Home / Genre / Chicklit / Kisah Seekor Iguana

Kisah Seekor Iguana

Pria Iguana

Kisah Seekor Iguana

Rosa Lani memperhatikan sepasang suami istri lansia membuka bungkus dan memotong burger yang baru saja disajikannya. Wanita itu mengangkat roti yang berisi biji-biji, dan pria itu mengupas acar. Mereka berbisik-bisik sambil bekerja.

“Andai saja Pria Iguana dan aku bisa berbagi burger seperti itu,” Suara melengking Jaffa diikuti oleh desahan yang dibuat-buat.

“Pergi sana!”

Sejak kapan kakaknya bisa membaca pikirannya?

“Kita tidak akan pernah mendapat untung kalau kau menatap tajam ke arah pelanggan dan menakut-nakuti mereka.” Jaffa meraup segenggam keripik tortilla dan memasukkannya ke dalam mulutnya.

“Begitu juga kalau kamu terus-terusan memakan keuntungan kita.”

Rosa pindah ke area persiapan, memilih pisau koki, dan mengambil tomat merah besar dari keranjang pasar. Dia mengucapkan doanya pada setiap irisan. Bisnis yang sukses. Kesehatan yang bagus. Mama dan Papa. Bahkan Jaffa—hampir setiap hari.

Dia tidak perlu menarik perhatian pria menawan yang datang ke restoran setiap Selasa dan Jumat.

Ketika lonceng sapi yang terhubung ke pintu depan berdenting, denyut nadinya meningkat. Dia tidak mendongak, tetapi tangannya membeku.

“Rapikan rambutmu, Dik, Pria Iguana datang.”

Jaffa melangkah maju.

Rosa mengambil tomat lain dan mengirisnya dengan kecepatan dua kali lipat. Lalu yang lain lagi.

Haruskah dia keluar? Merapikan rambutnya? Berpura-pura dia tidak ada?

Sambil memukul pisau ke talenan, dia menyeka tangannya dengan kain lap basah. Menggunakan pantulan baja tahan karat dari pintu masuk, dia menyelipkan helai rambut hitam panjang yang memberontak ke dalam ekor kudanya.

Rosa menyelinap ke ruang makan dan menyeka kain pemutih di atas meja yang ditinggalkan pasangan tua itu. Dari sudut matanya, Rosa bisa melihatnya.

Rambut dipotong cepak, kacamata berbingkai gelap, rahang kuat, kemeja denim, dan celana jins gelap. Seekor iguana bertengger di bahu kirinya. Denyut nadinya berpacu. Bukan karena iguana, tapi karena pria itu. Imajinasinya melanglang buana.

Dering timer terdengar dari bagian belakang.

Jaffa melirik ke arah pelanggan dan dapur.

“Rosa, bisakah kau—?”

“Key.” Dia telah melayani pria itu berkali-kali sebelumnya. Mengapa hari ini harus berbeda?

 Dia pindah ke meja depan dan mencengkeram bagian bawah meja. Memegangnya erat-erat. Apa pun untuk menjaga tangannya agar tidak gemetar.

“Mau pesan apa?”

“Apakah terlalu cepat untuk meminta yang biasa kupesan?” Dia menyeringai.

“Burrito Daging Sapi Cabai Hijau?”

Dan minuman bersoda dan Kriwil—kentang goreng keriting versi mereka—tetapi dia tidak bisa memberi tahu pria itu bahwa dia tahu. Menyeimbangkan layanan yang luar biasa dengan yang tidak terlalu menyeramkan itu sulit.

“Jangan lupa minuman bersoda dan Kriwil.” Suara bariton Pria Iguana membangkitkan gambaran pendakian matahari terbit ke kaki bukit Pico Duarte. Pasti dia mengambil sendiri iguananya di Karibia.  

Hewan di pundaknya menganggukkan kepalanya yang berbentuk baji seolah setuju.

Hembusan angin menerjang pintu depan dan menghantamnya ke dinding bata. Lonceng sapi itu jatuh.

Cakar tajam menancap di kemeja Pria Iguana. Ekor biru-hijau bergoyang. Lengan dan kaki mungilnya bergerak seperti kincir angin. Tiga kaki reptil itu mendarat di atas meja kasir, meluncur melalui jendela pesanan, dan menghilang ke dapur.

Rosa menjerit.

“Noa!” Pria Iguana berlari ke dapur. “Ke mana dia?”

Jaffa menunjuk.

“Dia biasanya tidak lari seperti itu.” Pria Iguana memeriksa di bawah rak logam.

“Pintu kami yang terbanting juga yang pertama.”

Pria Iguana berputar-putar.

Tidak ada. Tidak ada suara kaki mungil. Tidak ada ekor bersisik.

“Mungkin lorong—”

Rosa dan Pria Iguana bertabrakan di lorong sempit.

