Home / Topik / Humaniora / Haji Bangsat

Haji Bangsat

2

Kisah ini saya peroleh secara numpang lewat saking remehnya, saat menjadi ‘Figur Bayangan’ yang menggelandang kesana-kemari untuk yang pertama kalinya di daerah Barlingmascakeb[1]– Jawa Tengah.

Wis tau krungu kisaeh Kaji Bangsat[2] pa rung, Bay?[3]” Tahu-tahu seorang ibu setengah tuwir nyeletuk kepada saya yang saat itu tengah mati-matian berusaha menerjemahkan hirup demi hirup cairan kesat hitam berkebul, dengan amat khidmat.

“Apa kui, Bu, deneng syerem temen aran kajine?[4] ucap saya dengan logat yang kaku mentok, padahal sudah lebih dari dua tahun berusaha menaklukkan Bahasa Jawa, walau cuma ngapak[5]. Dan agar lebih mudah dinikmati, kita ubah saja semuanya ke dalam Bahasa Indonesia.

Dahulu waktu masih Zaman Dung Tong[6], ada seorang bapak bernama Udin yang pergi haji. Nama lengkapnya mungkin Jalaludin, atau Awaludin, Syaefudin, Syamsudin atau entah Udin siapa lagi terserah kekonyolan pelantun lagu ‘Udin Sedunia[7]’ yang nyebelin sekaligus nggemesin itu. Tapi yang jelas, beliau tidak dipanggil Udin karena selalu bilang sama pemilik warung, “Utang DIngiN, ya” alias utang dulu, ya.

Wuuzzz…. Mendadak sekeliling saya hilang. Tak ada lagi suasana ruang tamu sederhana khas pedesaan tempat saya mengopi. Tak ada lagi perangkat meja dan kursi yang akhir-akhir ini sangat setia menemani jalan sunyi yang tengah saya geluti. Bahkan cangkir kopi saya pun ikut raib entah kemana!

Sayup masih saya dengar tuturan ibu paruh baya itu, yang melantun pelan laksana tembang Mocopat Syafa’at, dengan nada yang melenting ke sana-ke mari bersama lirih gamelan yang ditabuh sebatas pendengaran yang paling minimal.

Dan diantara sayup yang magis itulah saya melayang, mendarat tepat di sebuah gubuk sangat sederhana yang, benarkah masih mirip gubuk itu?

Ini tentu kediaman Pak Udin, bisik saya pada diri sendiri. Benar-benar tak ada satu pun benda berharga di tempat ini. Agaknya peradaban nyaris tidak pernah singgah di tempat ini selain beberapa gerabah kualitas rendah plus peralatan penyambung hidup lainnya yang benarkah ini masih di Indonesia saking minimnya, dan bukannya di pedalaman hutan anu rimba anu yang pernah tercatat dalam novel Mandat dari Pakdhe itu?

Tapi justru dari kesederhanaan itulah saya merasa aneh dan tak habis pikir.

Mengapa Pak Udin bisa pergi ke Mekah? Mengapa anggaran perjalanannya tidak digunakan saja untuk menyulap kediamannya hingga menjadi tempat yang lebih layak lagi untuk ditinggali oleh manusia, misalnya? Serta banyak lagi pertanyaan lainnya yang langsung membawa angan saya bergerilya tentang si anu yang mampu berkurban kambing walau cuma nenek tua pemulung jalanan, atau si itu yang berhasil pergi haji dengan hanya mengandalkan hasil buruh tani serabutannya berpuluh-puluh tahun, yang jika di tangan saya pasti hanya akan menyisakan keluhan betapa amat tak leluasanya penghasilan berbanding harga-harga kebutuhan yang melambung bebas.

Satu-satunya barang dari gubuk reyot ini yang terkesan berharga di mata saya mungkin cuma ini: Seperangkat alat salat pribadi.

