Beranda / Topik / Wisata / 17. Prasasti Lawang

17. Prasasti Lawang

MELUKIS JEJAK - TARI ABD
This entry is part 18 of 18 in the series Melukis Jejak

Kyoto melakukan mobilnya memasuki Kabupaten Semarang, hingga mobil berhenti di Disun Pilihan, Desa Tajuk, Kecamatan Getasan. Kedua turun dan menuju lokasi.

Angin pegunungan berembus cukup kencang, membawa aroma tanah basah dan dedaunan yang tumbuh liar di sekitar situs. Nadia berdecak kagum, dari lereng tempatnya berdiri. Kecamatan Getasan terletak di sebelah selatan Gunung Merbabu, sementara di sebelah barat daya Gunung Telomoyo yang terkenal dengan negeri atas awan.  Di bagian gugusan sekitar Telomoyo terdapat   Gunung Gajah tepatnya di Desa Nogosaren.

Kabut tipis bergerak perlahan menyelimuti sebagian lereng Merbabu, sementara di kejauhan, petak-petak ladang sayuran membentuk pola hijau yang berpadu dengan atap-atap rumah penduduk.

“Ini prasasi apa lagi?” tanya Nadia saat tatapnya jatuh pada prasasti yang menjadi tujuan eksplorasi hari itu.

“Ini Prasasti Watu Lawang, peninggalan periode akhir Kerajaan Hindu-Buddha, didominasi masa Majapahit.” Kyoto menunjuk pada situs yang ditemukan pada 2019 dan dikenal sebagai pusat skriptorium atau penulisan naskah kuno.

“Kenapa dinamakan Watu Lawang?” tanya Nadia

“Karena bentuknya menyerupai dua gerbang pintu besar yang terbuat dari batu. Di tengah-tengah dua batu besar tersebut, terdapat sebuah batu yang berukuran lebih kecil.”

Nadia mengamati situs yang terdiri dari tiga batu besar, “Benar juga, ya. Ini seperti gapura?”

“Benar tiga batu ini diduga menyerupai gapura dan menyimpan keunikan masing-masing. Batu utama yang memiliki panjang 176 cm, lebar 97 cm, dan tebal 31 cm, terdapat inskripsi beraksara Jawa Kuno dengan angka tahun 1353 Saka, sekitar abad ke-15 Masehi. Batu kedua yang panjangnya 140 cm, lebar 73 cm, dan tebal 34 cm. Terdapat pola guratan tangan manusia yang masih terus diteliti oleh para arkeolog.” Kyoto menjelaskan setiap detail yang diingatnya diluar kepala.

“I see. Yang diapit dua batu besar adalah batu ketiga.”

“Ya. Panjangnya 70 cm, dan lebarnya 36 cm.Situs ini melengkapi temuan artefak lainnya di wilayah Getasan, seperti Prasasti Ngadoman tahun 1371 Saka dan Prasasti Samirono. Keberadaannya di dekat sumber mata air mengindikasikan fungsi penting bagi ritual keagamaan masyarakat masa lampau,” lanjut Kyoto.

Nadia mengangkat kameranya, mengabadikan pemandangan itu beberapa kali. Sesekali ia mengarahkan lensa ke arah prasasti, kemudian kembali memotret bentang alam di sekelilingnya.

“Tempat ini indah sekali. Sepertinya orang-orang zaman dahulu memang punya pertimbangan khusus ketika memilih lokasi untuk mendirikan bangunan atau meninggalkan prasasti,” gumamnya.

Kyoto tersenyum. Ada binar antusias yang sejak tadi tidak pernah benar-benar hilang dari wajahnya.

“Justru itu yang membuatku tertarik melakukan eksplorasi ke daerah ini. Kita tidak hanya menemukan benda peninggalan sejarah, tapi juga mencoba memahami kehidupan orang-orang yang pernah berada di tempat ini. Bayangkan, Nadia. Ratusan tahun lalu, mungkin ada seseorang yang berdiri di tempat yang sama dengan kita, menuliskan sesuatu pada batu itu. Hanya saja kita tidak tahu apakah itu sebuah pesan, penanda wilayah, atau sesuatu yang berkaitan dengan kepercayaan mereka.”

“Benar, kita hanya bisa menebak-nebak maksudnya.”

“Sejarah selalu menyisakan ruang untuk pertanyaan.” Kyoto berjalan beberapa langkah, lalu menunjuk ke arah sebuah area yang ditumbuhi pepohonan.

“Menurut beberapa kajian, kawasan Getasan ini memiliki keterkaitan dengan aktivitas keagamaan dan tradisi penulisan naskah kuno. Aku membayangkan dulu ada para penulis yang menghabiskan waktu di sekitar sini. Mereka menyalin pengetahuan, merawat tradisi, dan mewariskan pemikiran kepada generasi berikutnya.”

Nadia tersenyum tipis. “Kamu selalu punya cara membuat batu-batu tua terdengar hidup.”

Kyoto tertawa kecil, “Bukankah Kamu juga?”

“Mungkin… aku selalu ingin melukis jejak yang ditinggalkan pendahulu kita sebelum mereka sempat membuat catatan apapun.”

“Benda-benda itu memang tidak pernah benar-benar mati, meskipun sudah mencatat banyak cerita berabad-abad lalu. Kita saja yang sering tidak punya cukup kesabaran untuk mendengarkan ceritanya.”

