Home / Genre / Cerita Anak / Menanti Hari Esok

Menanti Hari Esok

Menanti Hari Esok

Neuneu menatap langit biru yang cerah dengan awan-awan sesekali melintas. Matahari bersinar cerah, tetapi rumput hijau yang sejuk tempat dia berbaring membuatnya tetap sejuk. Hujan turun beberapa jam yang lalu dan seperti sulap, hujan telah digantikan oleh langit biru yang cerah dan pelangi terindah yang pernah dilihatnya. Dua pelangi.

Sambil menghitung warna pelangi, dia teringat tugas yang diberikan bu guru di sekolah. Bu Guru Truli telah menyuruh mereka menulis karangan tentang apa yang mereka harapkan akan terjadi di Indonesia dalam seratus tahun.

Neuneu sangat senang dengan tugas ini. Dia suka bermimpi dan berkhayal. Setiap kali ibu dan ayahnya menonton berita di televisi, dia merasa sedih melihat hal-hal buruk yang dilakukan manusia terhadap satu sama lain. Dia memimpikan hari esok tanpa penderitaan, kemisikinan, dan kelaparan. Hari esok di mana semua anak Indonesia akan menari dengan damai bersama semua anak di dunia. Hari esok di mana hewan liar tidak akan lagi diburu oleh orang-orang jahat.

Meski hanya mimpi, tetapi mengapa itu tidak bisa menjadi kenyataan?

Neuneu melihat sebuah benda besar di langit. Burung itu tampak turun ke tempat dia berbaring. Saat burung itu semakin dekat, ia menyadari bahwa burung itu adalah burung terbesar yang pernah dilihatnya. Burung itu tampak seperti burung maleo. Ukurannya sebesar rumah.

Neuneu sangat ketakutan. Apakah itu monster? Apakah burung itu datang untuk memakannya?

Burung besar itu mendarat tepat di sebelahnya. Neuneu tetap diam. Ia mendongak ke kepala burung itu dan terkejut karena burung besar itu sedang menatapnya.

“Namaku Senkawor. Apa kabar, Neuneu?” Burung besar itu memperkenalkan dirinya.

Neuneu tidak percaya dengan apa yang didengarnya.

Apakah burung itu baru saja berbicara dengannya?

Bagaimana dia bisa tahu namanya? Apakah dia sudah gila?

Dia hendak mengajukan pertanyaan kepada Senkawor ketika burung besar itu berbicara lebih dulu. “Aku datang untuk membawamu ke gerbang waktu.”

“Kenapa?” ​​tanya Neuneu.

Senkawor tertawa.

“Jangan takut. Bukankah kamu memimpikan hari esok?”

Neuneu terkejut mendengarnya

Bagaimana Senkawor bisa tahu?

Sekaowr tertawa lagi ketika melihat ekspresi Neuneu. Dia berjongkok dan mengajak Neuneu untuk naik ke punggungnya yang berbulu cantik. Kemudian dia menyuruh Neuneu untuk berpegangan erat.

Neuneu dapat merasakan jantungnya berdetak kencang. Dia takut jantungnya akan melompat keluar dari dadanya.

Senkawor melesat terbangbegitu cepat hingga Neuneu tidak sempat memejamkan mata.

Langit sungguh indah. Neuneu rasanya tidak percaya bahwa dia sedang terbang.

Senkawor terbang semakin tinggi dan tinggi, dan akhirnya berhenti di depan sesuatu yang tampak seperti jam emas besar.

Neuneu melihat burung besar lainnya. Burung ini bahkan lebih besar dari Sekawor. Dia sangat mirip burung hantu.

“Namaku Manguni,” kata burung hantu besar itu. “Salam, Neuneu. Aku akan membuka gerbang waktu.”

Neuneu memperhatikan Manguni terbang di depan jam besar itu dan berseru empat kali.

“Kukuuuk!”

Lalu mereka bertiga terbang masuk ke dalam jam emas besar tersebut.

Neuneu tidak percaya apa yang dilihatnya ketika mereka terbang memasuki gerbang waktu. Dia melihat warna-warna cerah seperti pelangi. Dia melihat pulau-pulau berubah di depan matanya. Bangunan-bangunan berubah menjadi berbagai bentuk dan ketinggian. Mobil-mobil dengan desain aneh. Orang-orang mengenakan mode pakaian baru. Kemudian Senkawor berhenti dan mendarat di atas sebuah gedung tinggi.

Neuneu melompat turun dari punggung Senkawor untuk melihat lebih jelas.

Gedung-gedung mencakar langit sejauh mata memandang. Beberapa mobil terbang seperti pesawat. Ia dapat melihat televisi besar yang terbang berkeliling menyiarkan segala hal mulai dari berita hingga iklan makanan baru. Semuanya tampak seperti mimpi. Mimpi yang membuat Neuneu tidak ingin terbangun dari tidurnya.

Ke mana pun dia memandang, sesuatu yang baru menarik perhatiannya.

Senkawor dengan lembut menyenggol pundak Neuneu dengan paruhnya.

Sudah waktunya untuk kembali.

Neuneu merasa sedih, tetapi sekaligus merasa senang.

Dia naik kembali ke punggung Senkawor dan kemudian mereka bertiga terbang kembali melewati gerbang waktu.

Neuneu berterima kasih kepada Senkawor, dan menyaksikan burung besar itu terbang menjauh.
Dia kembali berbaring di atas rumput.

Neuneu merasa senang karena sekarang dia tahu apa yang akan dia tulis dalam karangannya.

Mimpi memang akan menjadi kenyataan. Yang harus kita lakukan hanyalah percaya.

Neuneu tahu bahwa Indonesia sedang menuju masa depan yang cerah.

“Aku tidak sabar menunggu hari esok,” katanya sambil sekali lagi memikirkan apa yang telah ditunjukkan Senkawor kepadanya. Dia bangkit dan berlari pulang untuk menulis karangannya.

Cikarang, 7 Juni 2025

Tag:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Arsip

Kategori

Terkini

Bab 13. Serangan (Part 1)

Bab 13. Serangan (Part 1)

Pintu

Pintu

Menjadi Penulis: 6 Aturan untuk Sukses dalam Menulis

Menjadi Penulis: 6 Aturan untuk Sukses dalam Menulis

Untuk Mati

Untuk Mati

Cinta Kedua & Terakhir

Cinta Kedua & Terakhir

Antologi KompaK’O

Random image