Home / Genre / Fantasi / Cinta Menari di Gerimis Pedang (Part 2)

Cinta Menari di Gerimis Pedang (Part 2)

Cinta Menari di Gerimis Pedang 1600x900
This entry is part 11 of 20 in the series Cinta Menari di Gerimis Pedang

Creng! Creng! Creng! Cring-cring.

Demi menghormati nona penolongnya, Bay mencoba berkonsentrasi untuk mengetahui lagu yang di bawakan si nona. Rupanya refrain ‘Susis- Suami Siyeun Istri’nya  Si Sule OVJ.

Tapi baru saja Bay ingin menutuk saron mengiringi, ketika tahu-tahu kocokan khim berubah gaya menjadi medley dan membawakan lagu yang lainnya, membuat Bay nyengir bego sebab kali ini Nina membawakan lagu ‘The Memori Will Remain’nya Metallica, masih dengan gaya kocokan versi dangdut yang serupa tadi.

Seketika darah muda Bay bangkit. Diketuknya saron dengan notasi mengikuti nada yang dimainkan Na.

Ting-ting-tong. Tong-ting-ting. Tong-ting-ting-ting-tong-ting-tong…

Lirik kembali berubah. Kali ini Na membawakan lagu daerah berjudul ‘Kodok Ngorek’ dan ‘Pilak Bunder Melong-melong’, yang disambung dengan ‘Wak-wak Gung’ serta ‘Anak Gembala’nya penyanyi cilik Tasya yang kini tak lagi cilik itu, dengan petikan kecapi yang mulai bernada pop ceria khas kanak-kanak yang tetap diiringi Bay dengan gairah bermusik yang tambah menggelora. Hingga suatu ketika, Nina memetik kecapinya dengan irama yang amat aneh, merintih tapi sekaligus juga menderu, yang disusul dengan nada patah-patah yang lembut menawan.

Terbawa emosi musik, tanpa sadar Bay melempar saron yang diketuknya lalu bangkit dan mendeklamasikan sebuah sajak penuh kerinduan yang meletik-letik, dengan sepenuh perasaan yang tengah dirasakannya.

kau beri aku sepiring puisi tentang sepi
sambil diam-diam berharap dapat meredam galau di hati
yang telah lama terasa nyeri
yang kusangka telah hampir mati

“Usah khawatir, aku milikmu, tak kemana,” ucapmu
dulu, waktu itu
alpa bahwa waktu
seringkali memiliki kehendaknya sendiri
lupa bahwa situasi
kerapkali jadikan semua tak lagi sehati

aku benar-benar tak tahu jalan pulang… !!!

aku benar-benar tak mengerti

kemana mesti kembali
dan aku: benar-benar tak paham setitikpun lagi
ke mana harus pulang

ke siapa mesti kembali
selain cuma memaknai hari
dengan sedih di dada sendiri…

Creng! Creng! Cring!

“Haaaaaaaaaa!”

Bay berteriak sekuat tenaga, mencoba melepaskan semua resah jiwa yang telah amat lama menyinggasana di dalam dada. Beberapa kelompok burung terbang serabutan mendengar gema teriakannya.

Kesunyian merezim. Tapi kesunyian yang anehnya membawa begitu banyak damai di hati Bay. Kesunyian yang entah mengapa membuat titik tertentu di bagian dadanya terasa plong.

“Bagaimana, Bay, kau merasa ada yang aneh dengan tantiam di antara ginjal dan hati?” tanya Na setelah beberapa waktu berlalu dalam diam.

Bay mengangguk heran. “Bagaimana kau bisa mengetahuinya?”

Tapi bukannya menjawab, Na justru mengajak Bay kembali duduk, dan bertanya tentang tema yang sama sekali tak ada hubungannya.

“Kau pernah mendengar tentang kopi peram?”

Bay menggeleng.

Na meneguk sedikit isi buli-buli dan mengangsurkannya kepada Bay.

“Cobalah. Manfaatnya amat besar bagi kesehatan bathin.”

“Ini bukan berisi tuak?” Bay masih ragu, sementara Na hanya mengangguk sambil tersenyum.

Bay membuka tutup buli-buli dan meneguknya sedikit. Tapi begitu isi buli-buli mengalir di kerongkongan, sontak Bay menenggaknya dengan amat bernafsu.

“Ahhh… Kopi yang amat segaaar!” teriak Bay bersemangat seraya menjilati tetes yang membasah di bibirnya. Sementara Na hanya tersenyum melihat lagak Bay yang agak lebay.

