Ghea akhirnya tertidur dengan kepalanya penuh dengan pikiran, dan ketika kemudian terbangun karena Lastri menarik tirai jendela. Hari telah pagi. Dia tidur begitu nyenyak tanpa gangguan mimpi buruk. Dia tidak bermimpi sama sekali.
“Selamat pagi, Gusti Putri. Semoga Gusti Putri mimpi indah semalam,” Kata Lastri sambil membawakan secangkir teh melati yang diterima Ghea dengan rasa terima kasih.
“Justru tidak mimpi apa-apa, dan awalnya aku tak bisa yidur sama sekali. Maksudku, dengan semua masalah yang ada di kepalaku. Apakah wanita merayu pria? Sejujurnya, bukankah pria yang harusnya merayu wanita? Aku semalaman bertanya-tanya tanpa mendapatkan jawabnya.”
Tawa Lastri terdengar wajar. Ghea merasa dirinya semakin akarab dengan gadis itu. Setidaknya, dia telah membuat kemajuan dalam sehari.
Jalan masih panjang, girl! katanya pada diri sendiri.
Lastri yang sedang membereskan isi lemari berbicara, “Hamba juga memikirkan apa yang Gusti Putri harus lakukan, dan jika Gusti Putri tidak keberatan…”
Mata Ghea terbelalak. “Kamu baik sekali, Susan. Katakan padaku.”
Lastri tampak senang dan meletakkan kemoceng di atas meja, lalu mendekati Ghea.
“Hamba rasa kita harus mencari tahu apa yang disukai Gusti Pangeran dan kemudian Gusti Putri memberikannya padanya.”
“Aku tidak mengerti maksudmu.”
“Bukankah begitu cara para pria melakukannya? Mereka mencari tahu apa yang disukai seorang wanita dan mereka berusaha untuk memenuhi keinginannya.”
“Tidak ketika mereka berdua saling membenci seperti kucing dan anjing,” jawab Ghea, tapi kemudian memikirkannya.
Lastri ada benarnya.
“Di mana suamiku sekarang?” tanyanya.
“Gusti Pangeran sedang pergi untuk perjalanan paginya. Tapi ada Citraprana.”
“Citraprana?”
Dia mengangguk. “Penasihat pribadi Gusti Pangeran.”
“Baiklah kalau begitu,” kata Ghea, duduk saat adrenalin memompa ke dalam pembuluh darahnya. “Apakah kamu mau melakukan pekerjaan telik sandi?”
“Ya, Gusti Putri.”
“Yah, aku membebaskanmu dari pekerjaanmu pagi ini. Bersikaplah baik padanya, Coba cari tahu apa yang kamu ketahui tentang suamiku darinya.”
Lastri menyeringai, tampak lebih bersemangat daripada Ghea sendiri.
“Kamu bisa meminta Dini untuk mengambil alih. Cari tahu segalanya dan alasan mengapa dia mungkin membenciku. Aku bisa mulai dengan itu. Diikuti dengan apa yang dia suka pada wanita. Warna favoritnya. Ke mana dia menghabiskan waktunya… nama pelacurnya juga,” kata Ghea mengangkat alisnya saat Lastri menahan tawa. “Ingat, jangan membuatnya curiga. Ini seperti perang. Kamu harus—”
“Lebih pintar dari kancil dan licik seperti burung hantu,” Lastri menyela dan terlihat sangat serius. Ghea menahan tawanya. Lastri menyebut hewan dalam perumpamaan itu terbalik, tetapi dia mendapatkan gambarannya.
“Wah, kamu hebat, Susan,” katak Ghea tersenyum lalu menyesap tehnya. Lastri melepas celemek yang dia pakai dan melipatnya dengan rapi, kemudian melepaskan gelung rambutnya sehingga rambut hitam panjangnya yang indah tergerai di punggungnya.
Ghea terkejut ketika menatap bayangan Lastri di cermin. Gadis itu benar-benar cantik.
“Mengapa kamu menyembunyikan kecantikanmu selama ini? Dan mengapa sekarang baru kamu tampakkan, Susan?”
Lastri menjawab sambil terkikik. “Hamba belum menceritakannya kepada Gusti Putri, ya? Hamba rasa Citraprana menyukai hamba dari cara dia menatap. Jadi hamba harus membuat lebih mudah untuk membuatnya berbicara.”
Ghea tertawa tergelak-gelak. “Tos dulu!”
Lastri menatap Ghea keheranan, tak mengerti maksud Gusti Putri-nya. Ghea mengutuk dirinya dan siapa pun juga yang menciptakan kata ‘tos’.
“Apanya yang keras, Gusti Putri?” Lastri bertanya.
