Saat itu, Ghea membuka mata dan melihat Waiz berlari ke arah Arya Daringin yang sedang membelakangi Ghea dan masih berjalan gontai keluar dari halaman. Pedang Ghea yang lain di tangan Waiz. yang siap menusuk Arya Daringin dari belakang. Hanya ada Ghea yang kebetulan menjadi satu-satunya orang di antara mereka.
Tanpa berpikir panjang, Ghea melompat berdiri dan memeluk Arya Daringin dari belakang tepat ketika pedang itu menusuk punggung Ghea. Dan aku berteriak.
Waktu dan ruang membeku ketika Ghea merasakan sakit yang luar biasa. Dia menoleh perlahan untuk melihat Waiz yang menatap ngeri dengan apa yang telah dilakukannya. Waiz mencabut pedang dari tubuh Ghea, dan Ghea tersentak ketika Waiz tergagap mundur.
“Tidak. Tidak. Tidak….” Bisik pria itu dan berlutut di tanah.
Ghea merasakan tubuh Arya Daringin menegang ketika dia tahu apa yang baru saja terjadi. Suaminya merentangkan tangan sehingga Ghea bisa ambruk di dalam pelukannya. Air mata menggenang di sudut mata pria yang dicintainya itu yang menatap saudaranya. Waiz hanya menatap mereka berdua, ketakutan.
“Ghea … kenapa? Kenapa kau harus menghalangi dengan tubuhmu? Kenapa?” teriak Waiz.
“Karena aku tidak bisa membayangkan hidup tanpanya,” jawab Ghea, menatap Arya Daringin yang memeluknya.
“Aku tidak mengerti, Ghea,” isak Arya Daringin. “Kenapa kau melakukan ini?”
Arya Daringin duduk di tanah sehingga Ghea bisa berbaring dengan nyaman.
“Aku ingin kamu percaya padaku, Kangmas. Aku mencintaimu, dan semua yang kukatakan padamu adalah benar. Aku hanya tidak pernah mengatakan padamu bahwa Ghea yang lain terlibat dengannya dan dia pikir aku orang yang sama, tetapi misiku adalah datang ke sini hanya untukmu dan tidak ada yang lain. Kamu adalah hidupku, Kangmas Arya Daringin. Tolong katakan padaku kamu percaya padaku.”
Arya Daringin menyibak anak rambut dari wajah Ghea.
“Aku percaya padamu, tapi bagaimana aku bisa hidup tanpamu? Kau seharusnya memberitahuku. Semua ini tidak akan terjadi Ghe.”
Ghea tersenyum lemah.
“Cium aku, Kangmas.”
Arya Daringin menatap istrinya dengan sedih, lalu mencium pipi Ghea dengan lembut.
Ghea menatap Waiz yang sekarang menangis tersedu-sedu, tidak kuasa bergerak mendekat.
“Waiz, aku minta maaf tetapi aku bukan Ghea-mu. Kamu punya kesempatan dengannya dan dia telah pergi. Aku tidak mencintaimu. Maafkan aku.”
“Kita harus memanggil dokter van Dorn,” kata Waiz ketika beberapa penjaga datang berlari.
“Tidak, jangan panggil dokter.”
Ghea mendengar seseorang berkata. Dia menoleh ke arah suara dan melihat dirinya lagi. Ghea masa lalu berada dalam cahaya yang sangat terang dan dia tampak jauh lebih baik dari sebelumnya. Rambutnya berkibar di sekelilingnya dan dialah satu-satunya yang berada dalam cahaya itu. Ghea menyadari bahwa hanya dia yang bisa melihatnya.
“Tidak ada dokter, Ghea. Ini harus terjadi, kamu harus mati. Kita terus mati di tempat yang sama dengan pedang yang sama hanya untuk tujuan yang berbeda. Aku mati terakhir kali ketika aku mencoba melukai Arya Daringin. Di waktu yang lain, aku mati dalam pertempuran setelah Waiz dan aku kawin lari. Aku terus mati jadi memanggil dokter akan membuang-buang waktu, kali ini untuk tujuan yang baik karena orang-orang kita akan tetap tinggal.”
Ghea masa lalu bergerak mendekat ketika Arya Daringin membopong tubuh istrinya keluar dari pekarangan. Ghea yang lain tampak melayang.
“Ngomong-ngomong, Ghea. Kamu jahat. Dan aku tidak percaya kita sama. Kamu tukang selingkuh, egois, dan hampir menghancurkan segalanya. Aku sangat membencimu.”
“Aku pantas mendapatkannya,” kata Ghea masa lalu.
“Jadi apa yang akan terjadi pada Arya Daringin?” tanya Ghea.