“Kopi peram ini diracik dari biji pilihan, yang dicampur dengan beberapa tumbuhan beracun yang amat ganas dari jenis bunga bernama Cinta yang Menggebu Terlalu DiniRumput Kerinduan Penghancur Konsentrasi serta Akar-Bahar Dusta Kehidupan dan sedikit saripati Akik Bacan,” terang Na, yang langsung membuat wajah Bay sepucat mayat.

“Jangan khawatir, Bay, aku tidak meracunimu. Karena perpaduan antara racun dengan racun pada beberapa keadaan justru menghilangkan sifat racunnya, dan berubah menjadi ramuan yang jauh lebih unggul dari jinsom berusia ribuan tahun atau Jintan Langit yang terkenal sebagai mustika ajaib dunia persilatan itu,” lanjut Na. “Sekarang, coba kau semedi dan serap semua kebaikan dari kopi peramku itu.”

Bay mengangguk dan langsung mengerahkan hawa murninya secara zig-zag ke seluruh nadi yang ada di tubuh. Tapi pada nadi yang terletak antara hati dan ginjal, Bay merasa kurang lancar, seperti ada suatu arus kuat yang coba mementahkan sentakan hawa murninya hingga terpental kembali ke pusar.

Beberapa kali Bay mencoba, namun tetap saja gagal. Bahkan kini tubuhnya bergetar hebat hingga hampir ngusruk ke depan dan terjengkang ke belakang.

Bay nyaris tak mampu bertahan, hingga akhirnya sebuah telapak tangan yang lembut menyangga punggungnya, dan mengalirkan suatu arus tenaga yang kuat dan hangat secara amat perlahan.

Dengan gabungan hawa murni tersebut, akhirnya Bay berhasil mendobrak sekat di tantiam antara ginjal dan hatinya, dan menjinakkan arus tenaga yang tadi menyerangannya dengan amat liar.

Masih beberapa kali Bay mengarahkan hawa murninya secara zig-zag menelusuri tubuh, sebelum akhirnya dia mengakhiri suillan dan bertabik berulang kali kepada Na, yang disambut Na dengan menyingkir ke samping sebagai penolakan.

“Terima kasih banyak atas bantuanmu, Na.” ucap Bay dengan terharu, yang dijawab Na hanya dengan tersenyum.

 ***

Pelajaran Terbaik dari Na.

“Mengapa kau berkali-kali menolong saya, Na?” tanya Bay, sesaat setelah mereka duduk kembali.

“Mengapa kau mempertanyakan hal itu, Bay?” Na balik bertanya. Ada kernyit kecil yang membayang di ujung keningnya.

“Saya hanya ingin tahu alasanmu, Na, karena kau telah melakukan begitu banyak kebaikan untuk saya, padahal kita belum pernah saling kenal sebelumnya.”

Tapi bukannya menjawab, Na justru kembali bertanya.

“Kau percaya adanya Tuhan, Bay?”

Bay mengangguk dengan agak heran, karena pertanyaan Na tak memiliki korelasi sedikitpun dengan pertanyaan awal yang dia ajukan.

“Kau menyembah-Nya?” kembali Na bertanya, dan kembali Bay mengangguk, dengan rasa heran yang kian bertambah besar.

“Apakah kau menyembah-Nya hanya demi memperoleh pahala dari-Nya? Demi mendapatkan surga-Nya? Atau demi terhindar dari sebuah keadaan buruk yang bernama Dosa? Yang kau khawatir karenanya menjadikanmu terlempar ke api neraka?”

Bay mengangguk dengan agak ragu.

“Pernahkah kau berpikir, Bay? Jika saja tak ada dosa maupun pahala, jika memang tak ada surga dan neraka, masihkah kau bersedia untuk menyembah-Nya? Menyembah yang benar-benar murni hanya demi menyembah. Tanpa embel-embel apapun?”

Kali ini Bay tak mengangguk. Benaknya dipenuhi pertanyaan yang baru saja dilontarkan oleh Na.

Ya, jika memang tak ada pamrih atau aturan apapun, jika memang tak ada lagi tujuan serta punish dan reward di dalamnya, akankah saya tetap menyembah-Nya? Tetap menyembah Dia Yang Maha Segalanya. Hanya demi menyembah semata? Hanya demi penghambaan yang utuh kepada Sang Maha Raja Semua Makhluk? Hanya demi cinta tanpa syarat syukur ataupun khawatir? Hanya demi Cinta yang bulat utuh kepada Sang Maha Cinta?

Masih dengan tersenyum kembali Na berkata, “Kau bertanya, kenapa aku menolongmu. Apakah harus ada alasan untuk kita menolong orang lain, Bay? Karena ingin mendapat pahala? Karena ingin dipuji manusia? Atau karena berharap dengan menolong orang, kelak akan ada yang balas menolong kita bila suatu saat butuh pertolongan? Tak bisakah kita benar-benar ikhlas dan bersih dari pamrih ketika menolong orang lain? Menolong yang benar-benar tanpa titip pesan juga tendensi apapun selain sekedar menolong karena ingin menolong?”

