Perjalanan selanjutnya menuju Candi Pawon yang terletak di Dusun Brojonalan Desa Wanurejo Kecamatan Borobudur. Setelah menempuh jarak satu kilometer ke arah tenggara dari Candi Mendut atau dua kilometer dari Candi Borobudur rombongan tiba di candi yang berdiri persis di tengah Candi Borobudur dan Candi Mendut. Garis lurus ketiga candi ini memunculkan dugaan bahwa ketiga candi ini memiliki kaitan yang erat.
Selain motif yang memiliki kemiripan, juga berdiri di tepi Sungai Progo yang merupakan sungai yang dianggap suci mewakili Sungai Gangga di India. Pada masa itu, Progo memiliki debit air yang sangat besar dan jernih, karena berada di tengah hutan yang luas.
Meskipun tidak ada pembatasan jumlah rombongan yang naik, tapi karena ukuran candi yang lebih kecil, maka rombongan hanya bisa naik secara bergantian. Puji menjelaskan di pintu masuk candi terletak di sebelah barat. Bagian pintu masuk ini penuh hiasan, yaitu makara pada anak tangga dan kala pada lambang atas pintu masuk
Konon candi yang juga merupakan candi Buddha ini ditemukan pada abad ke 19 dalam kondisi rusak tertimbun semak belukar. Candi Pawon pernah mengalami pemugaran yang dilakukan sejak tahun 1897-1904. Pemugaran diteruskan lagi oleh Van Erp tahun 1908.
Secara arsitektur, Candi Pawon tersusun dari batu andesit, yaitu batuan vulkanis kali yang konon diambil dari Sungai Elo. Dengan denah yang berbentuk bujur sangkar candi ini mempunyai panjang sisi 10 meter dengan tinggi 13,3 meter dan terbagi dalam tiga bagian, yaitu kaki, atap candi, dan tubuh.
Bangunan candi menghadap ke barat dengan bilik berukuran 2,65 meter x 2,64 meter, dan tinggi 5,20 meter. Candi Pawon memiliki bentuk ramping, tidak seperti Candi Borobudur yang tambun. Hal tersebut karena Candi Pawon merupakan gabungan model bangunan Buddha, Hindu, dan Jawa Kuno
Aku mendampingi sebagian rombongan menuju kaki candi yang berupa batur dengan tinggi 1,5 meter. Pada bagian kaki candi ini banyak dihiasi ornamen, seperti bunga, dan sulur-suluran. Candi Pawon memiliki ciri khas relief Kuwera, penggambaran Dewa Kekayaan di bagian depannya. Di bagian dinding utara dan selatan terdapat relief manusia burung Kinara Kinari
Sepasang makhluk tersebut berdiri sambil mengapit pohon kalpataru atau pohon kehidupan dalam jambangan. Di sekitar pohon itu, terdapat gambar beberapa pundi uang. Pada bagian atasnya, terdapat gambar sepasang manusia yang sedang terbang.
Pada bilik candi yang berukuran 2,65×2,64 meter dengan tinggi 5,2 meter terdapat ornamen Kalamakara, yaitu bentuk kepala raksasa tradisional Indonesia tanpa rahang bawah, tepat di atas pintu candi yang dipercaya mampu mengusir roh jahat. Sedangkan tepat di kiri bawah Kalamakara yang menggabungkan unsur hewan dan manusia, terdapat ukiran 1904, penanda tahun usainya pemugaran candi.
Relief-relief tersebut tergolong sebagai dekoratif atau hiasan dan tidak ada relief cerita. Namun, kebanyakan relief telah rusak diganti dengan batu baru yang polos tanpa ukiran. Di bagian tubuh candi terdapat arca Bodhisattva, dimana sang raja diyakini telah mencapai tingkatan sosok yang mendedikasikan diri demi alam semesta.
Sedangkan bagian atap dikelilingi dagoba berukuran kecil, dan sebagai puncak candi terdapat dagoba yang lebih besar setinggi 13,3 meter.
Pawon diyakini didirikan oleh penguasa Wangsa Syailendra antara abad VIII-IX Masehi yang berasal dari Kerajaan Mataram Kuno atau Medang.
Raja pertama Wangsa Syailendra di Mataram Kuno adalah Sri Dharmatungga. Kemudian, ia digantikan oleh Raja Indra atau biasa disebut Sri Sanggramadananjaya yang menjadi salah satu penguasa. Jago berperang dan penganut Buddha yang patuh.
Raja Indra kemudian digantikan oleh Raja Samaratungga yang melanjutkan masa kejayaan Wangsa Syailendra yang dicapai oleh Raja Indra. Pada pemerintahan Raja Samaratungga, dibangun beberapa candi, termasuk Candi Pawon.
