Syauki selalu penasaran dengan narkoba psikedelik. Dia telah mendengar banyak cerita berbeda tentang pengalaman aneh yang dialami orang-orang saat mengkonsumsinya. Suatu malam, saat sedang berkumpul dengan teman-temannya, dia memutuskan untuk mencobanya.
Teman-temannya memperingatkannya untuk berhati-hati dan hanya mengkonsumsi dosis kecil, tetapi Syauki merasa berani. Dia mengonsumsi dosis besar dan dalam beberapa menit, dia merasakan efeknya. Warna-warna menjadi lebih cerah dan dia merasa seperti melayang.
Keesokan paginya, Syauki bangun dengan perasaan bingung dan disorientasi. Dia masuk ke kelas dan disambut oleh teman-teman sekelasnya, tetapi ada sesuatu yang terasa janggal. Baru setelah dia bercermin, dia menyadari apa itu – semua orang yang dilihatnya bermata juling.
Awalnya, Syauki mengira itu hanya halusinasi dari obat-obatan, tetapi seiring berjalannya waktu, dia menyadari bahwa mata juling itu nyata.
Dia mencoba mengabaikannya, tetapi mustahil. Setiap orang yang dilihatnya bermata juling, dan itu membuatnya gila.
Seiring berjalannya waktu, kecemasan Syauki semakin menjadi-jadi. Dia mulai mengisolasi diri, tak ingin berada di sekitar orang lain dengan mata juling mereka yang aneh. Dia bahkan berhenti sekolah, takut dia akan menjadi satu-satunya orang normal di antara lautan orang bermata juling.
Akhirnya, Syauki tak tahan lagi. Dia pulang ke rumahnya, tempat sia hidup dalam isolasi seumur hidupnya. Dia tak pernah mengonsumsi obat-obatan psikedelik lagi, dan dia menghabiskan hari-harinya bertanya-tanya apakah ada orang lain di Bumi ini yang memandang dunia seperti dirinya.
11 November 2025











