Home / Fiksi / Cerbung / Cinta Kedua & Terakhir: Bab 34

Cinta Kedua & Terakhir: Bab 34

CINTA KEDUA & TERAKHIR
This entry is part 35 of 36 in the series Cinta Kedua & Terakhir

Setelah berpeluh keringat menyalurkan hasrat mereka, akhirnya mereka kelelahan. Rima mendekap dada Pazel dan berkata dengan suara manjanya. “Aku sudah menyiapkan semua keperluan untuk bulan madu kita, Bang. Besok pagi kita tinggal berangkat saja.”

Pazel baru ingat kalau dia akan membatalkan rencana bulan madunya untuk sementara waktu.

“Sayang,” panggilnya perlahan

Dia takut akan membuat hati istrinya terluka lagi.

“Ya, Sayang,” jawabnya dengan manja.

Setelah menarik napas beberapa kali akhirnya dia memberanikan diri untuk bicara.

“Bagaimana kalau rencana bulan madu kita, kita undur dulu. Kasihan kan janin dalam kandungan kamu, lebih baik kamu banyak istirahat di rumah. Nanti kalau kamu sudah lahiran, baru kita pergi bulan madu. Dan sebagai gantinya aku akan mengajak kamu ke acara tunangan anak Bos aku di perusahaan. Bagaimana menurut kamu, Sayang?”

“Tapi kita kan sudah beli tiketnya, Bang?”

“Gak masalah, Sayang. Buat aku kesehatan kamu jauh lebih penting daripada uang.”

“Ok. Tapi sebagai gantinya, aku mau Abang transfer uang ke rekeningku.”

“Berapa, sayang?”

“Gak banyak kok sayang. Lima puluh juta saja cukup,” ucapnya sambil mengelus dada suaminya.

“Baik. Aku transfer sekarang.” Dia segera meraih ponselnya yang terletak tidak jauh dari tempat tidurnya. Dia mengetikkan sejumlah angka, lalu berkata. “Sudah masuk, Sayang.”

“Aku lihat dulu ya, Sayang?” Dia pun meraih ponselnya yang terletak di atas meja riasnya.

“O, iya, Sayang. Sudah masuk uangnya. Terima kasih ya, Sayang?”

“Iya, Sayang.”

Sebenarnya Rima agak kecewa dengan pembatalan acara bulan madunya, tapi jika sebagai gantinya dia dapat uang dan diajak ke pesta orang kaya, rasanya setimpal.

Senyumnya merekah di dada suaminya. Dia berhasil memoroti uang suaminya. Bahkan demi uang, dia tidak memedulikan bagaimana perasaan ibu mertuanya yang sudah dilukainya.

Rohana menangis meratapi nasibnya sendiri. Setelah Pazel pergi untuk menyusul istrinya, dia berharap anaknya akan kembali turun untuk membujuknya atau bahkan menyuruh istrinya untuk minta maaf kepadanya seperti dulu saat dia merajuk karena mengadukan perangai menantunya itu.

Namun harapan itu hanya sia-sia belaka. Dia benar-benar merasa diabaikan oleh putranya. Karena anaknya tidak lagi turun untuk menemuinya, dia pun beranjak menuju kamarnya.

Putra semata wayangnya yang selama ini selalu patuh dan penurut, sekarang berubah menjadi cuek dan tidak peduli lagi dengannya. Bahkan sepertinya anaknya sudah tidak percaya lagi kepadanya.

Dia luruh di tempat tidurnya. Air matanya tidak berhenti mengalir. Dia menyadari betapa berdosanya dia kepada Silvia dulu, karena sudah membuat Pazel membencinya.

Dia yakin kalau apa yang dialaminya sekarang ini adalah hukum karma karena dia sudah menjahati menantunya dulu.

Saat dia sedang meratapi nasibnya dan penyesalannya, tiba-tiba terdengar ketukan dari pintu.

Rohana segera beranjak dari tempat tidurnya setelah membersihkan wajahnya yang penuh dengan air mata.

“Sebentar,” ucapnya dari dalam kamar.

Begitu pintu dibuka, ternyata menantunya Rima.