Seorang peneliti prasasti dari Belanda bernama Johannes Gijsbertus de Casparis mengemukakan teori bahwa Candi Pawon digunakan sebagai penyimpanan awu atau abu jenazah Raja Indra. Hal tersebut diperkuat dengan namanya, yaitu Pawon dari kata ‘Pa-awu-an’ yang berarti abu dan kemudian terucap Pawon. Menurut Casparis, Candi Pawon adalah tempat penyimpanan abu jenazah Raja Indra (782-812 M), yakni ayah Raja Samarrattungga dari Dinasti Syailendra.
Selain itu candi yang juga sering disebut sebagai Candi Brajanalan ini juga memiliki fungsi lain sebagai tempat senjata bagi Dewa Indra, sang dewa penguasa petir dan halilintar. Nama Brajanalan diambil dari kata ‘Vraja’ artinya halilintar dan ‘Anala’ yang berarti api sehingga disebut senjata Vrajanala. Lidah orang daerah sekitar akhirnya menyebut Brojonalan. Diperkirakan dulu halaman candi sangat luas mengingat di tempat tersebut juga dilakukan upacara pembakaran mayat raja.
Semula di salah satu ruang Candi Pawon diperkirakan terdapat Arca Bodhhisattva, yang merupakan bentuk penghormatan kepada Raja Indra yang dianggap mencapai tataran Bodhisattva. Dalam Prasasti Karang Tengah disebutkan bahwa arca itu mengeluarkan wajra atau sinar, sehingga muncul dugaan bahwa arca Bodhisattwa terbuat dari perunggu.
Sementara itu, Prof Dr RM Poerbatjaraka menyebutkan bahwa Candi Pawon adalah Upa Angga, artinya bagian dari Candi Borobudur, seperti layaknya pawon bagian dari rumah.
Ada juga pendapat yang mengatakan bahwa Candi Pawon menjadi pintu gerbang menuju Candi Borobudur yang merupakan tempat bagi umat untuk membersihkan badan maupun pikiran dari berbagai kekotoran batin.
Kunjungan ke tujuan wisata Borobudur akhirnya selesai. Rombongan kembali ke Borobudur untuk melanjutkan perjalanan. Seperti wisatawan pada umumnya, gerai souvernir dan kuliner yang ada di sekitar area candi selalu menjadi pilihan setelah kunjungan. Aku pamit pada Puji, mengucapkan terima kasih karena sudah diberi kesempatan menambah ilmu dan wawasan.
“Tantri, tunggu!” Seseorang menghentikan laju motor yang baru beberapa meter meninggalkan area parkir. Aku menoleh, tampak Zack berlari ke arahku.
“Wat is het?” tanyaku heran. Laki-laki itu terlihat salah tingkah.
“Sorry, Ik wil je graag beter leren kennen.”
“Je bedoelt?” Aku memekik kaget, tak paham dengan arah ucapannya. Jangan-jangan … ah, aku tak mau menduga-duga.
“Sorry, ik bedoel, ik wil graag meer leren over cultuur en geschiedenis,” ujar Zack tersipu, menyadari kesalahan bicaranya. Aku menghela napas lega.
“Kun je me helpen?” tanyanya lagi penuh harap.
“Ik Kun helpen je, tapi bagaimana dengan rombongan mu?”
“Aku bebas setelah kunjungan ke tiga candi. Acara hanya belanja dan mengunjungi desa sekitar. Aku tidak tertarik,” ujarnya memberi alasan.
“Wow, di desa sini ada banyak sentra industri kecil, seperti budi daya lebah madu, sentra industri makanan kecil, batik, kerajinan kayu dan topeng, gerabah, ada juga industri pengolahan jamur.” Aku menjelaskan dengan semangat.
“Aku tidak tertarik, tidak ada orang yang kubawakan oleh-oleh. Tidak ada istri, anak,” ungkapnya sambil mengedikkan bahu. Aku mengerutkan alis, bagaimana bisa laki-laki yang baru kenal sebebas itu curhat pada perempuan.
“Oh, sorry,” ujarku kaku.
“It’s ok, aku ingin ikut denganmu jika Kamu tidak keberatan.”
“Wat? Maksudnya?” Aku makin tidak mengerti.
“Sorry, Maksudku … aku ingin mengenal candi lebih banyak, maukah Kamu membawaku?”
Aku menghela napas panjang setelah paham maksudnya, “Tapi aku tidak bawa mobil, aku hanya bawa motor.”
“Ini …?” tanyanya sambil menunjuk motorku. Aku mengangguk.
“Tidak masalah, aku suka.”
Tanpa dikomando laki-laki bertubuh tinggi itu langsung duduk di boncengan motorku. Astaga ….
***
Note :
Wat is het?: Ada apa?
Ik wil je graag beter leren kennen: Aku ingin mengenal lebih jauh.
Je bedoelt?: maksudmu?
ik bedoel, ik wil graag meer leren over cultuur en geschiedenis: maksudku, aku ingin mengenal lebih jauh tentang budaya dan sejarah
Kun je me helpen: Dapatkah Kamu membantuku










