Ketika dakwah disampaikan dengan ketegasan, tanpa basa-basi, maka tak sedikit kaum munafik merasa panas, dan kebakaran jenggot. Artinya, orang-orang yang memegang kekuasaan dengan hawa nafsu merasa terganggu. Inilah yang saya sebut Fir’aunisme. Yaitu paham yang menganut pola pikir, tingkah laku, dan tabiat Fir’aun.
Begitulah yang sudah dialami oleh Dr. Zakir Naik baru-baru ini di Kota Malang. Dakwah beliau ditolak oleh sejumlah aktivis Kota Malang, yang disebut Arek Malang Bersuara. Maka, dengan aksi penolakan tersebut, saya dapat menilai, bagaimana kualitas mereka. Sebab, aktivis tersebut menebarkan Islamophobia.
Dr. Zakir Naik ditolak, karena dakwahnya langsung menyentuh akar masalah. Penolakan ini dilakukan secara terang-terangan, dan terbuka. Artinya, aktivis tersebut menolak kebenaran, dan kesadaran terhadap umat. Sebab, dalam dakwah Dr. Zakir Naik sering terselip kritikan-kritikan terhadap sosial, dan membangun objektivitas agama ketauhidan yang dikorelasikan dengan ayat-ayat Al-Qur’an, Injil, dan bahkan Weda.
Beliau, yaitu Dr. Zakir Naik, jangankan mengangkat senjata, membawanya saja tidak pernah. Beliau hanya membawa Al-Qur’an, dan akal yang jernih dalam beragama. Akan tetapi, Dr. Zakir Naik dianggap berbahaya, dan ancaman serius, bagi orang-orang berpaham sekularis, yang bercabang pada Fir’aunisme. Sehingga, tak heran bagi mereka, keberadaan Dr. Zakir Naik sangatlah mengganggu kaum Fir’aunisme.
Penolakan dakwah Dr. Zakir Naik, bukan hanya ini saja, melainkan sudah ditolak di berbagai negara, seperti: Inggris, Kanada, dan negara kelahirannya India. Yang menjadi pertanyaan penting, adalah apakah Indonesia yang masih menjadi negara mayoritas Islam, akan ikut-ikutan, alias latah menolak dakwah Dr. Zakir Naik? Apabila kita latah dengan ikut-ikutan menolak, berarti kita termasuk orang-orang munafik. Na’udzubillah min dzalik.
Memang, penolakan dakwah yang lurus—yang disampaikan dengan kaffah adalah sebuah sunnatullah. Akan tetapi, kita jangan menjadi satu diantara mereka yang menolak itu. Sebab, fitrah manusia adalah, menerima kebenaran dari Allah yang disampaikan oleh para da’i, termasuk oleh Dr. Zakir Naik.
Maka, sangatlah miris, dan ironis, jika Malang yang disebut-sebut kota paling toleransi nomor 1 di Indonesia, dengan menggelar aksi penolakan terhadap dakwah Dr. Zakir Naik. Aksi penolakan itu dilakukan oleh aktivis Arek Malang Bersuara—yang notabene adalah umat Islam sendiri. Logikanya, apabila Kota Malang adalah kota yang paling toleransi nomor 1 di Indonesia, seharusnya, aksi penolakan dakwah Dr. Zakir Naik tidak terjadi. Sebab, sudah pasti menjunjung nilai-nilai toleransi itu sendiri.
Meski tetap digelar, karena perjuangan orang-orang yang paham akan dakwah, namun tetap saja apa yang dilakukan oleh aktivis Arek Malang tersebut, membuat dakwah yang seharusnya mudah menjadi sulit. Sehingga aksi tersebut, adalah aksi yang memalukan bagi kita yang tinggal di negara yang berpredikat muslim terbanyak. Sebab, aksi penolakan terhadap dakwah, sama saja dengan menggelar aksi penolakan terhadap penguatan Islam yang telah mengubah peradaban.
Jika saja, yang menolak itu memahami dengan menonton dakwahnya, dan melihat data-data yang ada, niscaya kalian akan tertampar dengan keras. Karena, melalui ceramah-ceramahnya, lebih dari 100.000 masuk Islam, yang tak pernah kurang dari jutaan audiens di seluruh dunia. Hal ini membuktikan, bahwa Dr. Zakir Naik telah berkontribusi besar terhadap Islam. Sementara, bagi penggelar aksi kontribusi besar apa yang sudah kalian lakukan?
“Sesungguhnya orang-orang yang menyembunyikan apa yang telah Kami turunkan dari keterangan-keterangan dan petunjuk, mereka itu dilaknat oleh Allah, dan dilaknat (pula) oleh semua (makhluk) yang dapat melaknat.” (QS. Al-Baqarah:159)
Maka, apa yang dibawa oleh Dr. Zakir Naik adalah warisan dari Rasulullah SAW, yaitu menyampaikan kebenaran, meski satu ayat. Sementara beliau, sudah berayat-ayat, demi generasi Islam terus berkesinambungan. Artinya, apabila menolak dakwah, sesungguhnya ia telah menolak Allah dengan mengibarkan Fir’aunisme dalam dirinya yang telah terdogma oleh kaum kapitalis, sekularis, dan liberalis.
Tangerang, 14 Juli 2025











