Home / Genre / Komedi / Cinde Lara: Bab 13

Cinde Lara: Bab 13

Cinde Lara 1600x900
This entry is part 14 of 27 in the series Cinde Lara

Jun melirik wanita muda yang kini terdiam dan tertidur pulas. Gadis itu tampak sangat lelah. Selain itu, gaun yang dikenakannya kini sedikit robek di bagian bahu dan pinggiran gaunnya berlumuran lumpur, tetapi tetap saja, semua ini tidak mengurangi kecantikannya.

Dia cantik. Kulitnya cokelat zaitun, hidungnya semanis gula kancing, dan rambutnya tergerai ke samping seperti yang dia posisikan, menutupi seluruh wajahnya yang cantik.

Entah bagaimana, Jun mendesah. Dia merasa sangat bertanggung jawab atas semua ini. Tetap saja, bagaimana mungkin dia merasa bertanggung jawab jika dia tidak terlibat?

Dia bermaksud menculik seorang putri untuk mengenalnya, bukan untuk mengikatnya dan meminta uang.

Bagaimana nasib Sam nanti? Sam pasti akan membunuhnya.

Dia mendesah. Dia harus melakukan sesuatu, meskipun bukan untuk apa pun, demi gadis yang tertimpa masalah itu.

“Hei!” teriaknya sekeras mungkin, mengagetkan si Putri Tidur.

“Hei. Kalian, gue perlu ngomong ke lu.” Dia berteriak lagi, berharap salah satu penjahat itu masuk.

“Ngapain lu berisik amat?” gadis itu bertanya, kini sudah bangun.

“Gue kagak tega ngeliat lu digituin,” kata Jun, dan hati Cinde meleleh. Cowok kece itu berusaha menjaganya.

“Hei, preman, penculik, atau siapa pun kalian, ayo kita buat kesepakatan. Aku akan memberitahumu siapa aku agar kalian bisa melepaskan wanita itu.”

Tiba-tiba, suara musik yang khas memenuhi ruangan dan pintu terbuka. Dua pria masuk, salah satunya membawa radio besar yang mengeluarkan suara keras.

“Ada apa, dasar bodoh?” tanya Jang, sambil mengecilkan volume radio.

“Aku bisa memberikan apa pun yang kau mau, biarkan wanita itu pergi,” kata Jun.

Para pria penjahat itu masuk lebih jauh.

“Kami tak butuh kau. Kami sama sekali tidak ingin berurusan denganmu. Kau bukan siapa-siapa, kau bahkan tidak berbicara seperti seorang kaya atau bangsawan. Lihat tampangmu. Kau mengenakan kemeja dan celana panjang, Orang kaya atau bangsawan macam apa yang memakai kemeja dan celana panjang?”

“Jenis pangeran yang tidak ingin terlihat seperti pangeran.” Jun menjawab, “Saya akan memberi awak apa pun yang awak hendaki. Biarkan saya bicara dengan ayahanda saya, saya akan memberi kalian nombornya segera. Saya seorang pangeran. Pengiran Gugus Lintang Johan Pahlawan Muda bin Sultan Johan, putra Sultan Johan. Biasa dipanggil dengan sebutan Junior, atau Jun sahaja.”

Ketika dia mengatakan ini, jantung Jun berdebar kencang dan dia tahu bahwa ini gegabah, tetapi dia harus melakukan sesuat. Kalau dia tidak bisa menyelamatkan Sam, setidaknya dia bisa menyelamatkan gadis itu.

Dia memperhatikan ekspresi terkejut mereka, mereka bertukar pandang dan kemudian salah satu dari mereka bergerak ke arahnya, menatapnya seolah mencoba melihat apakah dia benar-benar seperti yang dia katakan.

“Kau? Pangeran Jun?”

Dia mengangguk.

Pria itu berjalan semakin dekat dan dia meninju rahang Jun. Orang-orang itu tertawa terbahak-bahak.

Kemarahan menggelegak dalam diri Jun ketika dia meludahkan darah. Mereka tidak mempercayainya. Inilah satu-satunya saat dia sangat membutuhkan mereka untuk mempercayainya, tetapi mereka justru menganggapnya berbohong.

Dia mendesah.

“Lu baek-baek aja?” tanya Cinde dan Jun mengangguk,

“Ya.”

“Lain kali kau mencoba omong kosong itu, aku bersumpah, akan kuakhiri hidupmu.” Salah satu pria itu mengancam sebelum berjalan mendekati Cinde.

Dia mencengkeram pipi Cinde. Tangan kapala bajingan yang dingin dan kasar di kulit lembutnya.

“Hei, mamacita, kau tahu aku tidak punya banyak waktu untuk omong kosong ini, apa kau siap memberiku nomor telepon orang tuamu?”

