Home / Genre / Misteri / Pembalasan

Pembalasan

Pembalasan

Seorang pemuda nampak berjalan sempoyongan. Dari arahnya menguar bau alkohol yang menyengat, seolah cairan itu mengguyur seluruh tubuhnya. Toni, berandalan kampung yang selalu menghabiskan malan-malam di kedai tuak ujung jalan, terhuyung-huyung melintasi ladang.

Seperti malam-malam sebelumnya, Toni hanya bersenang-senang dengan uang hasil kejahatan kecil-kecilannya. Sudah empat tahun yang lalu, PHK di pabrik tempatnya bekerja membuatnya makin kehilangan arah.

Berkali-kali mencoba bertanya tentang pekerjaan, tapi usaha yang tak dibarengi dengan niat yang sempurna menjadikan pencarian itu sia-sia. Bagaimana tidak? Penampilannya yang selalu tampak mabuk, baju kusam, wajah brewok jarang yang harusnya dicukur berulang, semua jadi alasan kenapa dia selalu ditolak.

Hingga dia bertemu Bondet setahun setelah di PHK. Darinya Toni belajar memalak anak sekolah, atau tukang bakso dan gorengan yang kebetulan lewat di jalan tempat mereka berkuasa. Tak hanya berdua, masih ada dua orang lain bersama mereka. Setelahnya, Toni makin malas mencari kerja.

Hari ini dia mendapati kabar, Bondet mati dengan cara menakutkan. Wajahnya tercakar sangat dalam, hingga salah satu bola matanya nyaris copot. Lidahnya menjulur seolah ditarik sesuatu yang kuat hingga hampir terlepas. Sesuatu di bagian bawah tubuhnya terjepit sesuatu hingga tak berbentuk kecuali sebongkah daging berdarah yang lembek.

Itu bukan yang pertama. Bulan lalu Reno-pun ditemukan tak bernyawa di sebuah gudang penyimpanan jagung milk warga. Di perut Reno polisi menemukan celana dalam wanita, entah bagaimana barang itu bisa berada di sana. Sedangkan mulutnya tersumpal jagung utuh, dan bagian belakang tubuhnya juga terluka cukup parah karena batang jagung kering yang masuk ke sana. Simbol keperkasaannya yang terpotong, ditemukan di ujung garu, seperti potongan sosis jumbo di ujung garpu di piring sarapan Danu, anak tersayangnya. Entah siapa yang melakukan hal keji semacam itu, yang jelas menurut kasak kusuk penduduk itu perbuatan makhluk yang bukan manusia.

Enam minggu yang lalu Wandi, kawannya yang lain pun mati tenggelam di parit dangkal di dekat area pemakaman. Celananya sudah hilang entah kemana, sedangkan yang membuat penduduk ngeri … batang kejantanannya seperti terbalut ranting berduri.

Toni stres! Bahkan sangat frustasi! Melihat apa yang menimpa kawan-kawannya, dengan kematian yang tak biasa, memaksanya mengingat kembali kejadian dua tahun yang lalu, saat dia dan kawanannya mencari mangsa.

Memori di kepalanya kembali memutar rekaman yang tak terlupakan. Masih terasa begitu jelas, teriakan gadis berseragam di perkebunan karet kala itu, ketika Bondet menindihnya bergiliran dengan Wandi dan Reno, juga dirinya. Wajah yang memelas berurai air mata karena rasa sakit dan lelah luar biasa tak mampu meredakan jumawanya. Mereka tetap melanjutkan perlakuan biadab di sela-sela tawa yang berujung si gadis meregang nyawa.

Jika itu yang membuat kawan-kawannya mati, dia akan melakukan penyesalan. Berkali-kali mengutuk diri kenapa tak bisa menolak untuk ikut mengumbar nafsu sesaat dengan cara keji.

Bruk!

Toni tersungkur! Akibat terlalu mabuk, langkahnya tersandung sebuah batu. Tubuhnya terjerembab di tanah berlumpur yang sangat bau. Tak henti-henti dia memaki, menyalahkan siapa saja kecuali kecerobohannya sendiri.

Dalam keadaan setengah sadar, lamat-lamat dia melihat bayangan berkelebat di sampingnya. Tengkuknya merinding, bulu-bulu halus di lengannya pun mulai berdiri. Angin malam yang berhembus dingin menambah suasana makin ngeri.

“Sekarang tiba giliranmu, Toni.”

Itu kalimat terakhir yang didengar Toni sebelum sesosok bayangan menyerangnya. Setelah itu hanya perih yang dirasakan sekujur tubuhnya. Kuku-kuku yang tak tahu dari mana asalnya mencabik-cabik dengan amarah di tiap jengkal kulitnya, seolah penuh dendam. Wajahnya tak luput dari cakaran membabi buta. Entah apa yang sudah menelan teriakannya. Tak ada suara yang keluar kecuali mulut yang menganga lebar.

Seorang gadis yang kini menampakkan diri, masih dengan seragam yang robek di bagian lengan dan perut, sedang menyiksanya dengan beringas. Darah memenuhi roknya, seperti yang selalu diingat Toni, saat wajah memohon gadis itu menghantui pikiran dan mimpinya tanpa diminta.

Teriakannya masih tak bersuara, bahkan dia merasa lidahnya tertarik kuat, kala kuku-kuku panjang menusuk leher tepat pada pembuluh arteri yang membuat cairan merah menyembur dari sana.

Toni mengenali wajah itu, yang kini tampak memelas, namun seketika berubah menjadi seringai mengerikan, tepat sebelum matanya tercongkel keluar.

Patih, 17 Desember 2022 18.52

Penulis

  • Vi Vone

    Tentang penulis: Vi Vone merupakan perempuan yang besar di Surabaya, dan kini bertempat tinggal di tanah kelahirannya, Gresik. Seorang ibu rumah tangga yang mempunyai kesenangan menulis beberapa tahun belakangan ini. Baru tiga kali membuat buku antologi puisi bersama para sahabat literasi di dunia maya, dan dua buku cerita fiksi romance. Dia menyebut dirinya sebagai Penyintas Senggang. Keyakinannya adalah, "Apa yang ditulis dari hati akan sampai pula ke hati."
     

Tag:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Arsip

Kategori

Terkini

Bab 13. Serangan (Part 1)

Bab 13. Serangan (Part 1)

Pintu

Pintu

Menjadi Penulis: 6 Aturan untuk Sukses dalam Menulis

Menjadi Penulis: 6 Aturan untuk Sukses dalam Menulis

Untuk Mati

Untuk Mati

Cinta Kedua & Terakhir

Cinta Kedua & Terakhir

Antologi KompaK’O

Random image