Nadia kembali menatap prasasti. Ia selalu mengagumi cara laki-laki itu menjelaskan sesuatu. Ia bisa berbicara panjang lebar tentang sejarah tanpa terlihat bosan sedikit pun. Setiap detail seolah tersimpan rapi dalam ingatannya. Bahkan ketika tidak sedang menjelaskan, matanya selalu tampak sibuk mengamati sesuatu.

Namun, di balik kekagumannya, ada kegelisahan yang belum juga menemukan jawaban. Beberapa kali ia mencoba meyakinkan dirinya bahwa perjalanan ini hanyalah perjalanan biasa. Dua orang yang memiliki ketertarikan sama terhadap sejarah dan tempat-tempat bersejarah. Tidak lebih dari itu.

Tapi, mengapa ia begitu mudah menikmati kebersamaan dengan Kyoto? Perhatian kecil laki-laki itu terkadang membuat hatinya berdebar, sementara pada saat yang sama ia merasa bersalah karena membiarkan perasaan tersebut tumbuh? Sedangkan hatinya sudah dimiliki orang lain.

“Nadia?” Suara Kyoto membuyarkan lamunannya.

“Eh, iya?”

“Kamu ngelamunin apa”

Nadia menggeleng. “Tidak. Aku hanya sedang membayangkan bagaimana kehidupan orang-orang yang pernah tinggal di sini.”

“Kamu yakin?”

“Tentu saja. Memangnya Kamu berpikir apa?”

Kyoto menatapnya sejenak, seolah tahu bahwa jawaban Nadia tidak sepenuhnya benar. Namun, ia tidak mendesak.

“Kalau begitu, kita punya kesamaan. Aku juga sering membayangkan masa lalu ketika mengunjungi tempat seperti ini.”

Kyoto kemudian mengeluarkan ponselnya dan memperlihatkan beberapa foto dokumentasi eksplorasi yang pernah dilakukannya.

“Ini salah satu situs yang pernah kudatangi di wilayah lereng Merbabu. Kondisinya jauh lebih sulit dijangkau. Aku harus berjalan kaki melewati jalan setapak, menyeberangi aliran air kecil, dan hampir tersesat karena petunjuk arah yang kurang jelas.”

Nadia tertawa. “Kamu benar-benar tidak pernah kehabisan ide untuk menyiksa diri sendiri.”

“Hei, ini bukan menyiksa diri. Ini eksplorasi.”

“Bedanya tipis.”

“Justru di situlah keseruannya, bukankah perjalanan melukis jejak itu mengasikkan?”

Kyoto tertawa lepas, diikuti Nadia. Menikmati suasana yang terasa begitu ringan.

Mereka kemudian berjalan menyusuri jalan setapak di sekitar situs. Beberapa tanaman liar tumbuh di antara bebatuan, sementara pepohonan tinggi menjadi peneduh alami. Sesekali terdengar suara burung dari balik rimbunnya dedaunan.

Kyoto mengatakan rencana eksplorasi berikutnya.

“Masih banyak situs dilereng Merbabu.”

“Jauh?” tanya Nadia

“Bukankah selama ini Nadia yang kukenal tidak mengenal kata jauh?”

Nadia cemberut kesal, Kyoto justru tertawa.

“Atau sekarang Nadia sudah berubah karena hatinya dibawa seseorang pulang ke Jerman?” goda Kyoto.

“Ish… ngaco, deh.” Nadia makin cemberut, pipinya merona merah.

“Aku ingin suatu hari nanti semua catatan perjalanan itu bisa disusun menjadi sebuah buku,” katanya penuh semangat. “Bukan sekadar buku sejarah, tetapi juga catatan perjalanan. Tentang tempat-tempat yang terlupakan, orang-orang yang menjaganya, dan kisah-kisah yang tersembunyi di baliknya.” Kyoto kembali serius.

“Sepertinya itu ide bagus.”

“Kamu mau membantuku?”

Nadia menoleh. “Tergantung, sih.”

“Maksudnya?”

“Ya… kan Kamu tahu aku penulis. Menuliskan kisah perjalanan dan merangkai kata itu keahlianku. Kalau minta tolong bisa, sih. Asal cuannya cocok.”

“Yaelah… masa iya tulisan eksplorasi bersama masih ngomongin cuan,” sungut Kyoto. KAli ini ganti Nadia yang terbahak.

“Penulis juga manusia kaleee, butuh cuan juga buat bayar kontrakan, makan, dan beli skincare.” Nadia menaik turunkan alisnya dengan tatapan menggoda.

Kyoto menghembuskan napas panjang, ada kelegaan melihat Nadia kembali bercanda dan tertawa lepas. Semoga kunjungan ke Prasasti Lawang bukan hanya sekadar eksplorasi sejarah, tapi gapura untuk memasuki ruang baru untuk hubungannya dengan Nadia.

Melukis Jejak

6. Prasasti Ngrawan, Bukan Tentang Hati Yang Rawan

Penulis

  • Perempuan senja yang hobi nulis dan traveling untuk mencari inspirasi.

    Perempuan senja yang hobi nulis dan traveling untuk mencari inspirasi. Penulis Historical Fiction, Travel love, dan Misteri. Untuk mengenal lebih jauh ikuti FB : tari abdullahdua

Tag:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *