Maulina Syahira mengalihkan pandangannya kembali ke kertas-kertas yang dia coba seimbangkan di lengannya sambil mencatat. Melotot ke arah petani yang hendak diwawancarai oleh rekannya, Dr. Syauki Kunan tidak akan membuat pria itu lebih mungkin untuk menjelaskan jawaban-jawabannya yang hanya terdiri dari kata ‘ya’ atau ‘tidak’. Namun, mata hijau sedingin es itu begitu dalam sehingga rasa ingin tahunya terusik.
Dan tidak ada salahnya kalau dia memiliki rambut bergelombang sempurna dan mengenakan kemeja putih kusam dan rompi cokelat dengan cara yang paling menarik.
Di sebelahnya, Dr. Syauki mulai frustrasi. Dia mengusap rambut abu-abunya dan mencoba lagi.
“Pak Tajul, tidak adakah informasi yang bisa Bapak berikan kepada kami tentang apa yang membuat lembu jantan Bapak tumbuh hingga ukuran yang begitu luar biasa?”
“Tidak.”
Tajul Kurnia menolak untuk berbicara lebih dari itu sejak mereka menginjakkan kaki di peternakannya. Namun, dia tidak mengusir mereka pergi.
Mengintip dari balik kedua pria yang kini berdiri dalam keheningan yang menegangkan, Maulina menunjuk ke arah kandang, sebuah bangunan terawat bercat merah tradisional. “Mungkin kita bisa pergi melihat hewan itu?”
Mata Pak Tajul melirik ke arahnya ketika dia mendengus, jawaban terpanjang yang pernah didengar Maulina.
“Dia punya nama.”
Dr. Boyle mengangkat tangannya dan mendengus kembali ke mobil yang membawa mereka langsung ke peternakan Tajul, bergumam tentang orang desa keras kepala yang menghalangi ilmu pengetahuan. Namun Maulina menganggap jawaban penuh semangat itu sebagai kemajuan. Sambil memasang senyum di wajahnya yang dia harap akan menunjukkan kegembiraannya yang tulus karena berada di sana, dia memegang pensilnya.
“Dan siapa nama itu?”
Petani itu ragu-ragu, menatapnya dari atas ke bawah dengan cara yang biasanya membuat Maulina memasang tampang defensif. Namun dia merasa Pak Tajul terbuka untuk bekerja dengannya ketika banyak orang lain tidak.
Sebagai seorang perempuan yang bekerja di Pusat Riset Sapi Aceh USK bekerjasama dengan Dinas Kesehatan Hewan dan Peternakan Aceh, dia terus-menerus harus membuktikan bahwa dia sama cakapnya dengan asisten peneliti laki-laki mana pun.
Kalau perjalanan ini berjalan lancar dan mereka berhasil mencapai kesepakatan untuk mempelajari lembu jantan pemecah rekor milik Pak Tajul, itu akan membuktikan bahwa dia memang tidak cocok berada di divisi ilmu hewan peliharaan.
Maulina melambaikan tangan ke arah gudang lagi. “Saya ingin sekali bertemu dengannya. Mungkin Anda bisa mengatur perkenalan?”
Seulas senyum menarik bibir Paak Tajul ke atas. Maaulina tiba-tiba merasa sulit menelan ludah. Senyum itu cukup mengganggu. Kalau dia sering tersenyum lebar, mustahil bagi Maulina untuk fokus pada pekerjaannya.
Tanpa sepatah kata pun, Tajul berbalik dan menuju gudang. Maulina menganggapnya sebagai ajakan dan mengikutinya, mengangkat rok lipit hitamnya sedikit lebih tinggi untuk menghindari lumpur sisa hujan deras baru-baru ini. Setidaknya dia memakai sepatu yang paling nyaman, sepasang sepatu lama dengan hak rendah dan pas serta nyaman.
Ktika dia sampai di kandang, Pak Tajul berdiri menunggu dengan lengan berototnya menyilang di atas dada yang luar biasa lebar. Dia mengangkat sebelah alisnya ke arah Maulina.
“Lagipula, apa yang dilakukan perempuan sepertimu dalam perjalanan riset ilmiah?”
Berdiri berdekatan di ambang pintu kandang, Maulina bisa melihat ketertarikan tulus dalam ekspresinya. Tapi kalau dia menjelaskan kecintaannya pada penelitian pertanian, akankah dia menyuruhnya menikah dan mengurus rumah tangga seperti kebanyakan orang?