“Bu. Ayok kita makan malam dulu. Aku sudah masak makanan enak. Nanti malah keburu dingin, jadi gak enak lagi, Bu,” ucapnya dengan suara yang dibuatnya selembut mungkin.

“Maksudmu makanan yang kamu pesan di restoran Padang itu?” ucap Rohana agak meninggikan suaranya.

Tiba-tiba Pazel muncul dan menegur ibunya.

“Ibu…. Belajarlah untuk menerima menantumu di rumah ini, Bu,” ucap Pazel dengan lembut.

Meskipun kata-kata yang disampaikan Pazel secara lembut, Namun sangat melukai perasaan Rohana. Dia sangat paham dengan apa yang dimaksud oleh anaknya itu.

Karena perasaannya kembali terluka dengan ke tidak percayaan anaknya, dia memutuskan untuk tidak ikut makan malam.

“Ibu sudah kenyang. Sebaiknya kalian berdua saja yang makan.”

Dia kembali menutup pintu kamarnya dan kembali meratapi nasibnya. Di saat dia berbohong, semua kebohongannya sangat dipercayai Pazel. Tapi saat dia sudah berkata jujur justru dianggap berbohong. Dia menangis sampai sesegukan.

“Maafkan Ibu, Silvia,” lirihnya dalam hati.

Penyesalan memang datangnya paling akhir. Meski sudah terlambat, dia berniat untuk meminta maaf kepada Silvia, agar hatinya bisa tenang.

***

Beberapa hari kemudian tibalah saatnya acara pertunangan itu digelar.

Pazel dan istrinya sudah bersiap-siap. Tapi dia lihat ibunya masih berada di depan TV. Dia menghampiri ibunya.

“Bu. Kenapa Ibu belum bersiap-siap? Acaranya dimulai jam sepuluh, Bu.”

“Acara apa?”

“Acara pertunangan pewaris perusahaan di tempat aku bekerja, Bu. Mereka mengundang seluruh karyawan dan keluarganya. Kenapa Ibu tidak ikut ke salon bersama Rima tadi?”

Rohana yakin kalau menantunya sengaja tidak memberi tahunya. Tapi dia tidak ingin menjadi cengeng dengan bersedih di depan menantunya lagi.

Dia juga tidak ingin terlihat sebagai mertua yang memecah belah anak dan menantunya.Dia mencoba berbesar hati dengan melupakan kebusukan menantunya.

“Aduh. Ibu mau dong ikut. Ibu bersiap dulu. Tunggu Ibu. Jangan tinggalkan Ibu ya, Zel?” Bu Rohana bergegas ke kamarnya untuk berganti pakaian.

Di tempat lain, Silvia dan keluarganya sedang bersiap-siap untuk acara pertunangan Silvia yang akan di adakan sekitar jam sepuluh pagi itu, di sebuah hotel berbintang lima.

Boby juga ada di sana menjadi saksi kebahagiaan sahabatnya.

“Wow! Sahabat gue memang tiada duanya. Elu sangat cantik sekali Silvia. Dari dulu elu sudah cantik. Tapi gue sungguh gak nyangka banget lu bakal secantik ini. Lu memang pantas bersanding dengan pangeran tampan seperti Dokter Dana. Lu pantas menjadi seorang putri konglomerat.”

“Sudah, ah. Lu jangan menyanjung gue terlalu tinggi, Beb. Nanti kalau gue jatuh, rasanya tuh sakit banget. Mending lu keluar dulu, gue mau siap-siap dan sendiri dulu.” Silvia mendorong tubuh sang sahabat keluar dari ruang rias.

Saat dia berbalik kedalam ruang rias, tiba-tiba seseorang datang dari belakang Silvia. Dia memeluk pinggang ramping Silvia dari belakang.

Silvia sangat hafal dengan aroma parfumnya. Dia tersenyum dan balas menggenggam tangan yang melingkar di pinggangnya. “Mas,” ucapnya sambil menoleh kebelakang.

Cinta Kedua & Terakhir

Cinta Kedua & Terakhir: Bab 33 Cinta Kedua & Terakhir: Bab 35

Penulis

Tag:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Arsip

Kategori

Antologi KompaK’O

Random image