Itu pun berharga lebih karena nilai fungsinya sebab tampilannya jelas tak lebih mewah dari kain yang biasa dipakai untuk membersihkan perabot kotor, yang saya yakin tidak akan pernah beliau jadikan mas kawin seperti ‘seremoni miris’ yang sudah terlalu sering kita dengar itu. Karena seringkali seperangkat alat salat semewah apapun, tetap sukar menggugah keinginan yang diberi mas kawin untuk bersemangat dalam salat, terutama ketika si pemberi pun tidak akrab dengan ritual penghambaan itu. Siapa bilang pencitraan hanya terjadi di dunia politik?

Fragmen cepat berubah, suasana kembali berganti sebab hidup memang aktor piawai yang memainkan perannya dengan amat menawan, membawa kita kepada keadaan tahu-tahu yang terus berulang.

Tahu- tahu malam. Tahu-tahu pagi. Tahu-tahu sudah puluhan tahun kita hidup di dunia ini tanpa satu pun karya besar yang pernah kita buat, atau setidaknya satu manfaat yang pernah kita ciprat buah makrifat untuk umat atau mungkin cuma sekadar bagi sahabat.

Pada fragmen yang ini saya lihat Pak Udin berkemas, bersiap menuju karantina calon haji, lengkap dengan perangkat ibadah lusuh tersebut yang agaknya memang tak pernah lepas dari keseharian hidupnya itu.

Tapi, ah… apa itu?

Seperti di zoom ukuran terbesar saya melihat seekor hewan kecil, menyelinap dengan sangat sigap dari kasur butut Pak Udin menuju selipan pecinya.

Ah, Bangsat itu..!!! teriak saya dengan sangat percuma, sebab dunia saya dengan ‘kenyataan’ Pak Udin tak linier, hanya sebatas tuturan dari ibu paruh baya sebagai pendongengnya, yang samar masih saya dengan bisikannya dari ruang entah yang mana lagi.

Alangkah tak hati-hatinya kau, Pak Udin, sesal saya melihat betapa amat sumringahnya hewan penghisap darah tersebut berpindah-pindah dari peci Pak Udin ke kerah bajunya. Kadang hinggap di sakunya, yang tak lama kemudian berjumpalitan –mungkin juga sambil teriak: Wow..!- lalu menyusup dengan sangat membuat takjub ke bagian pakaian lain yang dikenakan Pak Udin, dan menjadi PGT[8] dalam perjalanan spiritual Pak Udin memenuhi panggilan Tuhannya.

Jadilah monster kecil penghisap darah itu pengikut setia Pak Udin, yang dengan penuh taklid menemani setiap gerak kehidupan Pak udin.

Saat Pak Udin thawaf, Bangsat itu ‘SEAKAN-AKAN’ turut thawaf bersamanya. Begitu juga ketika Pak Udin Sa’i, Lempar Jumroh, dan sebagainya hingga beliau kembali ke tanah air.

Pak Udin lahir kembali, lengkap dengan merek religi baru yang disematkan di depan nama dunianya hingga terkesan menjadi amat mentereng: Pak Kaji Udin alias Pak Haji Udin. Sebuah merek yang cukup menggairahkan rasa keagamaan siapapun yang mendengarnya, yang biasanya langsung menerbitkan baik sangka bahwa si pemilik merek tentu telah khatam pula empat Rukun Islam yang lainnya.

Tapi sayangnya, saya tidak tahu kelanjutan kisah hidup Pak Haji Udin tersebut. Apakah beliau kemudian menjadi lebih mabrur, lengkap dengan segala kebaikan yang dirahimkan Allah kepada beliau, atau justru malah berubah menjadi juragan pemulung yang tak lama kemudian sukses menjadi anggota dewan dan menjadi trending topic di twitter? Wallahu a’lam. Hanya saja saya tahu persis kisah Bangsat di peci Pak Haji Udin, yang jika memang mau bersikap adil, kita panggil juga dengan gelar: Haji Bangsat.

Setelah pulang dari tanah suci, tak ada yang berubah dari keseharian Haji Bangsat. Tetap bersembunyi, sambil sesekali menghisap darah Pak Haji Udin juga Udin-Udin yang lainnya. Juga masih istiqamah berjiwa pengecut, yang selalu kembali menyelinap dengan sangat mindik-mindik[9] ketika bahaya buah kelakuannya mengancam. Bahkan bau tubuhnya pun masih tetap busuk juga!

