Mengapa Orang-orang Kristen, Anak-anak Tuhan, senang bernyanyi, main musik, atau satu-dua di antaranya? Jika kebetulan tidak dikaruniai talenta main alat musik atau belum sempat belajar alat musik, minimal bisa nyanyi meskipun suara fals atau sumbang. Dalam agama atau kepercayaan lain saja, musik atau suara seringkali dianggap powerful. Pembacaan doa atau mantra (chant) atau apa saja jenis ritual dianggap penting. Lantas mengapa kita seringkali ingkar atau kurang percaya pada kuasa puji-pujian?
Lagu atau musik bagi Anak-anak Tuhan bukan sekadar hiburan biasa. Bukan pula semata-mata pengisi waktu luang, agar suasana gak sepi, iseng-iseng dan lain sebagainya.
- Lagu-musik penyembahan kepada Tuhan ibarat dupa yang harum di hadapan-Nya. Jika doa saja (yang diucapkan dalam hati atau dibisikkan) sudah sedemikian powerful, apalagi lagu-musik penyembahan.
Suara adalah sebuah perwujudan energi luar biasa. Bukan hanya makhluk-makhluk kasatmata saja bisa mendengar lewat telinga (fisik), makhluk-makhluk tak kasatmata saja mendengar, bahkan tunduk dan gemetar. Seperti dalam kisah Daud-Raja Saul, dikisahkan Daud bermain kecapi hingga roh jahat yang mengganggu Saul undur darinya, Saul kembali merasa tenang damai sejahtera. Namun keadaan itu tidak permanen, sehingga setiap Saul ‘kumat’ Daud ‘harus’ memainkan kecapinya lagi. Itulah satu dari antara sekian kisah yang membuktikan ada kuasa dalam pujian.
Sedang merasa takut, sedih, khawatir? Berdoalah, bernyanyilah kepada Tuhan. Sebuah kutipan mengatakan, “A prayer is the music the heart sings.” Berdoa dan bernyanyi memiliki kaitan erat, jika satu saja sudah sangat baik, apalagi jika dilakukan kedua-duanya. - Dalam Mazmur, Daud dan pemazmur lainnya sering sekali menuliskan ayat-ayat mengenai kesukaan bermusik, bernyanyi hingga menari bagi Tuhan. Alat-alat musik seperti gambus, kecapi, hingga aneka alat musik tiup sering disebutkan dalam Alkitab. Apalagi pada zaman now sudah semakin banyak instrumen musik. Alat musik apapun dapat kita gunakan untuk memuji Tuhan.
Seperti tertulis dalam Mazmur 33:3 (TB): “Nyanyikanlah bagi-Nya nyanyian baru; petiklah kecapi baik-baik dengan sorak-sorai!” Mazmur 150:3-5: “Pujilah Dia dengan tiupan sangkakala, pujilah Dia dengan gambus dan kecapi! Pujilah Dia dengan rebana dan tari-tarian, pujilah Dia dengan permainan kecapi dan seruling! Pujilah Dia dengan ceracap yang berdenting, pujilah Dia dengan ceracap yang berdentang!” Di masa kini, ada begitu banyak alat musik hingga judul lagu rohani yang luar biasa menggugah, tinggal dipilih sesuai dengan minat agar cocok dengan lagu yang ingin dimainkan. Bahkan jika tak dapat membeli-memainkan alat musik, kita bisa menyanyi. Sedang tak dapat menyanyi? Puji-pujian sejati sumbernya dari lubuk hati, maka gunakanlah hatimu. - Tuhan tidak minta kita bernyanyi semerdu-merdunya, sekeras-kerasnya, atau berusaha mencapai standar-standar tertentu seperti yang diinginkan dunia pada umumnya. Tidak harus jago dulu setelah les musik plus latihan berjam-jam sehari, menang/juara kontes menyanyi tingkat nasional-internasional dulu, viral-terkenal dulu dan sebagainya. Bukan masalah bagaimana, melainkan niat dan makna yang menjadi tekad saat kita membawakan puji-pujian dengan sebaik- baiknya.
- Meskipun kita barangkali sudah cukup ahli dalam menyanyi atau musik, hendaklah kita tetap rendah hati. Talenta kita hanyalah titipan Tuhan, bukan karena kita berbakat atau hebat. Dengan menyadari hal ini, semoga kita tidak jadi seperti Lucifer yang pernah jadi pemimpin puji-pujian di Surga sebelum kejatuhannya. Ajarkanlah kepada sesama yang tertarik atau berminat dengan tulus hati.
- Terakhir namun bukan yang paling akhir, berbeda dengan musik dunia, bermusik-bernyanyi bagi Tuhan barangkali nyaris tak ada imbalannya. Bukan ditujukan untuk mengejar keuntungan semata-mata, melainkan hanya untuk memuliakan nama Tuhan. Remunerasi atau ‘imbalannya’ bukan berupa uang/ berkat fisik lainnya, melainkan jauh lebih limpah, besar dan berharga: pemeliharaan Tuhan, penjagaan, damai sejahtera, cinta kasih, kesehatan, dan masih banyak lagi. Merasa belum mendapatkan semua itu? Terus lakukan dan bersabarlah. Waktu Tuhan bukan waktu kita. Kejutan dari-Nya sungguh luar biasa. Dia yang menciptakan kita takkan mengabaikan kita.
Ibarat bernapas, tetaplah memuji Tuhan dalam segala suasana. Haleluya! Semoga bermanfaat dan Tuhan Yesus memberkati.
Tangerang, 27 Februari 2026











