Home / Fiksi / Cerpen / Pasangan Tak Disangka

Pasangan Tak Disangka

Pasangan Tak Disangka

Betty mengintip dari balik pilar rumah perkebunan kuno, ke arah rombongan lamaran yang berkumpul di dekat gazebo. Bahkan sekarang, sulit untuk melihat mereka bersama: mantan dan sahabat masa kecilnya.

Dua tahun lalu, ketika Mama jatuh sakit, Betty meninggalkan kampung halamannya. Hubungan jarak jauh tidak cocok untuk semua orang, terutama David—sepertinya.

“Sibuk merencanakan kehancuran mereka, Bautai?” Sebuah suara berat terdengar di sebelah kirinya, dan Betty melompat menjauh dari pilar sambil menjerit.

Jordan mengambil alih tempatnya, bersandar sambil tertawa. “Kau memang selalu mudah terkejut.”

“Jangan panggil aku begitu!” Betty membalas dengan geram kepada bocah laki-laki itu, yang kini telah menjadi pria dewasa, yang pernah menjulukinya bau tai di pesta ulang tahun ketika Betty tanpa sadar menginjak kotoran kucing.

“Tenanglah.” Mata hijau Jordan menyapu gaun musim panasnya lalu cepat-cepat beralih ke pesta.

Dia berdehem. “Jadi, seperti yang kita rencanakan. Kamu buat Halida sadar kalau ini ide buruk. Akan kucoba membujuk David.”

Jordan memutar bola matanya saat menyebut nama adik laki-lakinya, lalu berlari menyeberangi halaman.

“Jordan, tunggu.” Betty menangkap lengannya.

Jordan berbalik begitu cepat hingga kakinya tersangkut di trotoar, dan dia jatuh menimpa Betty. Terjepit di antara Jordan dan pilar, Betty terengah-engah.

“Wah, Bet, kau baik-baik saja?”

Lengan-lengan kekar merangkulnya, bercampur dengan aroma cologne yang segar dan bersih.

Jordan menatapnya, alisnya berkerut.

“Yah, kau tidak berdarah.” Da memeriksa bagian belakang kepala Betty. Napas Jordan yang hangat menyapu telinganya dan mengirimkan getaran di tulang punggungnya.

“Baik. Aku baik-baik saja.” Betty berdehem dan menepis rasa dingin di lengannya.

Apakah Jordan selalu setampan itu?

“Ah, Bet,” Jordan menyipitkan mata ke arah kiri mereka. “Kita punya penonton.”

Di bawah gazebo, ibu Jordan terbelalak lebar, lalu wanita tua itu menyeringai dan membisikkan sesuatu kepada wanita lain.

Oh, tidak! Tante Tiara memang ratu gosip. Dia pasti akan menyebarkan gosip di penghujung malam.

Jordan merangkul lengan Betty.

“Kurasa ini awal yang baik. Apa aku sudah bilang aku menganggapmu sebagai pasanganku?”

Betty berbicara sambil tersenyum paksa. “Jordan Sadewa, beraninya kamu. Bukan itu rencananya.”

“Hanya mewujudkan impianmu, Bautai.” Jordan mengedipkan mata.

“Jangan panggil aku begitu.”

Beberapa anggota keluarga dalam kelompok itu melirik ke arah mereka. Mata David yang menyipit tertuju padanya, senyumnya memudar.

Apakah David merasa bersalah karena kecerobohannya di masa lalu, atau dia hanya cemburu pada Jordan?

Betty berhasil tersenyum lebar ketika dia duduk di kursi putih di samping Jordan dan matanya mulai mencari kenalan lama. Banyak yang telah berubah sejak SMA, tetapi keluarga Sadewa masih tetap ramah. Ada komentar tentang kelulusannya dari sekolah, lalu tentang kenaikan jabatannya di perusahaan ayahnya. Untungnya, tidak ada yang bertanya tentang masa lalunya dengan David.

Betty menghela napas gemetar dan menyesap es teh.

Beberapa meja di seberang, Halida menangkap lengan David, tatapannya tertuju pada Betty seolah meyakinkan pasangannya untuk mengikutinya.

Oh, tidak. Mereka sedang menuju ke arahnya!

Betty menggeser kursinya ke belakang.