Hingga suatu hari, Haji Bangsat itu memutuskan untuk berkelana sebagai jumper[10] yang terus berlompatan dari satu lokasi ke lokasi yang lainnya, dari satu bentuk ke bentuk yang lainnya, yang dengan kecanggihan GPRS terkini saya masih mengetahui lokasi terakhir loncatan Haji Bangsat tersebut yang… tak disangka ternyata malah sangat sering terdampar lalu singgah dan merasuki diri kita dengan sangat nyamannya!

Mungkin karena kurangnya wara’[11] dalam keseharian kita, tak lagi cuma Bangsat yang bolak-balik jumper ke peci dan atau alat ibadah kita yang lainnya, melainkan justru membuat kita terus-menerus kesurupan hingga akhirnya bermetamorfosa menjelma Super Haji Bangsat.

“Tapi gue kan banyak ngelakuin ibadah, Bay…. Baik ubudiyah maupun uluhiyah, baik amal pribadi maupun jama’i, baik melalui lisan maupun perbuatan juga rangkaian tulisan, baik seagama ataupun lintas agama, buah fermentasi nilai-nilai agama yang gue pahamin dan kemudian gue tuangin dalam berbagai kegiatan kemanusiaan…. Baik Har….”

“Udah…! Udah…! Stoplah dulu, Bro…,” tukas saya lembut, lebih karena malu karena kadang yang berbicara itu bukan orang lain, melainkan diri saya sendiri.

“Pada akhirnya kita enggak lebih cuma seorang Haji Bangsat doank koq, Bro…,” ucap saya pelan dan semakin tenggelam dalam lumpur hina yang penuh aura malu.

Haji bangsat juga ikut beribadah dan melakukan kebaikan. Tapi, beribadah seperti apa? Kebaikan macam yang mana? Dan berbedakah dengan latar belakang dan hasil ibadah kita? Lebih mendekati Pak Haji Udin? Lebih mirip Haji Bangsat, atau…?

Semoga Allah melindungi kita semua dari delusi ibadah itu, aamiin.

***


[1] Singkatan dari Banjarnegara-Purbalingga-Banyumas-Cilacap-Kebumen adalah wilayah yang menjadi prioritas pembangunan ekonomi di Jawa Tengah bagian Barat-Selatan, merupakan bentuk kerjasama lima daerah di Jawa Tengah bagian Barat-Selatan yaitui empat kabupaten yang bergabung dalam eks-Keresidenan Banyumas ditambah satu kabupaten dari eks-Keresidenan Kedu. Kerjasama regional tersebut secara resmi dibentuk pada tanggal 28 Juni 2003.

[2] (Latin: Cimex lectularius), serangga parasit dari keluarga Cimicidae yang dikenal sebagai spesies yang meminum darah manusia dan hewan berdarah panas. Bangsat memiliki banyak nama: kepinding, tumbila, tinggi serta masih banyak lagi nama yang lainnya. Vampir kecil ini biasanya hidup bersembunyi di lipatan kasur, dipan, sela-sela kursi dan tembok yang berlubang-lubang kecil. Pada beberapa daerah di Bandung, bangsat adalah sebutan lain dari maling ayam.

[3] Sudah pernah tahu kisahnya Haji Bangsat atau belum, Bay?

[4] Apa itu, Bu, kok menakutkan sekali nama Pak Hajinya?

[5] Bahasa pasar, bahasa sehari-hari yang dipergunakan oleh masyarakat di daerah Purwokerto dan sekitarnya. Sementara bahasa sehari-hari yang dipergunakan di Jawa Timur biasa disebut Bandekan (bande’an).

