Home / Genre / Fiksi Sejarah / 5. Pengangkatan Sultan

5. Pengangkatan Sultan

Muhammad al-Fatih
This entry is part 7 of 20 in the series Muhammad al-Fatih

Dalam situasi tersebut, Mehmed dan Syekh Aaq Samsedin pun datang ke ruang dewan. Mehmed pun mengetahui rencana Çandarlı Halil Pasha, dan kemudian menghentikan insiden yang tengah terjadi.

“Çandarlı Halil Pasha, lepaskan Molla Hüsrev dan para pasha-ku! Jangan bertindak semena-mena terhadap amanah yang diberikan ayahku.” Tegas Mehmed.

“Jika engkau tak melepaskan Molla Hüsrev dan para pasha-ku, dengan terpaksa aku akan mengeksekusi Atmaca di halaman istana.” Ancam Mehmed kepada Çandarlı Halil Pasha.

Çandarlı Halil Pasha pun terpaksa melepaskan Molla Hüsrev dan para pasha yang tidak memilih Şehzade Ahmed. Karena, Atmaca terlalu berharga bagi Çandarlı dibanding semua orang yang ia ancam termasuk Molla Hüsrev.

Ternyata, pengetahuan dan pengalaman politik Mara Hatun patut diacungi jempol. Selain bergerak untuk menawan Atmaca, Mara Hatun pun memerintahkan Karaca untuk memberitahu Syeikh Aaq Samsedin secara rahasia tentang rencana Çandarlı Halil Pasha. Pada akhirnya, rencana yang dijalankan oleh Halil Pasha pun gagal.

Karaca adalah penjaga Mara Hatun yang kini menjadi orang kepercayaannya dan Karaca tidak pernah mengkhianati Mara Hatun.

“Untuk kelangsungan negara Utsmani yang tidak pernah membiarkan tahta kosong dari pemiliknya, dengan izin Syeikh Aaq Samsedin, aku akan mengangkat şehzade yang lebih matang dari şehzade yang lain.” Tegas Mara Hatun.

“Aku tidak akan membiarkan negara ini jatuh oleh kecerobohan dan ambisi seseorang. Oleh sebab itu, negara harus dipimpin oleh şehzade yang lebih pantas.” Lanjut Mara Hatun.

Dalam pikiran Çandarlı Halil Pasha, ia sudah menduga yang akan diangkat menjadi sultan adalah Şehzade Mehmed. Namun, demi ketertiban istana, Halil Pasha hanya bisa berdiam saja. Begitu pun Halime Hatun, ia pun tak bisa berbuat banyak.

“Aku, Mara Hatun istrinya Sultan Murad Han dan juga Haseki¹ demi ketertiban di istana ini, aku memutuskan yang naik tahta mengganti Sultan Murad Han, adalah Şehzade Mehmed.” Tegas Mara Hatun.

“Ya, Mara Hatun. Di dewan pun sudah jelas suara yang paling banyak adalah suara yang diberikan untuk Şehzade Mehmed. Namun, Çandarlı Halil Pasha tidak menerima hasilnya. Justru ia menentangnya.” Balas Molla Hüsrev.

“Karena sudah jelas siapa yang akan naik tahta secara sah, maka tak ada lagi seorang pun yang akan menentangnya. Syekh Aaq Samsedin, mari kita persiapkan upacara pelantikan Şehzade Mehmed menuju Sultan Mehmed” Lanjut Mara Hatun.

“Baiklah, Mara Sultan.” Jawab Syekh Aaq Samsedin.

“Mari anakku, kita lakukan persiapan demi kelangsungan negara. Sebab, ayahmu telah menyerah atas tahta yang diamanahkan kepadanya.” Lanjut Syekh Aaq Samsedin.

Seluruh istana Edirne tengah sibuk mempersiapkan Şehzade Mehmed untuk menjadi sultan.

Şehzade Mehmed masih berusia 11 tahun. namun, pada itu ia harus menjadi sultan negeri yang besar dan penuh tantangan besar.

Kaftan² dan jubah kebesaran sedang dibuat dengan sebaik mungkin. Makanan dan minuman pun sedang dimatangkan untuk dibagikan ke meja-meja tamu kehormatan.

Şehzade Mehmed sudah siap untuk naik tahta.


¹Haseki: Kepala urusan rumah tangga, yang ditugaskan kepada istri sultan.

²Kaftan: Adalah pakaian yang menyerupai gamis, yang berasal dari peradaban Mesopotamia Kuno.

Muhammad al-Fatih

. Percikan di Istana . Mehmed Naik Tahta

Penulis

Tag:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Arsip

Kategori

Antologi KompaK’O

Random image