“Maaf.” Dia memegang lengan Rosa.

Rosa goyah, mencium aroma daun salam dan kayu manis.

Oh, jantungnya mengamuk!

“Noa nama yang tidak biasa.”

“Kanoa. Artinya ‘Yang Merdeka’. Kukira aku akan mendapatkan jantan.”

“Bayangkan, sulit untuk membedakannya.” Rosa terkikik.

“Tidak pada usia ini, tetapi waktu masih bayi? Bisa jadi.”

Rosa mendorong pintu ruang penyimpanan yang setengah terbuka dan menyalakan lampu. Suara derap pelan memudar dalam ruangan. Ekor berwarna biru kehijauan itu menghilang di bawah lemari es besar.

“Noa, sini.” Pria Iguana berlutut dan memanggil lagi.

“Berhasil?”

“Biasanya. Punya tomat yang akan kau korbankan? Itu kesukaannya.”

Rosa bergegas ke dapur, memasukkan tomat yang baru dipotong ke dalam kotak makan siang sekali pakai, dan kembali.

“Siapa yang harus kuucapkan terima kasih karena telah membantuku?”

“Aku hanya membantu sedikit.”

Rosa merunduk di sampingnya. Yang bisa dia lihat hanyalah satu mata kuning kecil di bawah rak.

Pria Iguana menyenggol bahu Rosa dengan bahunya dan mengaitkan ibu jarinya ke dadanya.

“Yussouf Mukhliz.”

Rasa panas menjalar ke pipinya.

“Rosa. Aku Rosa.”

“Aku ingin bertanya sesuatu, tapi kau jadi sangat sibuk setiap kali aku datang.”

Aidan tersenyum sumbang. “Dan partnermu?”

“Jaffa.”

“Dan Jaffa adalah—?”

“Dia mitraku.”

Sebuah gerakan menarik perhatiannya.

“Dia tampak tertarik.”

“Aku tahu aku tertarik.”

Yussouf memindahkan keranjang lebih dekat ke lubang.

Rosa melirik ke arah Yussouf, tapi pria itu fokus pada reptil yang merayap perlahan menuju potongan tomat.

“Yang mau aku tanyakan, kau dan Jaffa pasangan kekasih?”

“Ugh, bukan! Jaffa adalah kakakku.”

Bahu Rosa terkulai. “Aku biasanya tidak sebodoh itu.”

“Kabar baik.”

“Bahwa aku tidak sebodoh itu?”

“Bahwa dia adalah kakakmu.”

Moncong berbintik abu-abu muncul dari kegelapan.

“Matanya sangat ekspresif.”

Rosa berdiri dengan sikunya. “Apakah sulit melatih iguana?”

“Hanya berbeda. Memelihara iguana tidak seperti memelihara anjing.”

“Apa bagian terbaiknya?”

“Dia membantuku bertemu gadis-gadis.”

“Ya.”

Rosa memaksakan tawa setengah hati, lalu bangkit berdiri. Semua mimpinya mengempis seperti balon iklan di akhir Bazar Festival UMKM Kabupaten.

“Kamu sudah bisa menangkapnya, aku akan—”

Rosa mengangguk ke arah restoran.

“Tunggu!” Yussouf berdiri. “Yang lebih penting, dia mencairkan suasana denganmu.”

Rosa melangkah mundur, takut untuk berharap.

“Seorang pria hanya bisa makan burrito dalam jumlah tertentu.”

“Jaffa makan burrito paling tidak dua sehari.”

“Bukan ide yang buruk. Kalau itu berarti aku bisa lebih sering bertemu denganmu.”

Rosa melangkah lebih dekat. Bibirnya terbuka, tetapi tidak ada suara yang keluar.

“Kamu ngomong apa?”

Suaranya serak. Dia batuk dan mencoba lagi.

“Apakah kamu mengajakku kencan?” Seolah-olah seseorang mengangkat balonnya tinggi-tinggi, dan mulai mengisinya kembali.

“Karena kau bekerja di restoran, aku berpikir untuk mendaki.”

“Di kaki bukit?”

“Saat matahari terbit.”

Noa mengunyah irisan tomat yang berair. Senyum nakal tergambar di wajahnya.

“Aku akan membawa burrito.” Api pun menyala, dan balon Rosa pun naik membumbung tinggi.

Bekasi, 7 Juni 2025

Tag:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Arsip

Kategori

Terkini

Bab 13. Serangan (Part 1)

Bab 13. Serangan (Part 1)

Pintu

Pintu

Menjadi Penulis: 6 Aturan untuk Sukses dalam Menulis

Menjadi Penulis: 6 Aturan untuk Sukses dalam Menulis

Untuk Mati

Untuk Mati

Cinta Kedua & Terakhir

Cinta Kedua & Terakhir

Antologi KompaK’O

Random image