Home / Topik / Agama / Kehidupan Kristen: ‘Sang Idola Sejati’, Siapakah Dia?

Kehidupan Kristen: ‘Sang Idola Sejati’, Siapakah Dia?

Kehidupan Kristen 20260610
3

Perhatian dunia saat ini sedang tertuju pada grup musik asal Korea Selatan yang sedang melakukan rangkaian tur konser musik internasional mereka. Di Indonesia, para K-popers juga sedang deg-degan mengikuti war ticket dua hari agar dapat hadir menyaksikan konser yang akan digelar sekitar akhir 2026. Siapa cepat dia dapat. Padahal harga selembar tiket termurahnya saja kira-kira dapat membiayai uang sekolah anak-anak penulis! Bukannya gak boleh datang ke konser sedemikian, akan tetapi alangkah lebih bijaksana jika kita mempertimbangkan sisi finansial, waktu serta manfaat yang akan diperoleh. Barangkali sebagian kita sanggup membeli cash (bahkan mengangsur atau berutang!) demi memperoleh kesenangan pribadi/self love atau membahagiakan teman – anggota keluarga. Kesempatan seperti itu memang langka, hanya ada beberapa tahun sekali atau bahkan sekali seumur hidup, akan tetapi sekali lagi, banyak hal yang sebaiknya direnungkan sebelum memutuskan ikut atau tidak.

Event-event seperti ini turut memberi inspirasi bagi penulis mengajakkita merenungkan kebiasaan manusia mengidolakan atau memuja sesuatu atau seseorang yang lebih dari manusia itu sendiri (kita). Kita mengharapkan atensi, perhatian, bahkan perlakuan khusus (special treatment) dari ‘idola’ kita. Kita merasa bangga bahkan bahagia jika bisa bersalaman, berfoto bersama atau mendapatkan tanda tangan. Ironisnya, kita malah merasa biasa-biasa saja jika ditanyakan apakah sudah datang ke hadirat Tuhan hari ini? Apakah sudah berdoa, mengucap syukur dan terima kasih, apalagi memuji-Nya? Kita sibuk memuja-muja sesama manusia fana, akan tetapi enggan datang ke rumah ibadat/gereja untuk bertemu dengan-Nya. Kok bisa?

Kita mungkin akan berkata, ah, itu mah beda. Tentu saja, karena lebih mudah bertemu manusia ‘yang kelihatan’, apalagi saat bisa di tempat yang berdekatan bahkan ‘sama’, ungkapan kekiniannya ‘menghirup udara yang sama’ memberikan rasa bangga atau kepuasan sesaat nan hanya sementara dan semu. Tuhan yang maha ada malah cenderung kita abaikan karena Dia tak kasatmata. Dia seakan-akan lama banget menjawab doa-doa kita, seperti sloth dalam film animasi Zootopia. Kita kadang merasa sendirian, khawatir, hidup dalam kebosanan-gerutu kejemuan, memelihara luka hati (akar pahit) hingga dendam masa lalu, bahkan tak segan-segan berbuat dosa karenanya. Padahal ada lagu sekolah Minggu berbunyi: Mata Tuhan melihat apa yang kita perbuat.

Idola sesungguhnya, idol, sama seperti asal katanya dalam Bahasa Inggris, berarti sesuatu yang dipuja (disembah). Idola adalah tokoh panutan, patron, kepada siapa manusia berusaha ikut (atau ikut-ikutan karena FOMO). Kita aktif follow, gercep ikuti perkembangan beritanya, bahkan berlomba-lomba ingin tahu atau jadi si paling tahu. Saat berhasil mendapatkan tiket meet and greet atau konsernya, jadi histeris atau larut dalam euforia. Apalagi jika berhasil mendapatkan jabat tangan atau ciumannya saja, seorang pemuja idola sanggup gak mandi atau cuci muka selama yang ia bisa, mungkin berjanji ‘gak mau bebersih lagi seumur hidup’. Ia akan sibuk bercerita kepada semua orang yang ditemuinya tentang pengalaman luar biasa tersebut.

Apabila diberi kesempatan ‘berjumpa dengan Tuhan’ seperti Musa saat pelariannya dari Mesir di padang gurun, atau Saulus (sebelum menjadi Rasul Paulus), apakah kita akan berbuat hal yang sama? Padahal sesungguhnya ‘berjumpa dengan Tuhan’ bisa kapan saja, di mana saja. Lewat doa, visi, mimpi, bahkan lewat kejadian tak terduga. Diselamatkan dari marabahaya, disembuhkan dari sakit penyakit. Apa yang akan atau telah kita lakukan saat diberi kesempatan berjumpa dengan Idola Sejati itu?

Lebih dari idol-idol manusia yang masih bisa lengah, salah, penuh kelemahan, Tuhan yang telah menciptakan seisi alam semesta patut kita takuti, kagumi, segani. Seorang Idola Tuhan sejati senantiasa membawa-Nya dalam hati, terpancar dari sikap hingga perbuatan.

Bukan hanya mengagumi atau berusaha ‘menjadi seperti’ idol-idol dunia, sudahkah kita sebagai Anak-anak Tuhan menjadikan-Nya yang terutama di dalam hidup?

Semoga bermanfaat dan Tuhan Yesus memberkati.

Tangerang, 10 Juni 2026

Penulis

  • Wiselovehope

    Wiselovehope adalah nama pena Julie D. (juga akrab disapa dengan nama Kak Jul) kelahiran Jakarta, 30 Juli.

    Ibu dua putra dan karyawati swasta yang sedari dini suka membaca dan mengoleksi buku. Juga berkarya sebagai seorang desainer komunikasi visual.

    Bersama beberapa rekan penulis, Kak Jul mendirikan Komunitas PenA dan KomPak’O (Komunitas PenA Kompasianers dan Opinians) sebagai sarana berkomunikasi dan edukasi bagi sesama penulis pemula.

    Beberapa karya tulis populernya adalah The Prince & I: Sang Pangeran & Aku, trilogi novel romansa misteri Cursed: Kutukan Kembar Tampan (Pimedia Publishing, 2021-2022), Cinta Terakhir Sang Bangsawan (Bookies Literasi, 2023) dan Antologi Komunitas PenA & KomPak’O: Risalah Rindu, 1001 Kata Hati: Sebuah Aksara Semiloka, Cyan Magenta, Lelaki yang Menjinakkan Naga, My One & Only, Ini Puisi?

    Instagram: @wiselovehope
    Situs link karya: linktr.ee/wiselovehope
    Facebook: facebook.com/wiselovehope.wiselovehope

Tag:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Arsip

Kategori

Terkini

Berharap Mentari tak Berpaling Begitu Saja

Berharap Mentari tak Berpaling Begitu Saja

Kehidupan Kristen: ‘Sang Idola Sejati’, Siapakah Dia?

Kehidupan Kristen: ‘Sang Idola Sejati’, Siapakah Dia?

Orang Asing

Orang Asing

Cinta Kedua & Terakhir: Bab 46

Cinta Kedua & Terakhir: Bab 46

Bayangan

Bayangan

Antologi KompaK’O

Random image