[6] Zaman Dung Tong/Zaman Dung Theng: Perkiraan terjadi pada masa penjajahan Jepang. Dung Tong/Dung Theng adalah suara lonceng yang dibunyikan setelah sirine meraung-raung dan merupakan pertanda ‘bahaya’ dari Jepang. Kadang, penduduk menambahi dengan kentongan bertalu-talu. Ketika pertanda bahaya itu menyalak, penduduk diwajibkan masuk di lubang-lubang perlindungan yang sudah dibuat, entah di pekarangan atau di dalam rumah. Minimal sembunyi dibawah kolong. Ini diwajibkan Jepang untuk dilakukan dengan alasan menghindari bom atau peluru.Ketika terdengar bunyi dentuman besar. Pada perkembangan selanjutnya terbukti bahwa hal itu itu hanya akal-akalan Jepang untuk menakut-nakuti penduduk yang ketika mereka bersembunyi di lubang perlindungan maka dimanfaatkan untuk mengangkut hasil panen juga hasil rampasan Jepang ke gudang/pelabuhan. Tak hanya itu, ketika dung tong berbunyi penduduk digiring untuk menceburkan diri dan berkumpul di tengah empang berair sambil menaruh kedua tangan di belakang kepala seperti tawanan perang, untuk di foto. Dan setelahnya, semua lelaki yang ada di foto tersebut diangkut untuk jadi romusha, yang kabarnya tak pernah ada yang kembali lagi. Itu mungkin yang melatar belakangi kenapa hingga kini masih ada orang-orang di pedesaan yang tidak mau difoto.

[7] Lagu yang pernah viral tahun 2011 serta melambungkan nama panggung Udin Sedunia yang memiliki nama asli Sualudin dan berptofesi sebagai pelawak, penyanyi, aktor serta pembawa acara.

[8] Penumpang Gelap Tetap.

[9] Berjalan perlahan sambil berjingkat-jingkat agar tak terdengar atau tak diketahui oleh orang lain.

[10] Istilah dalam dunia elektronika untuk menghubungkan antara dua titik atau lebih jalur komponen yg terputus pada papan PCB. Dalam perfilman, istilah jumper digunakan untuk menceritakan tentang orang yang memiliki kemampuan teleportasi, yaitu pemindahan sebuah obyek berupa materi (atau dirinya sendiri) dari suatu posisi ke posisi yang lain di alam semesta, yang terjadi dalam waktu cepat. Hingga kini kemampuan tersebut masih terus diteliti oleh banyak negara. Tapi anehnya, Indonesia justru mengklaim sudah menguasainya sejak masa Bandung Bandawasa, dengan Ajian Sepi Angin, yang walaupun sukar untuk dijelaskan secara logika namun dipercaya masih ada beberapa orang yang memilikinya. Dalam istilah pertemanan, jumper mengalami pembusukan makna menjadi hanya sekedar orang atau benda yang kegiatannya banyak berpindah dari satu lokasi ke lokasi lainnya, baik lokasi tempat maupun lokasi kepentingan.

[11] Menurut kebahasaan mengandung arti menjauhi dosa, lemah, lunak hati, dan penakut. Para sufi memberikan definisi yang beragam tentang wara’ berdasarkan pengalaman dan pemahaman masing-masing. Ibrahim ibn Adham (w 160 H/777) mengatakan bahwa wara’ adalah meninggalkan syubhat (sesuatu yang meragukan) dan meninggalkan sesuatu yang tidak berguna. Pengertian serupa juga dikemukakan Yunus ibn Ubayd, hanya saja beliau menambahkan dengan adanya muhasabah (koreksi terhadap diri sendiri setiap waktu). Ibn al-Qayyim al-Jawziyah menarik kesimpulan bahwa wara’ adalah membersihkan kotoran hati sebagaimana air membersihkan kotoran dan najis pakaian. Pada praktik yang lebih ekstrim di kalangan para pengamal Tarekat Naqsyabandiyah Al-Khalidiyah YPDKY, karena sikap wara’ terkait dengan kebersihan hati, maka mereka hanya mengkonsumsi makanan yang jelas sumber dan kehalalannya dalam kegiatan i’tikaf. Makanan diolah dalam keadaan wudu dengan senantiasa mengingat Allah. Bahkan makanan berupa daging yang dikonsumsi dalam i’tikaf berasal dari sapi atau kambing yang disembelih sendiri oleh panitia i’tikaf. Hal ini dilakukan untuk memastikan agar hewan disembelih sesuai syariat Islam sehingga terjamin kehalalannya.

Penulis

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Arsip

Kategori

Terkini

Antologi KompaK’O

Random image