Ratusan bahkan ribuan konten-konten kreator baru muncul setiap hari di Youtube, Tiktok, hingga IG reels, menebar karya di mana-mana sejak konten audio visual semakin mudah dibuat dengan menggunakan AI generatif. Bukan hanya karya visual dua dimensi atau foto/gambar saja, sekarang dengan mudahnya konten audio visual dihasilkan. Begitu banyak konten video pendek (shorts atau reels) diunggah atau di-share di internet, dengan mudah pula diunduh (di-download) dan dibagikan (reshare) oleh warganet entah via status media sosial atau postingan pribadi. Mungkin karena kagum, tersentuh, bahkan terbujuk oleh konten menarik tersebut.
Namun bukan hanya menarik atau bagusnya saja yang perlu dilirik, beberapa hal berikut perlu kita perhatikan agar tidak hanya jadi penikmat atau pengagum, bahkan hanya jadi ‘pelaksana isi’ konten yang kita baca atau tonton.
- Meski konten video terlihat meyakinkan dan informatif, belum tentu edukatif, apalagi akurat. Misalnya video atau postingan infografis tentang makanan-minuman sehat bergizi, tips olahraga, hingga berita aktual. Selidiki dulu sebelum percaya begitu saja. Selain agar lebih yakin, kita dapat memutuskan jika berita tersebut ‘cukup berhenti pada kita’ atau ‘layak diteruskan supaya lebih banyak teman tahu.’
- Walaupun sepintas lalu terlihat nyata (bukan hoaks), tahan dulu kedua jempol yang lincah mengetik itu, jangan terburu-buru ingin reshare. Cek-ricek dulu faktanya dengan menelusuri situs-media kredibel, ahli yang berpengalaman di bidangnya, atau cari tahu sendiri dulu secara mendalam (misalnya di perpustakaan atau via referensi). Kalaupun terbukti benar, saring dulu sebelum sharing. Ingatlah jika isi hingga status media sosial kita adalah cerminan wajah dan pribadi kita yang bisa turut mempengaruhi cara pandang terhadap kita. Tidak semua hal kita dapat (atau wajib) bagikan.
- Mendapatkan reshare video konten menghebohkan (misalnya tentang sakit-penyakit, peringatan bencana alam, gosip selebritis dan sebagainya), berusahalah untuk tidak panik atau latah reshare / forward kemana-mana. Selidiki dulu media massa resmi atau sumber terpercaya apakah informasi tersebut kredibel.
- Algoritma yang sengaja tak sengaja kita ikuti, hashtag yang kita ‘sukai’ turut menentukan apa yang masuk ke beranda kita. Bagaimana agar konten yang muncul di beranda bukan hanya yang menarik namun juga kita perlukan, pas di hati? Sering-seringlah browsing topik atau tema berisi, mendidik, hal-hal positif pada umumnya. Follow-lah konten-konten kreator yang tidak hanya cari viral namun inspiratif, membangun, sekaligus membawa vibes positif.
- Views yang bombastis, jumlah reshare luar biasa banyak, bahkan femes-nya si konten kreator sama sekali bukan jaminan jika isi konten yang ditelurkan sudah pasti valid adanya. Mungkin tujuan utama konten hanya hiburan, just for entertainment. Bukan sengaja nge-prank atau membuat kehebohan, seringkali pengikut setia (bahkan fanatik) si konten kreator berperan besar di baliknya, ramai-ramai reshare agar idola mereka terangkat. Jadi jangan karena si A atau B yang ngomong lantas kita berpendapat, ‘oh ya, A atau B udah pasti benar, mereka ‘kan terkenal!’
Hendaklah budaya saring sebelum sharing atau pilih-pilih bahan resharing tetap hidup. Tidak hanya karena menerima input ‘dari teman baik’ lantas langsung percaya begitu saja, tahan dulu jari hingga kita yakin ‘ini patut disampaikan kepada orang lain’.
Terakhir namun bukan paling akhir, setiap kata yang kita ucapkan dan tuliskan adalah cermin diri kita, baik di dunia nyata maupun dunia maya. Pastikan setiap komentar dan konten yang kita bagikan tidak sia-sia belaka, mampu membawa kebaikan serta berguna bagi sesama.
Semoga bermanfaat.
Tangerang, 18 September 2026








