I. awal mula
setengah warna pada hari yang sedikit telanjang
aku menemukan rembulan di tengah cahaya matahari
ku mulai mengirim pesan; ada hati yang tertancap mawar
tertulis namamu pada pandangan pertama; bibirmu menawanku
bila kau berkenan, aku akan meminta desir hatimu
yang masih kosong ‘tuk ku isi asmara di sudut dadamu
lalu kutuliskan bulan september tahun 2016 di atas daun mahoni
berharap detak jantung seirama bersama detik jarum jam
kau menatapku malu-malu terlihat setengah enggan
aku pun mengerti tak ada wanita yang mau bersama lelaki berbedak aspal; termasuk engkau
mungkin hanya sebagai teman pengisi sepimu,
manakala sedih mendera seperti hujan deras
II. tatapan kedua
akhir september, aku dan kau kembali berjumpa; empat mata
dekat koridor kota yang berjuluk kembang pada malam festival
aku menemukan secarik rindu di ujung nadimu
entah pada wajah siapa denyut itu kau persembahkan
di pertengahan garisnya terlihat jelas inisial huruf pertama
samar-samar seperti membentuk namaku
bertulis sambung mengetuk ujung rasa,
dan sayup-sayup terdengar suara riuh; membuat hati bergetar
disana aku melihat rona wajahmu
memercikkan warna merah muda dengan tatapan penuh harap
retina mu seolah mengajakku ‘tuk mendekap cinta, dan aku pun memahami
hatimu merebah resah setelah di jeda hari berpeluk sepi; merindukanku
III. saling membuka pintu
sepulang dari perayaan kota,
kita saling mengisi tempat pada hati yang kosong
melukis dinding-dindingnya dengan hiasan berwarna pastel
membuka pintunya dengan genggaman asmara
berdansa di pucuk daun jendela beraroma pinus; seperti rekah senyummu
pada wajahmu,
airnya tampak bergelombang riang
meski kau tak memperlihatkan nada konstan
getaran itu hingga paling relung
kita pun hanyut bagaikan sepasang anyelir merah
lalu berdendang di tengah embusan angin yang membelai lembut, memberi teduh
IV. berkisah kasih
pada malam setengah senja
manakala rindu mencumbu dada kita
kau membuatkanku secangkir kopi
dari rempah-rempah senyumanmu
kala itu aku berada di teras tutur katamu
melihat kisahmu pada buih kopi penuh kasih
dan melihat air wajahmu begitu sejuk
lalu…
serindang rambutmu, kulihat pula pepohonan di keningmu tumbuh berseri
nyiur melambai pada ujung rambutmu yang tersingkap angin; begitu ranum
setelah kopi habis,
debu rindu yang mengombak kala itu, seketika terbalaskan; terbentang terima kasih
tak ada yang lebih indah selain kata rindu tertidur tenang yang dijumpa wajahmu
V. resah serupa gigil
lalu, akhir desember pada malam yang diabaikan bintang
ada hening bertitik cekam
kembali aku menatapmu yang t’lah didekap selimut
pada pelupuk matamu, tumbuhlah pohon beringin berjumlah empat
wajahmu pucat berhambur pekat
napasmu terengah sembarang,
seperti berada dalam labirin pengap
seolah udara enggan terhirup olehmu
pada waktu yang bersamaan,
aku pun digenggam kemelut; badai teramat dingin
dadaku bertanya “hendak kemana kau pergi?”
tak lama, gemuruh masa lalumu menamparku hingga kuterlelap
VI. raga tak bertuan
setelah peristiwa tadi malam,
kau hidup setengah nyawa
kopimu hambar dan senyummu getir
kau pun terpejam mati setengah
aku bertanya pada punggungmu,
ia menjawab, kau pergi menuju pemakaman cinta,
di mana kau mengubur nama yang telah mengasingkanmu
lalu ia tak rela namaku bersebelahan dengan namamu
pada namanya, terpajang jelas wajahmu di dinding hatinya,
dan kulihat dadanya menyimpan erat kotak penyesalan
sementara kau pun masih tersulut oleh asmaranya,
hingga kau gali api cintanya yang hampir padam di dasar tanah
VII. kita ditikam masa lalu
namamu lisa yang kini tergantung antara raga denganku dan jiwa dengannya
terbaring demam bertatap kosong
cinta masa lalumu menancap tajam bagai duri-duri mawar
menusuk hingga menjadi akar
taman di wajahmu terlihat layu dimakan gamang
menjadi luka yang meretakkan dinding hati; begitupun aku
engkau yang menyerah, akhirnya ikut terkubur bersama cintamu yang t’lah mati
sementara aku, hanya mampu menziarahi makammu,
dengan membawa rembesan luka yang tak pernah mengering
jiwa ragamu hilang,
dan aku hanya bertatap kenang melihat serpihan ronamu.
batu ceper, 8 september 2025
#puisipanjang