Menarik napas dalam-dalam untuk menguatkan dirinya, Maulina mengambil kesempatan itu.
“Mempelajari cara-cara untuk meningkatkan taraf hidup petani Aceh adalah hasratku. Tidak ada yang lebih mendebarkan daripada menemukan metode baru yang membuat pertanian lebih mudah dan lebih menguntungkan.”
Pak Tajul mengangguk setuju. Tangannya menyentuh lengan Maulina ketika dia mengulurkan tangan untuk mendorong pintu lebih lebar. Rasa geli menjalar di tulang punggungnya karena sentuhan tak sengaja itu dan bagaimana suaranya terdengar begitu dekat di telinganya. “Kau pasti punya pengalaman bertani. Kebanyakan pejabat pemerintah hanya datang untuk melongo melihat Bulbul.”
Bulbul.
Maulina tersenyum melihat kasih sayang dalam suara Pak Tajul ketika dia menyebut nama itu.
“Ayah saya berasal dari garis keturunan panjang petani Aceh Selatan. Kalau saya bisa melakukan sesuatu untuk membuat hidup ini lebih baik, itu sepadan dengan semua waktu dan usaha yang telah saya curahkan.”
Kebenaran itulah yang pasti dia tunggu-tunggu. Pak Tajul melangkah masuk ke dalam kandang, menjelaskan sejarah Bulbul sementara Maulina menyusul.
“Bulbul lahir tahun 1942. Orang tuanya tidak besar, tetapi dia sudah memecahkan rekor saat lahir.”
Dia berhenti di sebuah kandang dan bersandar di gerbang. “Ini dia, lembu jantan terbesar di dunia, Bulbul Tuha.”
Maulinamendengar suara langkah kaki di balik bayangan, lalu sebuah hidung cokelat besar muncul, mengendus bahu Pak Tajul dari ketinggian yang jauh lebih tinggi dari yang dia duga. Maulina harus mundur selangkah untuk menatap mata cerdas hewan itu, yang dibingkai oleh satu tanduk yang melengkung ke depan dan satu lagi yang meliuk ke atas.
“Halo, Bulbul.” Ia membiarkan lembu jantan itu mengendus tangannya sebelum bertanya pada pemiliknya. “Berapa tingginya?”
Rasa bangga memenuhi kata-kata Pak Tajul. “180 cm. Hampir sepanjang itu juga.”
Maulina menuliskan detailnya di catatannya. “Dan Bapak tidak melakukan hal yang aneh padanya? Memberi makan yang berbeda? Rutinitas perawatan khusus?”
Pak Taajul mengulurkan tangan untuk mengusap hidung Bulbul dengan penuh kasih sayang.
“Bukan apa-apa. Aku tidak bermaksud mempersulit temanmu. Tidak ada jawaban untuk pertanyaan-pertanyaan itu. Aku memperlakukannya sama seperti hewan lainnya sejak lahir.”
Maulina tak kuasa menahan senyum ketika dia membantah pernyataan itu dengan mengeluarkan segumpal gula dari sakunya dan membiarkan Bulbul menjilatinya dari telapak tangannya.
“Kecuali mungkin untuk sedikit memanjakannya?”
Menatap matanya, Pak Tajul akhirnya menawarkan senyum lebar yang telah dia nantikan, dan itu sama menakjubkannya seperti yang dibayangkannya. Ia
Pak Tajul maju setengah langkah lebih dekat, matanya hangat.
“Mungkin.”
Tatapan mereka tetap terkunci hingga Bulbul mendengus, mengejutkan mereka berdua.
Pak Tajul berubah serius. “Aku menahan diri untuk tidak membiarkan siapa pun meneliti Bulbul karena mereka semua memperlakukannya seperti spesimen. Tapi kurasa kau menghargainya lebih dari sekadar eksperimen. Jadi, aku akan memberi tahu Dr. Syauki bahwa tim peneliti boleh berkunjung. Asal kau yang memimpin.”
Kehangatan menjalar ke seluruh tubuh Maulina, sama bersyukurnya atas kesempatan bertemu dengannya lagi, seperti dia bersyukur atas kesempatan memiliki tim peneliti sendiri. Dia membalas senyum Pak Tajul sambil menepuk-nepuk leher Bulbul yang kokoh, akhirnya merasa seolah memiliki sekutu.
Dan mungkin lebih dari itu.
Jawa Barat, 14 Juli 2025











