Home / Topik / Wisata / Mengulik Sejarah Tugu Cokro

Mengulik Sejarah Tugu Cokro

Tugu Cokro
1

Selama ini orang mengetahui Grabag karena pemandangannya yang indah, dan merupakan wilayah perbatasan yang selalu dilewati menuju Kabupaten Semarang.

Grabag adalah salah satu kecamatan di wilayah timur Kabupaten Magelang, yang berbatasan langsung dengan kecamatan Secang dan kecamatan Pringsurat, Temanggung di sebelah barat, kecamatan Tegalrejo di sebelah selatan, kecamatan Ngablak di sebelah timur,  dan Kabupaten Semarang di sebelah utara. Wilayah ini juga merupakan hulu dari Sungai Elo, yang mengalir di sisi timur Kota Magelang.

Berada di antara kaki Gunung Andong dan Gunung Telomoyo menjadikan Grabag, memiliki suasana alam yang asri dan sejuk, dengan pemandangan perbukitan dan pepohonan hijau. Dua gunung yang menjadi ikon wisata alam di Magelang, dengan pemandangan yang menawan dan berbagai aktivitas seperti mendaki dan menikmati pemandangan dari gardu pandang.

Beberapa daya tarik alamnya meliputi Telaga Bleder, destinasi wisata alam yang menawarkan suasana tenang dan asri dikelilingi pepohonan hijau dengan air telaga yang jernih. Juga ada Air Terjun Sumuran dengan pemandangan Gunung Andong dan Gunung Telomoyo, serta suasana yang mirip dengan Bali.

Grabag juga memiliki potensi agrowisata dengan suasana pegunungan yang sejuk, seperti Banyu Langit Agropark yang cocok untuk kegiatan outbound dan camping.

Selain itu, Grabag juga dikenal sebagai daerah yang memiliki mata air besar, yaitu Tuk Mas, yang menjadi sumber air utama bagi PDAM Kota Magelang, serta terdapat Prasasti Tuk Mas yang diperkirakan berasal dari kerajaan Mataram Kuno.

Kecamatan Grabag  Magelang memiliki sejarah yang kaya, termasuk legenda tentang asal-usul namanya. Konon Grabag dipercaya berasal dari kata “gebrug” atau “brug” yang berarti tempat pembuangan atau tumpahan. Hal ini terkait dengan cerita wabah yang menyebabkan banyak orang meninggal dan dimakamkan di desa tersebut.

Grabag juga memiliki stasiun televisi komunitas bernama Grabag TV, yang merupakan salah satu pelopor berdirinya Asosiasi Televisi Komunitas Indonesia.

Salah satu desa di Kecamatan Grabag yang memiliki cerita sejarah adalah Desa Cokro yang juga merupakan ibu kota Kecamatan Grabag dan berada kurang lebih 680 meter di atas permukaan laut.

Namun, tIdak banyak yang mengetahui bahwa Desa Cokro memiliki catatan sejarah penting peristiwa gugurnya pahlawan di Grabag, Magelang, terkait dengan perlawanan terhadap agresi militer Belanda pada tahun 1949, yang melibatkan beberapa tokoh dan lokasi. Sejumlah 14 pejuang gugur ditembak oleh Belanda.

Mereka adalah Sersan Djoedi, Sersan Hardjo Oetomo, Komandan Muda Polisi Soewarto yang masih hidup meski ditembak, enam Agen Polisi II, yaitu Soetriman, Andreas, Slamet A, Ramelan, Darsono A, Darsono B, Prajurit Moersidi, pegawai kantor Kabupaten Magelang Soebroto, Prajurit CPM Ramelan, pager desa Hasim dan pegawai kantor gubernur Jawa Tengah Soenarjo yang masih hidup ketika ditembak.

Selain itu, ada juga kisah penyelamatan Wedana R. Boediman dan Kepala Desa Tanjung yang bersembunyi di sumur mati untuk menghindari sergapan Belanda.

Pesawat Belanda menembaki Pasar Tanjung dan menewaskan 18 orang serta membakar 10 rumah. Selain itu Pos kesehatan Dokter Soedjono juga disergap dan dirusak oleh tentara Belanda.

Berkat bantuan warga, Wedana R. Boediman berhasil selamat dari sergapan Belanda. Warga menyembunyikannya di sumur mati. Demikian juga dengan Kepala Desa Tanjung  diselamatkan dengan cara yang sama.

Peristiwa-peristiwa ini menjadi bagian dari sejarah perjuangan kemerdekaan di Magelang, khususnya di wilayah Grabag, yang menunjukkan semangat perlawanan rakyat terhadap penjajah, walaupun dengan pengorbanan jiwa dan harta benda.

Untuk mengenang peristiwa penembakan dan korban jiwa dalam peristiwa tersebut, didirikan Tugu Pejuang Kemerdekaan di dekat Pasar Tanjungjapuan, pada tanggal 17 Juli 1965 oleh pemerintahan Militer Kabupaten Magelang, dipimpin oleh Kapten Marsidik.

Tugu yang berdiri di perempatan Jl. Tepis Cokro Grabag, Desa Cokro, Kec. Grabag ini lokasinya sempat menjadi titik pembantaian para pejuang dibunuh.

Pembangunan tugu ini awalnya diprakarsai oleh pemerintah desa pada saat itu, di bawah pimpinan Bapak Soetarnjo, yang menjabat sebagai kepala desa, sebagai simbol penghormatan dan pengingat akan perjuangan para pahlawan sekaligus menjadi lmenjadi saksi bisu.

Meskipun pernah mengalami kerusakan, Tugu Cokro tetap berdiri kokoh berkat upaya gotong royong warga Desa Cokro dalam memperbaikinya.

Banyak sisa bangunan yang bersejarah yang menjadi saksi bisu perjuangan rakyat Magelang. Meski pun, kini bangunan-bangunan kuna yang bernilai sejarah sudah banyak yang hilang, rusak atau bahkan dirobohkan dengan dalih ‘pembangunan’.

Monumen Perjuangan Rakyat Kabupaten Magelang misalnya, atau yang lebih dikenal dengan ‘Monumen Bambu Runcing’ di desa Tamanagung Kecamatan Muntilan, merupakan salah satu monumen perjuangan rakyat yang terbesar di wilayah ini.

Sekilas, monumen yang berbentuk sepucuk bambu runcing ini memang seperti ‘cerobong pabrik’. Bambu runcing, merupakan senjata andalan para pejuang ketika berperang melawan penjajah Belanda.

Banyaknya monumen peringatan di kabupaten Magelang mengingatkan sejak Perang Diponegoro pada masa penjajahan Belanda sampai pada zaman Perang Kemerdekaan, Magelang telah menjadi ajang perjuangan rakyat.

Penulis

  • Perempuan senja yang hobi nulis dan traveling untuk mencari inspirasi.

    Perempuan senja yang hobi nulis dan traveling untuk mencari inspirasi. Penulis Historical Fiction, Travel love, dan Misteri. Untuk mengenal lebih jauh ikuti FB : tari abdullahdua

Tag:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Arsip

Kategori

Antologi KompaK’O

Random image