Beberapa hari silam penulis mendapatkan kesempatan indah melayani di gereja tempat kami sekeluarga setia berbakti. Setelah sekian lama (dan sempat ‘bolos’ juga selama beberapa tahun!) penulis akhirnya berhasil memberanikan diri untuk melayani dengan talenta yang gak seberapa, khususnya dalam dunia tarik suara. Meskipun sama sekali bukan penyanyi berbakat bersuara emas ala Idol, penulis mencoba menjajal ikut vocal group D’Heart yang isinya anak-anak muda hingga senior-senior yang sudah lebih dulu berkecimpung dalam dunia puji-pujian. Jika dulu hanya berani menyanyi di kamar mandi (bathroom singer), sekarang menyanyi di hadapan puluhan jemaat. Jika dulu hanya menyanyi sendiri aja di aplikasi kara-gak-oke, sekarang menyanyi live di depan puluhan pasang telinga.
Sebagai seorang introvert kelas berat, sebenarnya rasa ‘kemanusiaan’ saya masih berpikir jika berdiri di hadapan umum adalah hal yang menakutkan. Bukan hanya rasa malu atau malas tampil di depan umum. Gimana jika sampe salah nada? Gimana jika tiba-tiba leher gatal, ingin batuk? Gimana jika kesandung kabel di lantai? dan lain sebagainya. Apalagi jika merasa vokal belum sebening kristal dan vocal range belum bisa setinggi rekan-rekan yang lain, malah sering batuk gara-gara lendir alergi dingin. Kaki kanan sedang pegal-pegal juga akibat pernah jatuh terpeleset di tangga beberapa bulan lalu. Rasa ‘kemanusiaan’ yang sebenarnya alami dan wajar itu bisa saja menghalangi untuk melayani.
Namun saya merasa tertantang sekali untuk berusaha keluar dari zona nyaman selama ini. Apalagi Tuhan sudah begitu baik dalam hidup kami sekeluarga. Bagaimana cara-Nya mengatasi semua kelemahan dan kekhawatiran saya itu? Satu ayat Alkitab yang sangat menguatkan saya: Mazmur 46:10 yang dalam TB berbunyi “Diamlah dan ketahuilah bahwa Akulah Allah.” Dalam Bahasa Inggris, kata ‘diam’ diterjemahkan dengan be still. Be still selain berarti diam, juga bisa berarti tenang. Jangan gugup, tenang saja. Kamu menyanyi untuk-Ku. Kamu bukan bernyanyi untuk dinilai manusia. Kira-kira seperti itulah yang Tuhan katakan dalam hati saya.
Saat naik panggung bersama rekan-rekan VG D’Heart, saya berhasil berdiri dan berjalan untuk memberi persembahan pujian dengan tenang. Rasanya tanpa beban, gak ada gugup atau grogi seperti yang dikhawatirkan. Gak terjadi hal-hal yang semula saya khawatirkan. Semuanya mengalir saja, lagu berdurasi empat menitan terasa tiba-tiba udahan. Rasanya kurang lama, ingin lebih lama lagi di atas panggung. Benar-benar seru dan menyenangkan berada di atas panggung, lebih dari hanya sekadar menyanyi online. Gak ada demam panggung, gak ada salah nada, gak ada penyesalan. Saya merasa lega dan bersyukur sekali bisa menuntaskan pertunjukan perdana saya.
Melalui pelayanan yang sederhana dan sukarela ini, bukan panggung dunia atau karier tarik suara yang penulis harapkan. Dengan bisa menghibur dan menguatkan sesama anak Tuhan/orang percaya saja, penulis yakin Tuhan memberi balasan maha indah, memberkati dengan cara-Nya yang luar biasa. Menjadi kesaksian pribadi juga bagi kita, bukan hanya menyanyikan beberapa baris teks lagu akan tetapi setia juga menjalankannya dalam kehidupan kita.
Mazmur 104:33 (TB) berbunyi: “Aku hendak menyanyi bagi TUHAN selama aku hidup, aku hendak bermazmur bagi Allahku selagi aku ada.” Firman Tuhan ini menguatkan penulis jika kita menyanyi untuk-Nya, maka rasa kemanusiaan kita akan Tuhan ‘diam’-kan, diganti dengan keberanian dan rasa percaya diri yang begitu aneh dan mencengangkan. Bahkan bagi orang se-introvert penulis, Tuhan mampukan.
Apakah dalam hidup ini, Anda masih sering merasa grogi, khawatir dengan kelemahan dan kekurangan? Jangan fokus hanya pada kekurangan-kekurangan yang belum lagi terjadi itu. Percayalah jika Tuhan juga sanggup mengubahkan hidup Anda. Amin.
Semoga bermanfaat. Tuhan Yesus memberkati.
Tangerang, 21 Juli 2025











