Home / Topik / Agama / Renungan Kehidupan: Kita adalah Penumpang dalam Gerbong-Gerbong Kereta Api Kehidupan, Hargai & Maknai Setiap Perjalanan!

Renungan Kehidupan: Kita adalah Penumpang dalam Gerbong-Gerbong Kereta Api Kehidupan, Hargai & Maknai Setiap Perjalanan!

Kehidupan Kristen 20260429
3

Masih segar dalam ingatan, pada malam hari 27 April 2026, terjadi kecelakaan tabrakan antara dua rangkaian kereta api di Stasiun Bekasi Timur yang merenggut belasan nyawa penumpang perempuan dan melukai hampir seratus penumpang perempuan lainnya. Peristiwa tragis ini mengingatkan penulis (yang juga seorang penumpang KA), bahkan sempat terbersit perenungan sesaat sebelum pulang kerja pada pukul lima sore (beberapa jam sebelum kejadian), ketika penulis menunggu kereta tujuan Jakarta di peron KAI commuterline Stasiun Poris Tangerang. Betapa sebuah rangkaian kereta api, sang ular besi, bisa menjadi sahabat sekaligus ‘wahana berbahaya’ di mana manusia bisa dalam sekejap mata ‘tiba di stasiun terakhir’ hidupnya. Apa pelajaran hidup yang bisa setiap orang tarik? Inilah beberapa saja di antaranya.

  1. Hidup semua makhluk begitu rapuh, kita tak boleh merasa paling kuat/hebat sendirian meskipun kita terbiasa mandiri. Kita berada dalam gerbong kereta api yang meskipun berbeda, tujuannya sama: akhir hayat. Hanya saja, jadwal tiba masing-masing di stasiun terakhir berbeda-beda. Sebagai teman seperjalanan seseorang (pasangan, keluarga, teman, rekan kerja) selayaknya kita saling menghargai. Mengapa hingga kini masih saling menganggap diri paling baik, kepercayaan pribadi sudah pasti paling baik dan benar, sementara yang lain/berbeda tidak dihargai? Boleh saja bersaksi atau mengatakan pengajaran yang dianggap baik dan benar selama kita tetap saling mengasihi dan menghormati ‘sesama penumpang kereta’ yang duduk di sebelah kita.

2. Tidak ada yang spesial atau berbeda, nasib semua penumpang (manusia) sama. Biarpun penumpang-penumpang perempuan diberi tempat khusus di gerbong pertama dan terakhir, faktanya belum jadi tempat teraman dalam rangkaian kereta api. Tuhan memberi kesempatan yang sama. Tidak ada singgasana atau gerbong VIP tertentu dengan special treatment alias perlakuan berbeda dalam kereta api-Nya. Tak ada karpet merah terbentang untuk keluar-masuk kereta. Setiap bayi lahir di rumah sakit mewah atau ‘hanya’ di tangan seorang bidan di rumah, sama saja di mata Tuhan. Yang membedakan kita bukan pula asal-usul, kedudukan, hingga kekayaan. Jadi, apa, dong? Apa yang kita tumbuhkan-bawa serta dalam hati-pikiran hingga keputusan/pilihan hidup setiap manusia. Ada kesempatan untuk berubah! Kapan? Selama berada dalam gerbong kereta api (alias hidup!)

3. Kita tidak bisa benar-benar memilih siapa (penumpang) yang akan duduk di sebelah kiri-kanan kita. Begitu pula dalam hidup, kita tak bisa memilih keluarga seperti apa (keturunan/orangtua yang melahirkan), di mana tempat-negerinya, hingga siapa rekan-teman kita di sekolah dan dalam pekerjaan. Seperti apa atau siapa jodoh/pasangan hidup kita kelak. Maunya gadis cantik atau pemuda tampan, dikasih Tuhan yang ‘biasa-biasa aja’ di mata orang lain. Tidak apa-apa, yang penting perasaan dan cinta ada pada dirinya (cie!). Mau pasangan kaya-raya atau terkenal seperti di drakor-drachin, dapatnya lagi-lagi yang biasa-biasa saja. Kekayaan (richness) bisa dicari bersama-sama, akan tetapi jauh lebih berharga hidup berkecukupan (prosperity). Jadi, bersyukur saja apabila penumpang di sisi kita kadang-kadang gak sesuai keinginan kita. Tuhan sedang mengajarkan kita berbagai hal; kesabaran, penantian, hingga pengharapan.

Seperti puisi panjang yang pernah penulis bagikan dalam sebuah postingan lama, hidup kita ibarat perjalanan kereta api. Panjang, melelahkan, terkadang tak sesuai ekspektasi. Nikmati seruput kopi, tawa anak-cucu, hingga perjuangan bangkit dari rasa sakit menuju pulih. Jangan lewatkan momen-momen kecil dalam perjalanan hidup, maknai dan isi dengan segala hal terbaik. Singkirkan semua kekhawatiran, ketakutan, hingga keluh-kesah. Kapan perjalanan akan berakhir, di mana stasiun terakhir, tidak seorangpun tahu. Karena itu marilah bersama-sama be mindful, let’s live our lifes to the most.

Semoga bermanfaat.

Tangerang, 29 April 2026

Penulis

  • Wiselovehope

    Wiselovehope adalah nama pena Julie D. (juga akrab disapa dengan nama Kak Jul) kelahiran Jakarta, 30 Juli.

    Ibu dua putra dan karyawati swasta yang sedari dini suka membaca dan mengoleksi buku. Juga berkarya sebagai seorang desainer komunikasi visual.

    Bersama beberapa rekan penulis, Kak Jul mendirikan Komunitas PenA dan KomPak’O (Komunitas PenA Kompasianers dan Opinians) sebagai sarana berkomunikasi dan edukasi bagi sesama penulis pemula.

    Beberapa karya tulis populernya adalah The Prince & I: Sang Pangeran & Aku, trilogi novel romansa misteri Cursed: Kutukan Kembar Tampan (Pimedia Publishing, 2021-2022), Cinta Terakhir Sang Bangsawan (Bookies Literasi, 2023) dan Antologi Komunitas PenA & KomPak’O: Risalah Rindu, 1001 Kata Hati: Sebuah Aksara Semiloka, Cyan Magenta, Lelaki yang Menjinakkan Naga, My One & Only, Ini Puisi?

    Instagram: @wiselovehope
    Situs link karya: linktr.ee/wiselovehope
    Facebook: facebook.com/wiselovehope.wiselovehope

Tag:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Arsip

Kategori

Antologi KompaK’O

Random image