Cinta sejati itu diuji dengan banyak hal. Salah paham, kecemburuan,ego dan tekanan.
Cinta sejati hanya mampu dilalui bagi mereka yang kuat dan sanggup untuk mempertahankan cinta mereka ,ketika masalah datang silih berganti,ketika kesalahpahaman terjadi dan ketika hati ingin melangkah pergi. Bukankah begitu, Cinta?
Cinta sejati itu hanya milik mereka yang berjiwa kuat, iya kan, Sayang? Setia serta mempertahankan hanya satu orang dalam hidupnya, beberapa pujangga mengatakan begitu pada syair-syair mereka yang tertuang indah.
Kau tahu kan, bahwa pengendali semua itu adalah hati dan pikiran.
Hati banyak menimbang dan pikiranlah yang memilih
Cinta sejati hanya dimiliki oleh orang yang setia
Yang hanya memilih pada satu pilihan ketika banyak pilihan lain yang lebih baik datang. Ah, bisa saja semua itu hanya teori.
Suatu hari nanti,aku yakin Sayang….
Akan ada hari penuh maaf
Akan ada hari penuh air mata bahagia
Akan ada hari kita lupakan kesalahan
Semua yang terjadi adalah ujian Tuhan
Tuhan menguji cinta dengan banyak cara
Ada salah paham, ada salah kata, benci dan rindu. Namun,sesakit apapun …. kau selalu kunanti. Akan kutulis cerita indah kita menjadi mahakarya yang bisa menggetarkan hati dan perasaan setiap insan.
Cinta tidak memiliki batas kadar tertentu, di mana, kapan, dan kepada siapa. Karena cinta adalah perasaan terindah anugerah setiap insan di bumi bagi yang mencintai. Jiwa dan hati yang memilih.
Mempertahankan yang harus dipertahankan, memperjuangkan apa yang harus diperjuangkan. Sekali pun onak duri terasa menancap di kaki-kaki kita. Karena perjuangan hidup tiap orang tidaklah sama, apapun itu, badai pasti menghampiri, sesekali menerjang dan menghempas ‘sayap-sayap’ yang kita punya.”
Kau begitu antusias menceritakan segala keluh kesahmu kepada sambil menikmati indahnya pelangi di ambang sore nan kian layu. Kau tuliskan madah-madah di secarik kertas yang kau simpan di tas lusuhmu. Hanya itu yang selalu kau bawa.
my prayers echo in the trough of the heart, hanging on the edge of longing, stretch to the firmament, cross two ocean to the ends of the continent.
Ah, betapa indahnya, meski aku tak paham bahasamu. Kau ajarkanku tentang indahnya bahasa cinta yang membuatku jatuh cinta padamu di setiap detik. Hatiku menghangat, tatkala namamu menggetarkan rongga dada ini. Iya, itu hanyalah kau yang selalu ada dalam tiap doa yang tersemat. Namamu indah dan mampu menggetarkan relung kalbuku.
Di Bulan Cinta, meski kau terdiam membisu, aku takkan begitu. Aku kan hidupkan namamu di sanubari. Kaulah yang telah memayungi taman hatiku. Menebarkan biji-biji cinta dan kasih sayang bersama salam mentari bertemankan harapan terindah.
“Kau tahu kan, aku mencintaimu,” katamu.
Meski terkadang ketiadaanmu adalah kebebasanku. Ketiadaanmu adalah ujian perasaan terdalamku. Kau tahu? Cintaku tak hanya terbatas di Bulan Cinta. Cintaku adalah cinta yang kusebar setiap detik, setiap masa. Tak hanya padamu, Sayang. Janganlah kau cemburu. Kau adalah aku, kita adalah satu. Kubagi cinta dan hatiku untuk mereka juga. Namun, dirimu adalah rumah ternyaman untuk ditinggali. Tempat ku berteduh saat tangisan gerimis melanda hati.
“Aku datang padamu tidak membawa apapun, hanya sehangat rindu yang ingin kutaburkan di sini, supaya kamu pun bisa merasakan bahwa rinduku selalu ada untukmu. Dalam diam, kamu tetap ada. Kita telah berjalan bersama, memulai dari titik minus, bukan dari nol lagi. Kita pernah terjatuh berulang kali. Menangis dan tertawa bersama.”
Aku bukanlah pujangga, Sayang. Aku tak pandai bermain kata. Aku hanya mampu torehkan semua rasa ini demi dirimu, dia, dan mereka. Meskipun tlah jauh aku berjalan, ku ingin kau kembali, pulang padaku.
Untuk: Fidèlé Amour-ku di jarak 12.000 kilometer
Ruang Rindu.











