Home / Genre / Cerita Anak / Ketika Aku Besar Nanti

Ketika Aku Besar Nanti

Ketika Aku Besar Nanti
1

Di kota pertambangan nikel, tempat asap hitam dari tambang menyambut pagi hari dan ledakan dinamit mengguncang kota hingga tertidur setiap malam, Daus tinggal bersama neneknya.

Ibu Daus tidak pernah ada. Dia dirawat di Rumah Sakit Jiwa Kendari dan orang-orang memperlakukan Daaus secara berbeda karena itu. Mereka berbisik-bisik, sebagian mengasihaninya tetapi yang lain mengatakannya langsung kepadanya, bahwa dia adalah anak dari seorang perempuan ‘gila’. Mereka melarang anak-anak mereka bermain dengannya. Meskipun hal ini selalu membuatnya pulang sambil menangis, Daus tidak pernah membiarkan neneknya melihatnya menangis karena neneknya sudah khawatir dengan ibunya.

Namun di sekolah ketika siswa lain mengatakan hal-hal buruk tentang ibunya atau menyanyikan ‘Jannah gila, Jannah gila’ ketika dia lewat, dia meninju wajah mereka. Akibatnya, ia selalu berada di kantor kepala sekolah untuk dihukum karena memukul siswa lain. 

Daus tidak mengerti mengapa dia disebut perundung dan bukan siswa yang menyanyikan ‘Jannah gila, Jannah gila’ ketika mereka melihatnya. Hal ini membuatnya benci sekolah, dan dia menjadi tidak punya prestasi dalam kegiatan sekolah.

Suatu hari, guru memberi mereka pekerjaan rumah untuk menulis karangan tentang apa yang mereka inginkan ketika dewasa nanti. Seorang anak laki-laki yang duduk di belakangnya berbisik cukup keras hingga Daus bisa mendengarnya, bahwa Dauslah alasan ibunya tinggal di RSJ. 

Daus ingin meninjunya, tetapi apa yang dikatakan anak itu membuatnya sangat takut.Dia bertanya-tanya apakah benar bahwa ibunya sakit karena kesalahannya.

Daus tidak bisa bertanya kepada neneknya apakah dialah penyebab ibunya sakit. Neneknya tidak pernah memberi tahu Daus apa yang salah dengan ibunya, kecuali bahwa ibunya tidak sehat tetapi akan segera sembuh. 

Jadi, hari Ahad keesokan harinya, dia pamit pada neneknya. Daus pergi naik kendaraan umum menemui bibinya yang bekerja di rumah sakit untuk menanyakan kebenarannya. Daus bertanya  apakah dia anak yang buruk. Apakah itu alasan ibunya tidak mengenalinya bahkan ketika mereka mengunjunginya di RSJ Kendari?

Di rumah sakit, bibinya menjelaskan kepadanya bahwa Daus bukanlah penyebab ibunya sakit. Bahwa ibunya tidak ‘gila’, tetapi dia mengalami depresi postpartum. Daus tidak dapat mengucapkan nama itu sehingga bibinya menuliskannya untuknya di selembar kertas. 

Namun yang membuat Daus bingung adalah kalau bukan dirinya sendiri yang menyebabkan ibunya sakit, lalu bagaimana mungkin ibunya baru sakit setelah dia lahir? 

Daus merasa seperti anak nakal yang membuat ibunya sakit. Di selembar kertas di tangannya, dia membaca nama itu lagi dan kemudian tahu apa yang dia inginkan saat ia dewasa nanti.

Di kelas, guru meminta beberapa siswa untuk membacakan karangan mereka di depan kelas dan Daus tunjuk tangan lalu berdiri.

“Daus? Kamu mau membaca karanganmu?” tanya Bu Guru  heran.

“Ya, Bu,” Daus menjawab dengan suara rendah.

Guru itu menatapnya sejenak lalu berkata, “Baiklah. silakan maju ke depan.”

Seluruh kelas mulai berbisik-bisik dan Daus merasa malu. Tangannya berkeringat dan gemetar, jadi dia memegang bukunya erat-erat agar tidak terlepas dari tangannya.

“Ka-kalau aku besar nanti.”  Daus tergagap

“Kalau aku besar nanti, aku ingin menjadi dokter dan, dan menyembuhkan—” 

Seluruh kelas menertawakannya, bahkan Bu Guru menatapnya kaget.

“Ssst!” Bu Guru menyuruh para siswa tenang.

“Aku ingin menjadi dokter dan menyembuhkan ibuku, agar dia bisa tersenyum, bermain denganku, mengajakku membeli baju baru, mainan, dan memasak makanan enak untukku dan nenek,” lanjut Daus membacakan karangannya.

Tidak ada yang percaya siswa dengan nilai pas-pasan seperti Daus bisa menjadi dokter, tetapi neneknya percaya padanya. 

Maka Daus berhenti meninju wajah mereka, bahkan ketika mereka menyanyikan ‘Jannah gila’. Sebaliknya, dia mengikuti nasihat bibinya dengan memikirkan yang baik-baik. Misalnya, apa yang akan dia lakukan ketika dia menjadi dokter. 

Maka, Daus akan menulis di halaman belakang buku tulisan dengan huruf besar, berulang-ulang sampai dia tidak merasa marah lagi. 

DOKTER FIRDAUS PUTRA JANNAH.

Cikarang, 30 April 2025

Penulis

  • Resi Bujangga

    Resi Bujangga, seorang penulis cerita anak yang suka menyadur karya-karya klasik.

Tag:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Arsip

Kategori

Terkini

Bab 13. Serangan (Part 1)

Bab 13. Serangan (Part 1)

Pintu

Pintu

Menjadi Penulis: 6 Aturan untuk Sukses dalam Menulis

Menjadi Penulis: 6 Aturan untuk Sukses dalam Menulis

Untuk Mati

Untuk Mati

Cinta Kedua & Terakhir: Bab 45

Cinta Kedua & Terakhir: Bab 45

Antologi KompaK’O

Random image