Home / Genre / Chicklit / Cinta Kedua & Terakhir: Bab 17

Cinta Kedua & Terakhir: Bab 17

CINTA KEDUA & TERAKHIR
2
This entry is part 18 of 60 in the series Cinta Kedua & Terakhir

Sekitar jam tujuh malam, Bu Iyes, Silvia dan Tiara sudah bersiap-siap untuk pergi menemui orang yang telah menjadi penyelamat kepala keluarga mereka itu.

Mereka dijemput oleh mobil keluaran terbaru. Bagaikan sebuah mimpi yang menjadi kenyataan, saat mereka bertemu lagi dengan orang yang mereka sayangi dalam keadaan sehat dan bonusnya menjadi seorang konglomerat. Bahkan mereka tidak pernah membayangkan akan bisa menaiki sebuah mobil yang sangat mahal ini. Biasanya mereka berdesak-desakan naik angkot sekarang naik mobil mewah. Aroma harum di dalam mobil itu dihirup secara perlahan oleh ketiga orang yang baru menaiki mobil itu.

“Kita berangkat sekarang, ya,” ucap pak Herman yang masuk paling akhir.

Ketiga wanita itu tersenyum sambil mengangguk. Sopir pribadi pak Herman mulai menyalakan mesin dan memulai laju kendaraan dengan perlahan, karena mereka masih berada di area padat penduduk.

Setelah sampai di jalan lintas kendaraan itu baru berjalan agak cepat.

Sepuluh menit lamanya mereka di perjalanan.

Begitu mereka sampai, bergegas pengawal pribadi pak Herman yang berada di mobil lain turun dan membukakan pintu mobil.

Mereka memasuki sebuah restoran. Di sebuah ruangan ada meja yang ukurannya agak besar di bandingkan yang lain. Meja itu terletak di sebuah ruangan yang khusus.

Pak Herman dan keluarganya dipandu menuju ke meja itu oleh dua orang karyawan restoran. Yang satunya seorang pelayan dan yang satunya lagi seorang manajer restoran.

“Silakan tuan,” ucap manajer restoran itu mempersilakan Pak Herman dan keluarganya.

Para pengawalnya hanya berdiri di belakang keluarga itu. Tapi Pak Herman memerintahkan mereka agar duduk di meja yang kosong.

Karena satu ruangan itu sudah dipesan oleh pak Herman. Mereka tidak berani melawan atasan mereka. Akhirnya mereka terpaksa duduk di salah satu meja seperti yang diperintahkan pak Herman.

Tidak lama mereka menunggu. Dari arah pintu masuk terlihat seorang pria dengan badan yang tegap berjalan Ke arah pintu restoran. Orang itu terlihat sangat bermartabat. Para pengawal juga mendampinginya.

Pak Herman langsung berdiri dan menyambut pria yang sudah berumur enam puluh tahun itu, yang masih terlihat awet muda dan gagah itu.

“Halo, Bang.”

“Halo juga adikku.”

Mereka berpelukan seperti seorang kakak adik yang masih bocah. Mereka sangat akrab seperti saudara kandung.

“Bang. Kenalkan, ini istriku Bu Iyes. Itu putri sulungku Silvia dan yang di sebelahnya putri bungsuku Tiara,” ucap Pak Herman memperkenalkan keluarganya kepada orang yang sudah dianggapnya seperti saudara itu.

Bu Iyes, Silvia Dan Tiara hanya menyatukan kedua tangannya di dada.

“Halo Tuan,” ucap Bu Iyes gugup karena melihat orang yang ada di hadapannya sangat berwibawa. Dia belum pernah berbicara dengan orang kalangan atas, jadi rasa gugupnya tidak bisa dia sembunyikan. Sedangkan Silvia sudah terbiasa berhadapan dengan orang kelas atas, karena selama ini dia banyak mendapatkan klien dari kalangan atas.

Silvia menyapanya dengan ramah dan santai, tapi tetap sopan.

“Halo, Om. Saya Silvia.”

Tiara juga santai dengan senyum polosnya, karena dia memang orang yang sangat cuek. Dia tidak pernah gugup berhadapan dengan orang kaya.

“Saya Tiara, Om,” ucapnya sambil cengengesan.

“Halo. Saya Efendi Kusuma. Saya sangat senang sekali bisa berkenalan dengan Ibu, Silvia, dan Tiara. Saya sangat senang mengetahui ingatan Pak Herman sudah kembali. Karena kalau tidak, kita mungkin tidak akan bisa berkenalan.”

Orang yang bernama Efendi Kusuma itu juga menyatukan tangannya di depan dada untuk menghargai mereka.

Pandangan matanya terhenti pada Silvia. Dia menatap Silvia dengan tatapan penuh kasih. Dia tersenyum dan menyentuh kepala Silvia dengan penuh kasih.

Melihat senyum di wajah Efendi Kusuma, Hermansyah merasa heran sekaligus senang. Karena senyum yang terdapat di wajah Efendi Kusuma itu sangat mahal. Sangat langka dia memberikan senyum kepada orang lain.

