Waktu berjalan diam-diam. Kopi telah lama kehilangan uapnya, tinggal cairan hitam dingin yang seolah merupakan kubangan kecil dari malam itu sendiri.
Rin masih memegang cangkirnya seperti tengah menahan sesuatu agar tidak jatuh. Aku menatap kopi di depanku lekat-lekat, nanar memandangi diriku sendiri yang tenggelam di cairan kesat tersebut.
“Bay….” Suaramu memecah keheningan. “Mengapa kita tidak pernah benar-benar bicara? Dari dulu. Selalu ada yang ditahan, selalu ada yang dibiarkan menguap begitu saja. Mengapa kita selalu membiarkan kata-kata mati sebelum lahir?”
“Mungkin karena kata adalah pisau. Kita takut ia mengiris apa yang sudah rapuh,” ucapku setelah hela napas yang panjang.
Rin menunduk, memainkan ujung sendok kecil.
“Tapi diam juga melukai, Bay, kadang lebih dalam daripada kata.”
Diam merambat panjang. Hujan mengetuk atap, angin menyelinap dari celah papan, membawa aroma tanah basah yang menambah dingin suasana.
Aku ingin berkata bahwa aku mencintainya sejak dulu. Tapi lidahku membatu. Ada dinding tipis, rapuh tapi keras, memisahkan antara ingin dan berani.
Rin menatapku, matanya bagai genangan hujan.
“Bay… apa kau pernah jatuh cinta?”
Pertanyaan itu menusukku. Aku ingin menjawab: padamu sejak dulu. Tapi bibirku hanya menekuk senyum rapuh.
“Pernah.”
Rin tersenyum, tapi betapa getirnya senyum itu.
“Aku selalu curiga begitu.”
Malam semakin merapatkan sayapnya. Bapak tua yang tadi tertidur kini menyalakan kembali lampu minyak di sudut warung, cahayanya bergoyang-goyang di dinding kayu. Hujan di luar belum berhenti meski sudah amat berkurang derasnya.
“Bay…” suaramu nyaris hilang, “aku takut pulang malam ini. Aku ingin lebih lama di sini, bersamamu.”
Aku mengangguk, “Tentu. Kita akan menunggu hingga hujan reda. Meski kau tahu, Rin, hujan jarang benar-benar reda.”
Rin menyandarkan kepala ke kaca jendela, embun menempel di pipinya.
“Bay, aku hanya ingin satu hal. Jangan biarkan aku sendiri. Jangan biarkan aku hanyut sendirian dalam hujan.”
Dadaku bergemuruh. Kata-kata itu terasa lebih berat dari hujan, lebih pekat dari kopi. Aku ingin menjawab dengan janji, tapi lagi-lagi diam menahan lidahku.
Hujan di luar terus menulis syair panjang di jalanan. Genangan air jadi cermin yang menyimpan cahaya lampu-lampu kota yang bergetar. Waktu melambat, seolah menahan kami di dalam jeda yang tak kami minta.
Rin memejamkan mata, “Bay, aku ingin percaya ada rumah untukku. Tidak perlu besar, hanya ruang kecil. Asal hangat. Asal aku bisa meletakkan rinduku di sana.”
Aku menatapnya lama. Ingin berkata: Aku rumah itu. Tapi semua kata karam di dasar dadaku. Yang tersisa hanya hujan yang tak selesai dan kopi dingin yang masih setia di atas meja.
Malam merapat, menutup dirinya dengan tirai hujan tanpa satupun kesimpulan dari semua pembicaraan. Hanya ada dua jiwa yang terjebak dalam hujan, dua cangkir kopi dingin, dan sebuah rahasia yang enggan keluar dari dada. Dan aku tahu: cerita ini belum selesai. Ia baru saja lahir dari pahitnya kopi dan derasnya hujan.
***
Purbalingga, 17925.











Satu Komentar
Amazing