“Dia akan mengidolakanmu dari generasi ke generasi.”
“Apakah dia akan bahagia?”
“Dia akan bahagia mengetahui bahwa dia memenuhi keinginanmu, tapi aku tidak pernah melewati masa ini jadi mari kita berharap yang terbaik.”
Arya Daringin membaringkan tubuh istrinya di tempat tidur. Dia menggenggam tangan Ghea sementara Waiz berdiri di samping pintu. Ghea masa lalu melayang ke arahnya.
“Kasihan Waiz. Kamu tahu dia benar-benar mencintai kita.”
“Jadi apa yang akan terjadi padanya?”
“Aku tidak mengenalmu seutuhnya, tapi setidaknya kamu mengakhiri perseteruan di antara keduanya. Tidak ada lagi perkelahian dan persaingan.”
Ghea mendesah sembari menatap Arya Daringin
Ya Tuhan! Aku sangat mencintai pria ini!
“Aku juga sangat mencintai pria ini,” kata Ghea masa lalu sambil menatap Waiz. Kemudian dia melayang ke arah Ghea.
“Aku akan menggantikanmu agar aku akhirnya bisa beristirahat dan kamu bisa melanjutkan hidupmu di tempat asalmu.”
“Jadi aku akan mati di sini?”
Ghea masa lalu mengangguk sambil tersenyum sedih.
“Aku akan menggantikanmu, jadi, ucapkan selamat tinggal pada Arya Daringin.”
“Tapi ini belum ulang tahunku.”
Ghea masa lalu terkekeh.
“Sayang, waktu berjalan berbeda di sini. Di tempatmu, hari ini adalah hari ulang tahunmu, percayalah padaku dan semakin cepat kamu pergi, semakin baik. Pintunya masih terbuka. Ditambah lagi kamu akan terkejut begitu kamu kembali ke duniamu. Tidak ada yang berubah,” kata Ghea masa lalu menunjuk ke sudut kamar, tempat pintu cermin yang terbuka mengarah ke lorong yang sangat terang.
Ghea menatap Arya Daringin.
“Tapi … aku tidak ingin meninggalkan suamiku.”
“Kamu tidak boleh tinggal. Semakin cepat kamu pergi semakin baik,” kata Ghea masa lalu buru-buru.
Selama mereka bicara, Ghea tidak mengucapkan sepatah kata pun. Rasanya seperti bicara melalui telepati.
Akhirnya Ghea berbicara pada Arya Daringin.
“Kangmas….”
“Ya sayang. Jangan mati demi aku. Dokter akan segera datang,” katanya suaminya meremas tangan Ghea.
“Tidak, sayang, jangan panggil dokter,” jawab Ghea lemah. Arya Daringin menatapnya ngeri.
“Tidak, tidak! Kau tidak boleh berkata begitu, Sayang. Tolong, kau tidak boleh pergi.”
Ghea tersenyum.
“Ghea yang lain ada di ruangan ini dan dia akan mengambil alih tubuhku, dan aku akan kembali ke duniaku.”
Arya Daringin menggelengkan kepalanya dengan getir.
“Jangan salahkan saudaramu. Dia melakukan hal yang benar. Aku akan mati dengan cara apa pun. Maafkan dia dan jagalah keluarga dan orang-orangku.”
Arya Daringin mengangguk sedih.
“Keluargamu adalah keluargaku. Satu hal lagi”
Dia meraih jari Ghea dan menyelipkan cincin berlian di jari manis.
“Kau milikku sampai kapan pun, bukan milik orang lain.”
Ghea tersenyum getir ketika suaminya menundukkan kepalanya da bibir mereka bertemu.
***
Saat itu dia melihat dirinya melayang di udara dengan pakaian yang sama yang dia kenakan pada malam pertama datang ke masa itu.
Ghea menunduk ke tempat tidur ketika Arya Daringin memeluk tubuhnya dengan erat dan menangis. Dokter datang tetapi Waiz menghentikannya. Dia juga menangis.
Kemudian Arya Daringin berdiri. Matanya merah dan bengkak.
“Dia sudah pergi.” Dia meratap dan berjalan ke balkon.
Waiz bergerak maju.
“Aku sangat menyesal, Ghea. Aku minta maaf.”
Saat itulah Ghea masa lalu mengedipkan mata pada Ghea dari masa depan.
“Kamu harus pergi sekarang.”
Ghea mengangguk dan kemudian melayang ke lorong sesudah menoleh untuk Ghea masa lalu masuk ke dalam tubuhnya. Waiz menggenggam tangannya, memohon dan menangis … lalu pintu cermin tertutup.
Dan Ghea terbangun.









