Home / Genre / Romansa / TTS (Mi Dulce Amiga)

TTS (Mi Dulce Amiga)

Mi Dulce Amiga

Kau seperti biasa. Selalu tersenyum, tertawa, seolah-olah tiada beban terasa. Tampilanmu begitu memesona mataku. Kau bahkan tidak peduli dengan begitu banyaknya mata yang memandangmu. Memandang setiap pesona yang kau miliki.

Ah, mengapa kau selalu membuatku berdebar tak menentu? Debaran yang kurasa bagai ombak-ombak kecil di hatiku. Ingin menggapaimu, tapi tiada daya menjangkaumu yang di sana.

Kau bicara dengannya, pria berlesung pipi penuh wibawa. Dan kau pun tertawa bersamanya. Tanpa pernah hiraukan rasa yang ada dari seseorang yang selalu menyimpannya di hati terdalam.

Mi Dulce Amiga, tahukah kau, bertahun-tahun, kunantikan dirimu, menjadi bagian sejarah dari  hidupku. Yang selalu tertoreh di setiap madah di atas kertas-kertas usang. Hanya tentangmu saja. Kau tak pernah menganggap bahwa kau sangat berharga.

Kau tak tahu ada seseorang yang  diam-diam mendambamu, Mi Dulce Amiga. Kau yang terindah yang selalu dipuja. Semua yang melekat padamu adalah  kesempurnaan yang kau miliki. Tanpa kau sadari.

Hingga akhirnya, kau pergi tanpa sepatah kata.  Kau ke mana? Kau di mana? Mengapa tiada jawab? Dan mengapa pula kau tampak tergesa?

“Aku harus pergi karena tiada restu untuk kita. Biarlah kita tetap menjadi TTS, Teman Tapi Sayang. Aku tahu. kau sayang padaku, bahkan ku tahu pula, rasamu lebih dari itu,” katamu sebelum kau pergi.

Mi Dulce Amiga, kau pergi dengan membawa semua rasa yang tak bisa atau bahkan tak pernah mudah untuk kau ceritakan. Sore di kereta itu, kau pergi meninggalkan Madrid, entah ke mana. Kurasakan kehilanganmu, Mi Dulce, Estas tu?

Kau kirim kabar bahwa kau tengah mengejar cita-citamu, di sana.Lebih tepatnya di Barcelona. Kau ingin bahagiakan semua orang yang dekat denganmu. Apapun bentuknya. Kau berjuang keras demi mimpi-mimpi yang akan kau raih.

Kau selalu kirimkan kabarmu melalui goresan puisi-puisi indah yang kau kirimkan  lewat aplikasi padaku. Kau begitu lihai mainkan setiap rima dan irama yang kemudian kau jadikan ritme, tempo, dan nada pada alunan musikmu, yang kau iringi bersama petikan gitarmu.

Kau sungguh bahagia. Kau pastinya tahu apa yang kurasakan kala jauh darimu. Kau tuliskan lagi bait-bait puisi yang akhirnya menjadi nada-nada cinta.

Hari itu kau kembali, Mi Dulce Amiga. Aku sudah sangat bahagia karena keberadaanmu kan  segera bersamaku. Tak kau sadari. Tak ada yang kau ketahui, pun aku.

Kau datang di hari itu membawa bahagia, hanya untukmu, bukan untukku. Kau bawa  bahagiamu, ternyata_ apa yang kulihat bukan untuk bahagiaku. Kau datang bersamanya, pria terbaik  menurut pilihanmu, yang kau sebut, Mi Amor.

Ah, dada ini terasa sangat nyeri. Sungguh. Bahkan kau pun tak mampu menjabarkannya andai kau sendiri yang mengalaminya. Kau hanya berpikir bahagia bersamanya, pangeranmu yang telah menjadikanmu ratu yang bertahta di hatinya. Satu-satunya dirimu, Mi Dulce Amiga.

Kaurasakan semua rasa itu datang menyapa. Hingga saatnya kaubawa berita duka. Dia yang kaucinta telah mendua dan berdua bersamanya, dirinya yang lain. Semua tangisan sedihmu untuknya tak pernah ada tanggapan, bahkan justru kau kian merana karena cintanya.

Kian hari kau kian terpuruk. Dan hari itu, kau telah melupakanmu sendiri, menjadi bukan kau yang dulu. Siapa yang kau tahu kala itu? Kau pun bahkan tak mengenaliku lagi.

“Hai, aku datang padamu, Mi Dulce Amiga. Aku TTS-mu, kau ingat?”

Kau menatapku dengan tatapan kosong. Kau tak mengenalku. Cintanya telah membuatmu lena, kau tak pernah tahu, jiwamu terluka karenanya. Dan rumah sakit jiwa ini saksi, jiwaku pun terluka.

Penulis

  • Fidele Amour

    Fidèlé Amour adalah nama pena dari wanita kelahiran Temanggung, Jawa Tengah, berzodiak Libra. Memiliki hobi belajar bahasa asing, mendalami huruf-huruf Jawa dan bahasa Jawa sebagai wujud dukungan terhadap program Revitalisasi Bahasa Daerah. Gemar menulis artikel, puisi, cerpen, dan cerbung, terutama cerpen dan cerbung berbahasa Jawa. Telah menerbitkan beberapa karya solo dan antologi berbagai genre.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Arsip

Kategori

Terkini

Cinta Kedua & Terakhir: Bab 30

Cinta Kedua & Terakhir: Bab 30

13. Goa Sentono, Bukan Sekadar Tentang Goa

13. Goa Sentono, Bukan Sekadar Tentang Goa

Aku

Aku

Rindu

Rindu

12. Amanat Ya’kub Ağa dan Pesan Sultan Bayezid II

12. Amanat Ya’kub Ağa dan Pesan Sultan Bayezid II

Antologi KompaK’O

Random image