Apalagi saat kepala Silvia di sentuh dengan penuh kasih sayang seperti sentuhan seorang ayah kepada putrinya. Hermansyah sangat bangga dengan putri sulungnya itu. Dalam hatinya dia yakin kalau putri sulungnya ini pasti akan mampu untuk menjadi pemimpin di kerajaan bisnisnya.

“Semua ini tidak lepas dari usahanya Abang untuk membantu memulihkan ingatan saya, Bang. Mereka datang ke sini juga untuk berterima kasih kepada Abang atas pertolongan Abang yang sangat besar terhadap saya, Bang,” ucap Pak Herman.

“Iya, Tuan. Kami benar-benar sangat berterima kasih sebesar-besarnya kepada Tuan. Jika tidak ada Tuan, entah bagaimana keadaan suami saya. Mungkin kami tidak akan pernah lagi,” bu Iyes tidak sanggup melanjutkan ucapannya. Air matanya keluar tanpa bisa ditahan.

“Sudahlah, jangan begitu, Bu. Itu sudah kehendak dari Yang Maha Kuasa, karena Pak Herman orang yang baik. Dan sekarang kita berkumpul di sini untuk merayakan kebahagiaan kita, bukan untuk bersedih.”

“Benar, Bu.” Pak Herman memegang pundak istrinya yang sudah berguncang karena menahan air matanya.

“Ayo, Bang. Kita duduk,” ucap Herman kemudian.

“Mari-mari.”

Setelah duduk. Beberapa pelayan datang mengantarkan makanan pembuka.

Ada banyak sekali makanan di atas meja. Semua itu adalah makanan andalan restoran itu. Hanya orang kelas atas yang berani memesannya karena harga makanan itu sangat mahal.

“Selamat menikmati Tuan-tuan, Nyonya dan Nona,” ucap pelayan itu dengan sangat ramah.

“Terima kasih, Mbak,” ucap mereka serempak. Pelayan dan manajer restoran itu pergi setelah berpamitan.

“Silakan, Bang,” ucap Herman mempersilakan Pak Efendi untuk menyantap makanannya.

“Iya, terima kasih.”

Mereka mulai menyantap makanannya.

Di sela-sela menikmati makanan, Efendi Kusuma berbicara.

“Sebetulnya, tadi saya juga mengajak Perdana, tapi mungkin dia berhalangan datang Her.”

“Iya, Bang. Tadi Perdana sudah menghubungi saya, Bang. Katanya dia tidak bisa datang karena ada klien penting yang harus dia temui. Dia sudah terlanjur buat janji sebelum acara makan malam kita Bang. Saya jadi tidak enak hati, karena membuat acara ini secara mendadak.”

“Tidak apa-apa,Her. Kita ini sudah seperti keluarga, jadi jangan merasa tidak enak seperti itu. O ya, Bagaimana kalau kita pererat hubungan keluarga kita dengan menjodohkan anak-anak kita?”

Mendengar itu, Pak Herman sangat bahagia sekali.

“Itu ide yang bagus, Bang. Saya sangat bahagia mendengarnya. Tapi tetap saja bang, keputusannya ada ditangan anak-anak kita,” ucap Herman sambil melihat ke arah Silvia.

“Iya, Her. Kamu benar.”

Silvia yang mendengar itu berpikir kalau ayahnya berniat menunjuk dia sebagai calon yang dipilih, sebab tatapan ayahnya mengarah kepada dia, bukan adiknya. Lagi pula adiknya masih remaja, mana mungkin ayahnya akan menjodohkannya secepat itu.

Efendi Kusuma langsung mengarahkan pandangan kepada Silvia dan bertanya.

“Nak. Apa kamu mau menjadi calon menantu keluarga Kusuma?”

Silvia berpikir dia harus bicara jujur tentang pernikahannya yang gagal.

“Saya mau, Om. Tapi saya sudah pernah menikah.”

Mendengar itu Efendi Kusuma tersenyum dan menjawab.

“Alhamdulillah. Cuma jawaban itu yang Om butuhkan. Mengenai tentang kamu yang sudah pernah menikah, Om sudah tahu semuanya.”

Mereka menikmati makan malam dengan bahagia.

Sementara itu, di luar restoran ada beberapa orang yang ingin memasuki restoran. Tapi dihadang keamanan restoran, karena restoran mereka sedang di tutup untuk orang lain selain keluarga Kusuma dan Herman. Di antara mereka, ada tiga orang yang memaksa ingin masuk.

Cinta Kedua & Terakhir

Cinta Kedua & Terakhir: Bab 16 Cinta Kedua & Terakhir: Bab 18

Penulis

Tag:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Arsip

Kategori

Terkini

Ibu ke Mana?

Ibu ke Mana?

Cinta Kedua & Terakhir: Bab 59

Cinta Kedua & Terakhir: Bab 59

Diam

Diam

Bab 13. Serangan (Part 2)

Bab 13. Serangan (Part 2)

Cinde Lara: Bab 27

Cinde Lara: Bab 27

Antologi KompaK’O

Random image