Pernahkah Anda membaca atau mendengar fabel tentang semut menumpang di atas rakit? Kurang lebih ceritanya seperti berikut. Beberapa hewan ingin berlayar di sungai dengan sebuah rakit bambu. Rusa, tupai, kelinci hingga beberapa ekor hewan menaiki rakit yang sudah menunggu di tepi sungai. Seekor semut ingin ikut naik padahal kapasitas rakit itu sudah mulai penuh. “Ayolah, aku hanya seekor hewan kecil yang sangat ringan. Tentu masih ada cukup tempat untukku. Takkan berpengaruh apa-apa!” Akhirnya semut naik sebagai penumpang terakhir. Tiba-tiba rakit mulai tenggelam. Para hewan pun panik berusaha menyelamatkan diri dari arus sungai.
Moral dari kisah sederhana ini kurang-lebih adalah ‘seberapapun kecil atau ringan (pengaruh) Anda, Anda dapat membuat perubahan besar.’ Demikian pula doa pribadi Anda.
Seringkali kita urung atau enggan berdoa karena merasa ‘ah, saya hanya sendirian. Doa yang Tuhan dengar ‘kan yang rame-rame dipanjatkan, bukan yang hanya saya inginkan seorang diri.’ Padahal justru doa yang sederhana saja (oleh orang yang sederhana) seringkali lebih tulus dan lebih makjleb. Kok bisa? Ibarat si semut, kecil dan dianggap remeh namun bisa ‘menenggelamkan’ seisi rakit.
Misalnya, cobalah berdoa mulai malam ini bagi Indonesia secara pribadi di kamar, mungkin yang singkat-singkat saja karena kita ngantuk, udah capek kerja seharian. Tidak seberapa ngefek pada awalnya. Mulai terasa sia-sia bahkan mengundang tawa bagi yang mendengar. Mungkin seperti Sara diam-diam tertawa saat mencuri dengar kabar baik yang dibawa malaikat-malaikat. Namun jika setia dipanjatkan setiap hari, cobalah sesekali baca berita, apakah ada perubahan terjadi? Gunung api jeda meletus, hujan rintik-rintik mulai turun, bahkan perubahan politik dadakan membuat terperangah. Pernahkah Anda kena prank, dibuat terkejut oleh jump scare atau semacamnya? Kejutan dari manusia saja sanggup bikin ‘deg’, apalagi gak selalu positif, bukan? Terlebih lagi kejutan Tuhan bagi kita, Dia sanggup menyediakan apa saja yang tak terlintas di hati hingga kepala. Mukjizat (keajaiban), keberuntungan, kesempatan emas, apapun itu, you name it.
Ibarat tetes air setiap hari di atas batu keras bisa membuatnya berlubang, demikianlah satu-dua doa kecil kita! Karena itu, jangan berhenti berdoa. Penyakit belum sembuh, push terus berdoa dengan penuh keyakinan; jika Tuhan menciptakan, Tuhan bisa ‘membetulkan’. Ibarat seorang mekanik jempolan, izinkan Tuhan ‘membengkel’ hidup kita. Masalah belum terpecahkan, obatnya bukan curhat kepada manusia. Merasa lega sesaat saja atau hanya sementara, kadang tanpa perubahan atau solusi. Bukannya masalah berkurang, bisa-bisa nambah. Mungkin jadi gosip, prasangka, hingga lahir masalah baru.
Curhatlah hanya kepada Tuhan saja! Doa remeh-temeh namun sepenuh hati itu sangat berharga. Air mata jatuh tanpa kata-kata ibarat butir berlian di tangan-Nya. Tidak suka doa ‘karena sulit menyusun kata’, bernyanyi saja, puji Tuhan lewat lagu atau musik. Jangan khawatirkan suara sumbang atau nada kurang tepat, suara Anda tidak dinilai-Nya seperti kontes idol-idolan. Jika dinilai bakat hingga penampilan, barangkali kita bagai pengamen di depan audisi Tuhan. Namun Dia mendengar, Dia menerima kita apa adanya, Dia menjawab! Itulah bukti kebesaran anugerah kasih Tuhan.
Pada saat yang tepat, doa sekecil batu umban Daud itu akan mendarat tepat pada dahi Goliat. Kapan? Tuhan sajalah maha tahu waktu dan tempat.
Semoga bermanfaat dan Tuhan Yesus memberkati.
Tangerang, 30 Oktober 2026








