Home / Fiksi / Humor / Kuil Kata-Kata

Kuil Kata-Kata

Kuil Kata-Kata

Aku masuk ke bilik pengakuan dosa dan duduk di atas bantal hijau pucat. Tempat itu damai, harum aroma kayu yang diminyaki, para wanita tua yang bersih, dan tradisi ribuan tahun.

Di sebelah kananku, tempat siluet seorang pendeta akan muncul, terdapat layar indah dari ukiran kayu filigran yang rumit. Sebelum dia tiba, aku merasakan ketenangan yang tak tertandingi di dunia ini.

Pendeta itu muncul. Dari suaranya, aku bisa tahu dia lebih muda dari yang kuharapkan. Seperti tradisi, aku memulai sesi.

“Ampuni aku, Pendeta, karena aku belum menulis.”

“Sudah berapa lama, anakku?”

“Sulit untuk mengatakannya. Aku pergi ke laptop setiap hari, tetapi sebagian besar waktuku dihabiskan untuk bermain game, menulis email panjang kepada orang-orang yang hampir tidak kukenal, dan terkadang masuk ke situs penulisan atau melihat-lihat cerita yang sudah kutinggalkan bertahun-tahun lalu.”

“Sudah berapa lama sejak kau mengerjakan sesuatu yang baru?”

“Enam bulan.”

Pendeta itu menyesuaikan posisi duduknya di bantal dan berdehem sebelum menjawab.

“Seringkali penulis tahu apa yang menyebabkan hambatan, mereka hanya perlu menghadapi masalah dan mengatasinya. Menurutmu apa yang mungkin menjadi bagian dari masalah itu? Apakah kamu makan dengan baik? Berolahraga? Memiliki pikiran seksual yang mengganggu?”

“Kurasa sebagian besar masalahnya adalah aku mulai mempunyai … yah, ehm … keraguan.”

Pendeta itu mencondongkan tubuh ke depan, jelas tertarik.

“Keraguan seperti apa, anakku?”

“Yah, terkadang aku ragu apakah editor dan penerbit benar-benar ada.”

Nah, sudah kukatakan.

“Tapi tentu saja keberadaan cerita yang diterbitkan membuktikan keberadaan seorang editor.”

“Mungkin. Dan mungkin ada program komputer yang menghasilkan cerita-cerita yang kita baca.”

Pendeta itu berdehem beberapa kali. Aku tak bisa menahan diri—aku terus mengoceh.

“Mungkin dulu ada editor, tetapi, dengan munculnya kecerdasan buatan, mereka dapat memprogram penulisan variasi dari semua cerita klasik. Tentu saja, itu akan lebih murah daripada membayar orang untuk menulis cerita baru.”

Pendeta itu sudah siap menjawab:

“Lalu mengapa terus melanjutkan sandiwara pengajuan dan penolakan?”

“Orang-orang suka berpikir bahwa cerita ditulis oleh manusia.”

Pendeta itu membuat tanda tenda menyerupai aksara pertama dengan kedua tangannya dengan menyatukan ujung jari di depan wajahnya.

“Fiksi lebih tentang perasaan daripada tentang pemikiran. Apakah ini yang kamu rasakan di hatimu atau hanya sesuatu yang kamu pikirkan?”

“Di dalam hatiku, aku percaya ada seorang editor dan suatu hari nanti karyaku akan diterbitkan.”

Aku bisa merasakan senyum dan cinta melalui layar kayu berukir yang rumit. Aku baik-baik saja, dan kita bisa kembali bekerja.

“Baiklah, anakku, ucapkan penebusan dosa nomor 147 selusin kali setiap malam sampai masalahnya hilang. Aku akan mengucapkannya sekali bersamamu.”

Kami melantunkan kata-kata lama yang sudah akrab bersama-sama.

“Tunjukkan, jangan ceritakan. Tulis apa yang kau tahu. Latih ketelitian. Hindari catlog.”

Pendeta itu membuat tanda Z dan mengucapkan kata-kata yang selalu mengakhiri pengakuan dosa.

“Pergilah, anakku, dan tulislah lebih banyak lagi.”

Cikarang, 25 Juli 2026

Penulis

Tag:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Arsip

Kategori

Terkini

Kuil Kata-Kata

Kuil Kata-Kata

Riak-riak Cangkir Retak

Riak-riak Cangkir Retak

Ibu ke Mana?

Ibu ke Mana?

Cinta Kedua & Terakhir: Bab 59

Cinta Kedua & Terakhir: Bab 59

Diam

Diam

Antologi KompaK’O

Random image