“Bukan keras, satu telapak tangan aku dan tanganmu kamu saling beradu di atas, semacam upacara antar teman.”
Gadis itu mengingatkan dia pada Susan dan itu membuat Ghea semakin merindukan bestie-nya.
Ghea turun dari tempat tidur dan pindah ke cermin. Empat manekin kepala di atas meja menarik perhatiannya. Ada empat dari mereka dan wignya memiliki warna dan jenis yang berbeda. Pirang dan keriting, merah lurus, hitam dengan poni dan yang terakhir adalah warna cokelat ikal pendek.
Mengapa Ghea masa silam membutuhkan semua rambut palsu ini? Apa yang harus dia sembunyikan?
Kemudian matanya menangkap bunga-bunga indah di atas meja yang dia dapatkan tadi malam dan semuanya menjadi jelas. Dia menggunakan rambut palsu ketika menyelinap keluar untuk menemui kekasihnya!
Tuhan! Aku benar-benar lupa bahwa aku memiliki kekasih yang menakutkan di luar sana. Aku benar-benar lupa!
Perselingkuhan yang bisa merusak begitu banyak kesempatan. Lebih buruk lagi, dia bahkan tidak mengenalnya.
Ini adalah saat dia benar-benar menginginkan kembali mimpinya sehingga dia bisa melihat dirinya di masa lampau dan berbicara untuk mendapatkan penjelaskan.
Sabar Ghea, sabar…
Terdengar ketukan di pintu.
“Masuk!”
Nunung melangkah lalu membungkuk.
Ghea memberinya senyuman hangat.
“Bagaimana kabarmu hari ini?”
Nunung tersenyum sambil mengangguk. “Baik, Gusti Putri.”
“Aku sudah menyuruhmu untuk lebih sering tersenyum dan jangan takut padaku,” goda Ghea.
“Baik, Gusti Putri,” ucap gadis itu masih tetap menunduk, tapi senyumnya semakin mengembang.
“Sempurna,” kata Ghea sambil bertepuk tangan dan menyerahkan cangkir teh padanya. “Tuangkan teh untukkuu juga sebelum menjadi dingin, kemudian kita bisa membereskan lemariku”
“Terima kasih, Gusti Putri,” kata Nunung dan mengambil cangkir yang setengah terisi.
“Apakah kamu suka konde rambut palsu ini?”
Nunung melihat wig yang ditunjuk Ghea dan dia mengangguk.
“Rambut palsu itu terlihat cantik ketika Gusti memakainya.”
Ghea mengerutkan kening. “Betulkah?”
Nunung mengangguk.
“Aku mencoba mengingat kapan terakhir kali aku memakainya—”
“Seminggu yang lalu. Gusti Putri memakai yang cokelat setiap Respati kedua setiap bulan.”
Kamis kedua setiap bulan….
“Oh! Aku tidak benar-benar lupa kalau aku memakainya setiap hari Kamis, entah ke mana dan melakukan apa pun yang aku lakukan, itu hanya kebetulan. Kenapa kamu tahu kalau hari Kamis aku memakai yang cokelat dan bukan hitam?”
Nunung mendengus. “Gusti Putri menyuruh hamba untuk menyisirnya malam itu setelah memasangnya di kepala Gusti Putri.”
Baiklah.
“Daya ingatmu sangat bagus. Aku sangat bangga padamu.”
Nunung tersenyum puas dan Ghea melanjutkan. “Jadi, hari apa saja aku memakai yang lain?”
“Ya… ehm…,” wajah Nunung mendadak pucat kehilangan rona dan tampak malu. “Entah, Gusti Putri.”
“Jadi menurutmu yang mana yang harus kupakai Kamis depan?”
“Ya… hamba pikir surat-surat itu memberi tahu Gusti Putri mana yang harus dipakai.”
Ghea tercenung.
Jadi aku memakai wig berdasarkan permintaan dari kekasih rahasiaku.
Ghea menghela napas dan memaksakan bibirnya tersenyum. ”Tentu saja, aku hanya menguji seberapa tajam ingatanmu dan aku bisa melihatmu memang sungguh pintar. Kenapa aku tidak pernah menyadari sebelumnya? Aku ingin kita lebih akrab, lebih dari sekadar menak dan emban. Minum tehmu dan kemudian kita bereskan isi lemariku. ”
Nunung tersenyum dan meneguk minuman, dan Ghea menatap cermin. Aku menyentuh ikal lembut rambut cokelat dan melihat ke cermin pada saat yang sama.
Apa yang harus aku lakukan denganmu, Ghea? Kamu telah menjadi gadis yang sangat nakal. Bagaimana caranya aku membereskan semua kekacauan ini dalam waktu yang sangat singkat?










