Home / Genre / Fiksi Sejarah / 13. Perebutan Tahta

13. Perebutan Tahta

Muhammad al-Fatih
This entry is part 15 of 20 in the series Muhammad al-Fatih

Mara Hatun segera menemui Zağanos Pasha.

“Zağanos Pasha, aku mendengar pembicaraan Atmaca dengan Çandarlı Halil Pasha. Mereka menerima surat dari Orhan Çelebi. Tahukah engkau, itu apa artinya?” Kata Mara Hatun.

“Aku tahu, Mara Hatun. Orhan Çelebi masih terus berambisi untuk menjadi sultan.” Jawab Zağanos Pasha.

“Maka, kau harus memberi tahu Şehzade Mehmed yang berada di Manisa untuk segera ke Istana ini.” Lanjut Mara Hatun.

“Baik, Mara Sultan.” Jawab Zağanos Pasha.

Tanpa membuang waktu, Zağanos Pasha segera berangkat menuju Manisa.

Sementara, setelah menemui Zağanos Pasha, Mara Hatun pun menemui Şahabettin Pasha untuk membicarakan hal penting.

“Şahabettin Pasha, temui Doğan Ağha, dan berikanlah surat yang bercap biru. Setelah itu, kau temui Bali Bey, dan berikanlah surat yang bercap merah.” Perintah Mara Hatun.

“Sebelum engkau berangkat menemui Doğan Ağha, dan Bali Bey, kau temui Halime Hatun, dan Şehzade Ahmed terlebih dahulu. Lalu, dengarkanlah perkataanku dengan memberi surat yang bercap abu.” Lanjut Mara Hatun.

Şahabettin Pasha pun mendengarkan apa yang akan dibicarakan oleh Mara Hatun.

Di Konstantinopel, Orhan Çelebi melakukan persiapan bersama Sahibi untuk kenaikan tahtanya. Berbekal dukungan Çandarlı Halil Pasha, Orhan Çelebi begitu yakin, ia akan menjadi sultan. Orhan Çelebi pun meminta bantuan secara diplomatis kepada Kaisar Konstantinos XI Palaiologos untuk memberikan pasukan pendukung agar dapat dengan lebih mudah ia naik tahta.

“Kaisar, kau sudah mengetahui, apabila Mehmed naik tahta, dan menjadi sultan, tujuannya sudah jelas. Namun, jika aku yang naik tahta, aku akan ikut menjaga Konstantinopel bersamamu.” Kata Orhan Çelebi kepada Kaisar Konstantinos XI Palaiologos.

Dengan bahasa yang mudah dipahami kaisar, maka ia memberi dukungan kepada Orhan Çelebi, mengerahkan pasukannya untuk menghalau pergerakan Şehzade Mehmed agar tidak naik tahta.

Di kediaman Çandarlı Halil Pasha, ia pun melakukan persiapan untuk mendukung Orhan Çelebi menjadi sultan. Çandarlı Halil Pasha memerintahkan kepada Atmaca untuk mengerahkan pasukan yang berada di Desa Çandar, dan bergabung pada pasukan Orhan Çelebi. Namun, İshak Pasha memperlihatkan gestur tubuh yang kurang setuju. Sebab, İshak Pasha punya pemikiran, dan pemahaman sendiri mengenai siapa yang harus naik tahta, dan bagaimana situasi Kesultanan Utsmani kedepannya.

Sementara di Manisa—mengingatkan akan ancaman pergerakan Orhan Çelebi, Zağanos Pasha memberitahu kepada Şehzade Mehmed agar segera berangkat menuju Edirne. Maka, dengan ekspresi wajah yang tidak ikhlas, Şehzade Mehmed segera mengajak Gülbahar Hatun, dan putranya Bayezid untuk segera menuju ke Edirne—dengan jalan terpisah. Gülbahar Hatun dikawal oleh Zağanos Pasha, sementara Şehzade Mehmed bersama beberapa pasukannya yang berada di Manisa bergerak menuju Edirne melalui jalan pintas yang terjal.

