Seorang wanita berbaju merah menyala berjalan tergesa-gesa di dekat rel. Aku sedang duduk santai bersama seorang teman di teras, ketika sebuah teriakan menggelegar, “Mbak, hati-hati! Sebentar lagi kereta lewat!”
Tepat saat itu, kudengar suara kereta dari arah selatan. Rumah temanku hanya berjarak sekitar 200 meter dari rel. Aku langsung berlari ke arah suara, tetapi semua terlambat. Kereta lewat. Kudengar jeritan ngeri orang-orang di sekitar rel. Tubuh berbaju merah menyala itu, kini hancur, tergeletak di pinggir rel.
Di tengah kekacauan, aku melihatnya. Seseorang berjubah hitam dengan tudung kepala menjulurkan tangannya ke arah tubuh yang hancur itu. Sebuah benda menyerupai bola berwarna kelabu keluar dari tubuh, kemudian masuk ke dalam genggaman si jubah hitam. Aku hanya bisa terpana. Si jubah hitam menatapku sekilas, wajahnya terlindungi tudung, kemudian lenyap.
***
“Kamu beneran enggak mau pergi bersama kami?” Suara Tari di seberang sana masih tak putus asa mengajakku. Aku tetap pada pendirianku. Aku malas melakukan apapun; pikiranku masih terperangkap di rel kereta itu. Ingin rasanya bercerita, tapi aku sedang tak ingin ditertawakan.
Kakiku telah menapaki rerumputan. Akhirnya aku keluar juga, tak tahan di rumah hanya dengan ingatan yang mengerikan. Taman kota. Sepertinya di sini aman, takkan mungkin ada orang bunuh diri atau kecelakaan fatal di sini, kan?
Suasana yang tenang membuatku betah berlama-lama. Dan saat seperti inilah yang tak pernah kusia-siakan. Kukeluarkan senjataku: buku dan pena. Walau sekarang zaman gadget, aku masih suka menulis di kertas. Selalu ada sensasi tersendiri ketika menggoreskan pena, suara pena yang beradu dengan kertas membentuk sebuah simfoni dalam otakku. Dan itu menciptakan dunia tersendiri.
Namun, ketenangan itu tercerabut paksa. Sebuah teriakan mengagetkan kami yang tengah bersantai di taman.
Seorang ibu dengan gamis berwarna gelap, sedang berusaha keras mempertahankan tasnya. Di hadapannya, seorang lelaki bertato dengan teganya memukul ibu itu, lalu merebut dan membawa lari tas tersebut dengan paksa. Kami masih terbengong.
Karena panik, si ibu menjerit keras. Saat itulah, si lelaki bertato mengeluarkan benda berkilat dari sakunya. Kami pengunjung taman seketika sadar bahwa si ibu dalam keadaan bahaya besar. Benar saja, sekali tusuk, si ibu jatuh. Si lelaki langsung berlari, dan secepat kilat membonceng teman yang rupanya sudah dari tadi menunggu.
Aku mendekati si ibu. Perasaanku tak enak. Dan benar saja, dari balik kerumunan kulihat sosok berjubah hitam mengulurkan tangannya pada tubuh si ibu. Kali ini bukan berwarna abu, bola itu kini berwarna putih. Aku yakin orang-orang tak ada yang melihatnya. Hanya aku. Benar-benar hanya aku.
Apa salahku, Tuhan? Mengapa aku harus melihat semua ini? Apa yang Kau inginkan dariku?
Aku berjalan menyusuri taman kota, sendiri. Langit malam nampak cerah, dan semakin indah dengan petasan dan kembang api yang berwarna-warni. Ya, malam ini adalah malam tahun baru.
Para pedagang kaki lima berjajar menawarkan berbagai macam dagangannya. Aku tak begitu tertarik; aku pergi ke taman kota ini hanya untuk melepaskan diri dari penat pikiran.
Di tengah keramaian itu, kembali terngiang kata-kata bapak: “Jangan pernah bermimpi menjadi penulis, atau kau harus angkat kaki dari rumah ini.”
Apa salahnya menjadi seorang penulis? Apakah karena Bapak pernah dikecewakan oleh seorang penulis yang notabene adalah mantan kekasihnya, dulu? Ah, entahlah.
“Neng, ini ada petasan istimewa. Ayo Neng, mampir dulu. Khusus untuk Neng, gratis.”
Aku tergeragap. Seorang pedagang dengan penampilan aneh—bajunya serba hitam dengan tudung kepala hitam pula—menawarkan dagangannya dengan antusias. Wajahnya tak begitu jelas karena tidak menghadap lampu taman kota.
“Ayo Neng, mampir dulu.”
Entah tertarik karena tawarannya, atau hanya karena penasaran, aku mampir ke lapaknya. Kulihat berbagai macam bentuk petasan dan kembang api ada di sana.
“Ini, Neng, petasan istimewa itu,” ujar pedagang tersebut.
Bentuknya biasa saja.
“Apa istimewanya, Bang?” tanyaku penasaran.
“Petasan ini mempunyai dua kesempatan meledak dengan sekali sulut.”
“Maksudnya?”
“Begini. Kalau Neng sekali menyulut, maka petasan ini akan meledak dua kali. Tapi ingat Neng, yang meledak bukan hanya petasan ini, melainkan dunia dengan seluruh isinya akan meledak. Dan ledakan kedua, adalah untuk membangkitkan kembali dunia dan segala isinya, termasuk segala konsekuensi yang telah dilakukan pada dunia yang pertama yang telah hancur.”
Aku melongo, kemudian tertawa terbahak-bahak. Namun, kulihat sekilas tak ada tawa di balik tudung hitam itu. Yang ada malah pandangan mata lurus menatapku dengan serius. Aku bergidik, tawaku seketika lenyap.
“Ambil saja, Neng. Khusus untuk Neng, gratis.”
Aku menatap petasan di tanganku dengan perasaan ganjil, kemudian kualihkan pandangan lagi ke abang penjual petasan—eh, dia hilang. Kucari-cari lagi dengan saksama, pandanganku mengitari taman, tapi dia seperti tiba-tiba lenyap ditelan bumi.
Akhirnya aku pulang dengan hati yang bimbang. Teringat Bapak dan segala omelannya, kutatap lagi petasan di tanganku.
Aku bergegas menuju kamarku di lantai dua, kubuka pintu menuju balkon.
Kutatap lautan lampu di jantung ibukota. Di langit, rembulan terlihat hanya separuh, ditingkah kembang api di mana-mana. Aku membayangkan, bulan ikut pecah dan memancar ke segala penjuru seperti kembang api itu.
Teringat lagi kata-kata abang penjual kembang api.
Oh… benarkah apa yang dikatakannya?
Kucari nomor Bapak di layar ponsel. Tak lama kemudian:
“Halo, Nduk, bagaimana kabarmu?”
“Baik, Pak.”
“Kamu baik-baik saja, kan? Karena beberapa hari ini perasaan Bapak tidak enak.”
“Baik, Pak. Saya hanya mau minta maaf kalau selama ini selalu mengecewakan Bapak, karena belum bisa menjadi anak yang sesuai dengan harapan Bapak. Selamat Tahun Baru, Pak.”
Langsung kututup telepon. Aku tak mau mendengar suara Bapak lagi.
Kutatap lagi rembulan, kemudian kumantapkan hati. Di meja balkon telah kusiapkan korek api dan petasan istimewa itu. Aku mulai menyalakannya, kemudian…