Agak lama juga Bay terdiam, hingga akhirnya kembali bertanya, “Kau tak pernah berpikir, Na, bagaimana seandainya saya adalah orang jahat?”

“Tetap aku akan menolongmu,” tegas Na.

“Walaupun saya misalnya orang terjahat dan terbengis yang pernah ada?”

Sebelum menjawab, Na menatap Bay lekat-lekat, untuk kemudian berkata dengan suara yang tak sedikit pun mengandung keraguan.

“Bahkan jika kau benar-benar penjahat kejam yang akan membunuhku usai menolongmu, aku akan tetap menolongmu dan siap untuk bertaruh nyawa. Tapi jangan harap aku mandah untuk dibunuh begitu saja. Aku akan melawanmu dengan segenap kemampuan yang kupunya.”

“Mengapa?” heran Bay.

“Karena kita memang tak perlu mencari alasan untuk berbuat baik, Bay. Karena setiap manusia terlahir dengan fitrah yang baik dan suci.”

Kagum luar biasa Bay akan uraian yang dikemukakan Na. Tapi ia masih ingin mencoba.

“Tapi jika benar seperti itu, mengapa justru ada begitu banyak orang jahat di dunia ini?”

Sepeti paham maksud Bay yang ingin mengujinya, Na tersenyum lembut, membuat Bay untuk sekejap merasa malu sendiri.

“Tidak ada manusia yang benar-benar jahat atau baik di dunia ini, Bay. Karena yang ada hanyalah sudut pandang yang berbeda dari masing-masing mereka,” ucap Na dengan nada yang menutup pembicaraan selanjutnya.

Bay terpaku. Dia benar-benar terpesona oleh begitu banyak pemahaman aneh namun amat logis yang dipaparkan Na, membuatnya sempat berpikir, mungkinkah nona di hadapannya ini bukan manusia? Melainkan makhluk entah apa yang dikirim Tuhan untuk menginstal ulang pemahamannya yang terlalu naïf serta dangkal tentang baik dan buruk, yang selama ini acapkali disikapi secara hitam dan putih semata, dengan menafikan ruang abu-abu bahkan mungkin juga merah jambu atau ungu muda yang terbentang di antara kekontrasannya?

Senja perlahan lesap, menyisakan kegelapan yang mulai mengendap-endap menjemput malam yang pemalu seperti remaja yang baru mengenal cinta.

 “Mengerti. Saya mengerti sekarang,” gumam Bay berulang-ulang, lebih kepada dirinya sendiri. Wajahnya gembira luar biasa mengingat betapa kebijaksanaan telah mengguyur deras akal dan bathinnya.

Ketika danau pengetahuan memaksa masuk ke diri seseorang melalui pintu akalnya yang sempit, maka dia akan bersuara. Dan bersuara jelas amat berbeda dengan berbicara. Apakah suaranya membuat orang lain mengerti? Dia tak mau perduli. Apakah suara yang dikeluarkannya berguna? Dia tak mau tahu. Karena dia bersuara bukan demi tujuan tertentu. Karena suaranya tak lebih dari sekedar suara kosong yang dipaksa keluar oleh isi.

Dan Bay bukanlah seseorang yang seperti itu!

Cinta Menari di Gerimis Pedang

Cinta Menari di Gerimis Pedang (Part 1) Cinta Menari di Gerimis Pedang (Part 3)

Penulis

  • Ahmad Maulana S

    Ahmad Maulana S, lahir di Jakarta.

    Sejak kecil ia terbiasa bertualang. Lulus SMU langsung singgah di sebuah madrasah/sekolah sebagai guru, dilanjutkan dengan menjadi pekerja bengkel, pramuniaga, kuli bangunan, pedagang ayam setan, tukang pasang tenda, pengelola pabrik bulu mata palsu, pemilik lapak barang rongsok, penulis buku puisi dan buku serial pendidikan anak, ghost writer, publisher novel-novel motivasi serta pernah menyelenggarakan kelas fiksi berbayar berbasis online lintas negara.

Tag:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Arsip

Kategori

Terkini

Cinta Kedua & Terakhir: Bab 30

Cinta Kedua & Terakhir: Bab 30

13. Goa Sentono, Bukan Sekadar Tentang Goa

13. Goa Sentono, Bukan Sekadar Tentang Goa

Aku

Aku

Rindu

Rindu

12. Amanat Ya’kub Ağa dan Pesan Sultan Bayezid II

12. Amanat Ya’kub Ağa dan Pesan Sultan Bayezid II

Antologi KompaK’O

Random image