah Anda tega ingin memisahkan anak dari ayahnya?” protes Lamyya setengah mengiba.

“Cucu? Hah! Jangan harap aku akan menerimanya sebagai cucuku. Kau tahu, bahkan Leon pun tidak aku aku izinkan memikahimu. Aku sudah punya calon istri untuknya yang sejajar dengan kami. Kau paham?”

Hati Lamyya begitu nyeri mendengar ucapan Mauro. Dia tak menyangka jika jalinan cinta kasihnya dengan Leon akan seperti itu. Kebencian Mauro terhadap dirinya dan juga calon bayinya terlihat begitu kentara.

Mauro tidak mudah luluh hatinya. Justru dengan keadaan Lamyya yang tengah berbadan dua, ini adalah kesempatan baginya untuk memisahkan putranya dan Lamyya. Dan…hal itu pun Leon lakukan  Dia menyuruh orang-orang suruhannya agar segera kembali ke Spanyol serta membawa paksa Leon yang berat hati tidak ingin meninggalkan Lamyya dan calon bayi mereka.

Air mata Lamyya berderai. Puluhan tahun, Youssef hidup tanpa merasakan kehadiran dan sosok seorang ayah dalam hidupnya. Namun, dia memiliki kakek yang menempanya menjadi seorang pria sejati.

Sang kakek berkata bahwa ayahnya sedang pergi bekerja dan suatau saat akan kembali menemuinya. Benar saja. Pertemuan antara Leon dan Youssef pada akhirnya akan terjadi.

Sebiru Langit Casablanca

1. Di Mana Pria Itu?

Penulis

  • Satya Padma

    Satya Padma adalah penulis yang masih terus belajar. Salah satu karyannya yang sudah terbit adalah Sang Elang dari Mesir (SEDM)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Arsip

Kategori

Terkini

Sirna

Sirna

22. Masa Kelam

22. Masa Kelam

Eksperimen

Eksperimen

Putri Pewaris Mafia: Bab 25

Putri Pewaris Mafia: Bab 25

Cinta Kedua & Terakhir: Bab 36

Cinta Kedua & Terakhir: Bab 36

Antologi KompaK’O

Random image