“Aku mengatakan yang sebenarnya, kumohon, aku bukan seorang putri, semua ini hanya untuk pertunjukan.”

Penculik menampar pipi Cinde dan gadis itu menjerit.

“Kamu gila? Tidakkah awak tahu bahwa hanya orang biadab yang memukul seorang perempuan?” Jun berteriak dan pria lain memukulnya dari belakang. Begitu tiba-tiba hingga kursinya jatuh. Kedua pria itu tertawa dan saling beradu kepalan tinju.

“Itu peringatan terakhir untuk kalian berdua. Ayo pergi, Bro. Waktu kami balik lagi, kami akan datang membawa peralatan, Nona. Kau pasti ingin kulit lembutmu itu ditandai..”

“Akan kubocorkan untukmu.”

Pria lain itu menjawab dan mereka tertawa lagi sebelum meninggalkan ruangan dan menaikkan volume radio sekali lagi.

“Ya Tuhan, lu baek-baek aja?” tanya Cinde.

Jun jatuh ke tanah dengan kursi terbalik. Rasa sakit yang luar biasa karena kedua tangannya berada di belakang kursi, sehingga tubuhnya dan kursi itu menekan telapak tangannya dengan kuat. Menyebabkan rasa sakit yang luar biasa.

Dia mengerang.

“Kampang!” Jun mengumpat kesakitan.

“Lu bisa bediri?” tanya Cinde.

“Tidak,” jawab Jun. “Aku benci bajingan itu,”

“Maaf, bagaimana kau bisa berdiri sekarang?”

Jun mendesah.

Dia menggeliat kesakitan. Ujung-ujung tali mengiris dalam-dalam kulit di sekitar pergelangan tangannya, mengirimkan siksaan tajam ke tulangnya. Dia memejamkan mata dan semakin dia berhasil menyesuaikan diri, semakin dalam rasa sakitnya, hingga ida menyadari dia hanya bisa melakukan satu hal. Dia harus mematahkan tulang ibu jarinya, tetapi astaga! Itu akan sangat menyakitkan.

“Ya Tuhan!” Dia meneteskan air mata saat kesadaran itu menghantamnya.

“Ada apa?”

“Saya harus melakukan sesuatu dan saya betul-betul perlu Anda mengalihkan perhatian saya sekarang.”

“Lu ngomong apaan, sih?”

“Cakap sajalah sesuka Anda.”

“Seperti apa?”

Jun mengerang. “Apa saja.”

“Oke, baiklah. Sekalian gue latihan bahasa Indonesia yang baik dan benar. Aku rasa semuanya tentang Sultan dan Ratu yang mencarikan istri untuk putra mereka benar-benar buang-buang waktu.”

“Sungguh, kenapa?” tanya Jun, menekan ibu jarinya ke telapak tangan satunya yang tertekuk dan terikat.

“Karena aku yakin dia seharusnya sudah cukup umur untuk menikahi siapa pun yang dia suka.”

“Dan?”

Jun menekan begitu keras sampai dia merasakan sakit yang tajam menusuk seluruh tubuhnya dan dia berteriak nyaring.

“Huuush! Diam! Mereka bisa mendengarmu!” bisik Cinde.

Jun menarik napas dalam-dalam lalu membuang napas pendek sambil melepaskan tangannya dari tali.

Karena ibu jarinya sekarang patah, dia bisa melepaskan tali itu. Itu adalah hal yang paling menyakitkan, tetapi semenit kemudian, tangannya bebas.

Cinde memperhatikan, tercengang. “Bijimana lu bisa, eh… bagaimana kamu bisa?” tanyanya sambil memperhatikannya saat Jun menggunakan salah satu tangannya untuk melepaskan tali di kakinya sementara tangan lainnya diposisikan sedemikian rupa sehingga menunjukkan rasa sakit. Cinde menyadari ibu jari cowok itu sedikit bengkok dan dia tahu apa yang telah dilakukannya.

“Ya Tuhan! Jempolmu cuklek?”

“Hanya tulangnya saja. Ayo, kita harus segera keluar dari sini,” kata Jun cepat dan hampir melepaskan tali di tangannya ketika suara radio yang tadi menghilang mulai kembali lagi.


BERSAMBUNG

Cinde Lara

Cinde Lara: Bab 12 Cinde Lara: Bab 14

Penulis

  • Alexis

    Pengarang  novel Lamaran atau Pinangan? (Pimedia, 2022) dan (Deception) Ingkar Jodoh (Pimedia, 2022). Segera terbit, Penyintas Terakhir.

Tag:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Arsip

Kategori

Terkini

Antologi KompaK’O

Random image