Jordan menjulurkan kakinya untuk menghentikannya. “Sudah menyerah?”

Bagaimana dia bisa melupakan sisi kakak laki-laki mantan pacarnya yang ini? Selalu menyebalkan.

“Hentikan, Jordan.”

Kursinya tidak bergerak.

Betty menyikut paha Jordan dan membuatnya melolong, lalu dia berlari.

Dia berhasil melangkah beberapa langkah dengan baik dan hanya terkilir pergelangan kakinya dua kali sebelum akhirnya berjalan jinjit. Ketika sudah berada pada jarak aman, Betty membungkuk dan membuka sepatu hak tingginya.

Jordan berdiri di dekat meja, mengobrol dengan David dan Halida. Si pembuat onar. Dia berjalan menghampiri Betty, lengannya yang besar terayun-ayun.

“Aku pulang, Jordan.”

Di bergulat dengan gesper halus sepatu satunya, hampir terjatuh. “Aku tak peduli David selingkuh.”

Kata-kata yang dia ucapkan pada dirinya sendiri selama enam bulan terakhir—sejak dia mengetahui pertunangan itu—akhirnya terasa nyata.

Jordan berlutut dan membuka kancing sepatunya, jari-jarinya mengusap kulitnya.

“Jadi kau tidak lagi mencintainya?”

“Tidak,” jawabnya lembut.

“Tapi,” Jordan bangkit dan menyerahkan sepatu itu padanya. “Dia menghancurkan hatimu, dan kau belum pernah berkencan lagi sejak itu.”

“Benar. Tapi, mungkin itu yang terbaik.”

Jordan menatapnya, kepalanya tertunduk seolah menangkap setiap kata.

Mengapa dia ada di sini, mengikuti mundurnya ketika keluarganya sedang menunggunya bergabung dengan mereka?

Betty meletakkan satu tangan di pinggulnya. “Kenapa kamu tidak setuju dengan David dan Halida?”

“Hah?” Jordan mengerjap.

“Oh, ah…” dia menggelengkan kepala, menatap keluarganya lagi, lalu ke arahnya.

“Entahlah. Begini. Waktu Ibu butuh alamatmu untuk mengirim undangan, aku tidak menyangka kamu akan menjawab dari nomor telepon lamamu sejak SMA. Waktu kita ngobrol, aku sadar betapa aku merindukanmu.”

“Aku juga merindukanmu.”

Jantungnyaberdebar kencang. Betty menyingkirkan risau yang dia rasakan saat dia dan Jordan mengobrol hingga larut malam minggu lalu. Rasanya menyenangkan memiliki seseorang untuk tertawa bersama. Seseorang untuk membuat rencana bersama. Dia sempat bertanya-tanya, sesaat saja, bagaimana rasanya menjadi wanita yang selalu diinginkan Jordan. Lalu dia menyingkirkan gagasan absurd itu. Tapi sekarang…

“Kalau kau tidak mencintainya, mungkin kau bisa menemukan alasan untuk tetap tinggal.” Jordan menggenggam kedua tangannya, menariknya lebih erat.

Hampir tak bernapas, Betty memeluknya erat. “Seperti apa?”

“Kau akan membuatku memohon, kan?” Senyumn Jordan bergetar, dan ia menelan ludah. ​​”Aku akan merasa terhormat jika kau menghadiri pernikahan denganku. Jadilah kekasihku.”

Betty berjinjit dan mencium pipinya.

“Kamu tahu, kita bisa menghindari pertengkaran kalau kau memulainya dengan itu daripada memanggilku Bautai.”


Bekasi, 13 September 2025

Penulis

  • Rayhan Rawidh

    Penulis genre urban fantasy, chicklit, dewasa, action. Karyanya bisa ditemukan di KBM.id dan fizzo.org,

Tag:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Arsip

Kategori

Terkini

Cinta Kedua & Terakhir: Bab 30

Cinta Kedua & Terakhir: Bab 30

13. Goa Sentono, Bukan Sekadar Tentang Goa

13. Goa Sentono, Bukan Sekadar Tentang Goa

Aku

Aku

Rindu

Rindu

12. Amanat Ya’kub Ağa dan Pesan Sultan Bayezid II

12. Amanat Ya’kub Ağa dan Pesan Sultan Bayezid II

Antologi KompaK’O

Random image