“Mari kita rebut tahta kesultanan warisan Osman Gazi. Jangan sampai tahta itu jatuh ke tangan pengkhianat seperti Orhan Çelebi. Perjuangan milik kita, kemenangan milik Allah.” Kata Şehzade Mehmed dengan lantang berorasi di depan gerbang Istana Manisa.

Setelah itu, Şehzade Mehmed beserta beberapa pasukan memacu kudanya dengan kencang menuju Istana Edirne. Akan tetapi, Şehzade Mehmed tidak mengetahui, bahwa Orhan Çelebi pun sudah melakukan persiapan matang dengan kekuatan penuh dan strategi penyergapan.

İshak Pasha yang sudah keluar dari kediaman Çandarlı Halil Pasha, pergi menuju dapur Istana Edirne untuk menemui kepala koki istana, Daye Hatun. Diketahui oleh seluruh penghuni istana, bahwa Daye Hatun adalah harim yang paling dekat dengan istri-istri Sultan Murad. Maka, İshak Pasha punya rencana tersendiri dalam menentukan siapa yang pantas menjadi Sultan Kesultanan Utsmani setelah Sultan Murad Han dengan mendatangi Daye Hatun.

Halime Hatun yang sudah mendengar perkataan Şahabettin Pasha, menerima surat dari Mara Hatun dan membaca isi surat tersebut. Isi surat itu adalah, untuk mendukung Şehzade Mehmed naik tahta, guna melanjutkan perjuangan Sultan Murad Han.

Setelah menemui Halime Hatun, Şahabettin Pasha pergi menemui Doğan Ağha yang berada di Markas Korps Janissary, yaitu sebelah utara Istana Kesultanan Utsmani yang jaraknya tidak terlalu jauh. Markas Korps Janissary dibuat dekat dengan istana, karena Janissary adalah pasukan khusus, sebagai ujung tombak bagi pasukan lain saat bertempur. Janissary mampu menyerang, dan mampu bertahan, baik secara bergantian, maupun bersamaan. Şahabettin Pasha pun memberikan surat yang bercap biru.

Setelah bertemu dengan Doğan Ağha, Şahabettin Pasha segera pergi menemui Bali Bey yang berada di Markas Akinji, tepatnya berada di lereng Eski Tepe. Posisi Akinji ini memang agak jauh dengan Istana Kesultanan Utsmani, sehingga Şahabettin Pasha harus memacu kudanya dengan kencang. Akan tetapi, posisi Markas Akinji, adalah posisi yang strategis—posisi yang enak untuk menyerang, dan untuk bertahan. Apalagi Eski Tepe adalah jalan termudah menuju Istana Edirne. Lalu, Şahabettin Pasha memberikan surat yang bercap merah.

Dengan pergerakan ini, kursi Kesultanan Utsmani tengah bergetar kencang karena panasnya perebutan tahta.

Lantas, siapakah yang akan menggantikan Sultan Murad II? Apakah Şehzade Mehmed dengan kekuatan kecilnya dari Manisa, atau Orhan Çelebi yang sudah melakukan persiapan dengan matang? Atau ada kandidat lain, mengingat İshak Pasha tidak berpihak pada Şehzade Mehmed, juga tidak mendukung Orhan Çelebi.

Muhammad al-Fatih

2. Sultan Murad Han Meninggal Dunia 4. Kursi Kesultanan Memanas

Penulis

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Arsip

Kategori

Terkini

Bintang Kunang-Kunang

Bintang Kunang-Kunang

Cinta Kedua & Terakhir: Bab 58

Cinta Kedua & Terakhir: Bab 58

Tegar

Tegar

Menjadi Penulis: Menghindari Membuang Waktu Percuma

Menjadi Penulis: Menghindari Membuang Waktu Percuma

31. Ancaman

31. Ancaman

Antologi KompaK’O

Random image