Pagi itu Silvia sudah bersiap untuk turun dan menyiapkan sarapan buat suami tercinta. Namun sebelum dia keluar dari kamarnya, dia dicegat oleh sang suami.
“Sayang? Kamu sudah cantik begini apa sudah tidak merasa mual lagi?” Sang suami memeluk istri tercintanya dari belakang dan mengelus perutnya.
“Alhamdulillah, Mas. Berkat vitamin dan susu hamil yang dikasih Mama, aku sama sekali tidak merasakan mual dan muntah lagi.”
Silvia berbalik seraya memegang pipi suami tampannya dan melanjutkan kata-katanya lagi. “Jadi aku boleh turun kan? Aku mau menyiapkan sarapan buatmu, Mas,” ujarnya lembut.
Dokter Dana merasa terharu dengan kata-kata istrinya, sehingga dia mengijinkan istrinya untuk turun.
“Baiklah, jika kamu memang sudah baikan, kamu boleh turun tapi bersamaku, ya? Gak boleh turun sendiri,”
“Ok. Sekarang kita turun, yuk?” ajak Silvia yang sudah tidak sabar ingin turun dan menghidangkan sarapan untuk suaminya.
“Ayok,” jawab Dokter Dana yang langsung membopong istrinya menuruni anak tangga.
Di meja makan, sudah menunggu papa dan mama dokter Dana beserta ayah, ibu dan ibu kandung Silvia. Mereka semua tersenyum melihat dokter Dana menggendong Silvia sampai ke bawah.
“Nah. Itu baru jagoan Papa,” ucap Pak Efendi tersenyum bangga melihat anaknya.
Silvia merasa salah tingkah.
“Mas Dana, apa-apaan, sih? Kan malu sama Papa, Mama dan Ayah, Ibu dan Ibu.”
“Hahaha….”
Semua orang tertawa.
Mereka sarapan pagi itu dengan suka cita.
“Ini vitaminnya,” ucap dokter Dana seraya menyerahkan sebuah pil berwarna merah kepada Silvia.
Silvia memakan pil itu. Selama trimester kehamilan dia harus memakan dan minum apapun yang disuruh suaminya. Semua demi calon si buah hati yang sedang berkembang di rahimnya. Dia tidak ingin terjadi kesalahan apa pun. Dia sangat bersyukur karena sudah diberi kepercayaan untuk memiliki seorang janin di dalam rahimnya yang selama ini dituduh mandul oleh keluarga mantan suaminya. Bahkan oleh selingkuhan mantan suaminya.
Selain itu ada misi yang harus dia selesaikan. Dia ingin mencari tahu siapa dalang dari pengiriman bom di kediamannya. Untuk itu dia harus sehat dan bayi dalam kandungannya juga harus kuat dan sehat.
Setelah selesai sarapan, Silvia minta izin untuk kembali beristirahat di kamarnya. Dokter Dana pun kembali menggendongnya. Lalu suami Silvia itu berpamitan untuk berangkat ke kantor.
Silvia mengunci pintunya dan mengambil sebuah ponsel dari dalam lacinya. Setelah menghidupkannya, dia menghubungi seseorang.
“Bagaimana? Apa sudah ada perkembangan?” tanya Silvia sambil berbaring di tempat tidurnya.
“Ya, Bu. Sudah dapat. Orang kita sudah mengirim beberapa foto, rekaman suara dan juga alamat orang yang datang ke pengiriman paket tersebut. Sekarang kita akan bergerak ke sana untuk mencari informasi lebih lanjut, Buk.”
“Ok. Aku tunggu kabar selanjutnya. Sebentar lagi aku dan Boby akan menemuimu.”
“Baik, Bu.”
Sambungan telepon di tutup. Silvia bangkit dari tempat tidurnya dan berjalan ke lemari pakaiannya untuk mengambil sebuah bungkusan. Setelah itu dia mengenakan seragam yang ada dalam bungkusan itu.
Dia melihat dirinya di cermin. Sekarang dia sudah terlihat seperti orang lain dengan pakaian seperti pengawal pribadinya. Sebuah ketukan pintu mengagetkannya.
Dia melihat layar yang ada di ponselnya. Di layar terlihat seorang perempuan berdiri di depan pintu kamar. Dia segera membukanya dengan menggunakan sebuah remot kontrol.
Wanita itu berjalan ke arah Silvia dengan tersenyum. Silvia merangkul bahu wanita itu dan mengajaknya untuk berdiri di depan cermin.
“Wajahmu persis sepertiku. Sekarang kamu akan menggantikan saya sampai saya kembali. Dan ingat jangan bicara sepatah kata pun. Karena kamu kamu bicara, kamu akan ketahuan.”
“Siap, Bu,” ucap wanita itu bersemangat.
“Sekarang kamu hanya perlu tidur, dan jangan lupa kunci pintunya sampai saya kembali.”
“Siap, Bu.”
Silvia keluar dari kamarnya dan menuruni tangga dengan tenang dan tegap. Kebetulan sekali saat itu tidak ada keluarganya yang sedang berada di tempat yang dia lewati. Hanya beberapa penjaga rumah dan keamanan yang dia temui di depan pintu gerbang.
Saat dia berhasil lolos dari gerbang rumahnya, dia segera menaiki sebuah mobil yang sudah menunggunya.
“Ayo, beb. Jangan sampai kita keduluan polisi. Sebelum polisi tahu, aku ingin memberi orang yang sudah berani bermimpi untuk menyakiti kami pelajaran. Pelajaran yang akan mengingatkan dia untuk tidak berani macam-macam dengan keluargaku lagi.”
“Ok, sahabat tersayang gue. Kita jalan. Kamu yang tenang ya, calon ponakanku?” Boby melirik ke arah perut Silvia.
“Sepertinya, Silvia yang dulu sudah kembali. Ini pasti berkat dokter Dana, kan?” ucap Boby saat mobilnya sudah mulai jalan.
“Ah, mau tahu aja lu, Beb,” jawab Silvia sambil tersenyum.
Tidak dipungkirinya, memang berkat dokter Danalah kepercayaan dirinya dan keberaniannya kembali timbul.
Kendaraan terus melaju menyusuri jalanan yang melewati gang sempit. Silvia mengerutkan keningnya dan bertanya kepada sahabatnya.
“Beb. Apa lu yakin ini jalannya?”
“Yakin banget, Sil. Ini lokasi yang dikirim orang kita.”
“Tapi, Beb. Kalau memang ini jalannya, berarti dia cuma orang suruhan.”
“Aku pikir juga begitu. Pasti ada orang lain dibelakannya. Yang jelas sekarang kita temui dulu kaki tangannya. Setelah itu baru kita korek informasi darinya.”
“Ya. Kamu benar, Beb. O, iya. Tadi aku bilang sama si Rama, kalau kita akan menemui dia di kantor. Aku mau nelpon dia dulu, biar langsung nyusul kita.”
“Hooh. Telpon, noh. Nanti dia malah ongkang-ongkang kaki di kantor. Alasannya nungguin kita.”
“Ah dasar lu Beb. Bisanya cuma suuzon aja, lu.”
Boby fokus menyetir sambil mengikuti google map. Sedangkan Silvia menghubungi orang suruhannya yang bernama Rama tersebut agar menyusulnya.
Tadi menjelang berangkat Boby mendapatkan berita dari orang suruhannya jika orang yang mengirimkan paket ke alamat rumah Silvia sudah diketahui identitas dan alamat lengkapnya.








