Beranda / Genre / Misteri / 5. Kunjungan Penuh Harapan

5. Kunjungan Penuh Harapan

Musim Semi di Tarburg
1
This entry is part 6 of 7 in the series Musim Semi di Tarburg

“Kami percaya itu pembelaan diri, namun tetap saja harus menunggu penyelidikan berakhir agar tahu penyebab kematian Nerdlin.” Kepala Polisi Harlan menjelaskan dengan singkat tentang apa yang menimpa Lyra di malam itu.

Pasangan paruh baya itu saling memeluk, saat mendengar putri mereka hampir saja diperkosa. Lily menangis tersedu di pelukan suaminya. Tidak ada hal penting di dunia selain putrinya baik-baik saja, dan Lyra tanpa sengaja membuat seseorang terbunuh saat sedang memperjuangkan keselamatan dan harga dirinya.

“Apakah dia akan dipenjara?” tanya Alfred gamang. Seolah bertanya pada dirinya sendiri.

“Tentu saja. Dia sudah menghilangkan nyawa seseorang. Tetapi untuk berapa lama, biar sidang yang menentukan. Aku sarankan segera sewa pengacara untuk mendampinginya. Aku tahu seperti apa si Nerdlin. Dia pun punya catatan kriminal, jadi masih ada harapan untuk Lyra agar tidak dihukum seumur hidup. Aku percaya dia spontan melakukannya, ini aku katakan sebagai paman, bukan sebagai kepala polisi. Kau tahu itu, kan?” Harlan menekankan kalimat terakhir sambil menghisap rokok yang terselip di antara jarinya dalam-dalam.

“Ya, aku tahu. Terima kasih,” jawab Alfred kaku. Tetap saja, banyak hal yang harus dilakukan, sementara tidak banyak waktu tersisa sebelum kasus naik ke persidangan.

Alfred segera menghubungi tim pengacara perusahaan. Beberapa saat berbicara di telepon, mimik mukanya terlihat tegang, sementara Lily masih terpaku di bangku ruang tunggu dengan sesekali mengusap wajahnya yang basah.

Berita mengenai tertangkapnya Lyra dalam kasus penganiayaan yang berujung kematian sampai juga ke telinga Basha. Tamtam yang selalu tertarik untuk menjadi wartawan memperoleh berita itu dari kawannya yang bekerja sebagai administrator di kantor polisi, tempat Lyra ditahan untuk dimintai keterangan. Dia terlalu bersemangat sampai lupa titik dan koma, membuat Basha harus berkali-kali menyuruhnya untuk menuturkan ulang dengan perlahan.

“Kau akan mengunjunginya?” tanya Tamtam usai menjelaskan kronologi kejadian. Basha menarik napas panjang.

“Haruskah? Kedatanganku sepertinya tidak bisa membantu banyak. Meskipun aku bersimpati, tapi kalau jadinya makin runyam, maka itu bukan hal yang baik.” Basha lagi-lagi mendengus..

“Tapi jika benar dia ke sana karena kau, apa itu artinya kau penyebab semuanya?” Tamtam merendahkan suaranya, sambil menunggu reaksi Basha. Benar saja, Basha langsung protes, wajahnya memerah.

“Kau bahkan belum yakin tentang itu!” Basha melotot pada Tamtam yang seketika menutup telinganya. Basha yang emosi, segera mengusir Tamtam dan mengunci pintu rumahnya.

Basha mengambil soda lalu duduk di sofa kesayangannya. Dia termenung, dan merenung, memikirkan apa yang dikatakan Tamtam tadi. Meskipun tidak ingin mengakui, tetapi Basha tahu perasaan itu. Rasa bersalah. Jika saja Basha tidak pernah mendekati Lyra, jika saja dia tidak lancang menyatakan cinta, jika saja dia tidak berbuat bodoh dengan mengejar gadis yang kelas sosialnya jauh di atasnya, apakah dia akan berakhir seperti ini? Tanpa sadar Basha menggelengkan kepala. Dia tidak bisa mengelak untuk memikirkan banyak kemungkinan. Kalau saja saat itu dia tidak menyatakan cinta pada Lyra, apakah hasilnya akan berbeda?

Saat Basha makin tenggelam dalam pikirannya, Zelia datang sambil menunjukkan sesuatu pada Basha.

“Ini pendulum pintar, yang bisa membaca isi hati pemakainya.” Zeila kemudian mengalungkan pendulum itu ke leher kekasihnya. “Ayahku menciptakannya saat aku berusia dua belas tahun, untuk menghukumku. Jika aku tidak mau belajar maka ayah akan mengajakku untuk melihat masa depan dengan pendulum ini. Gambaran tentang aku di masa depan sebagai anak yang malas, itu cukup mengerikan. Setelahnya, aku tak ingin ketinggalan pelajaran selembar pun.”

“Bagaimana cara kerjanya?” tanya Basha kemudian.

“Genggam pendulumnya sambil memikirkan waktu di mana kau ingin berada.” Zelia menggenggam tangan Basha dengan erat. “Aku akan menemanimu.”

Basha mengangguk dan mulai melakukan sesuai instruksi Zelia. Matanya terpejam, pun Zelia, hingga keduanya seperti dikelilingi cahaya yang berputar cepat sampai mereka terlempar dan terjatuh di rerumputan. Kemudian terdengar suara-suara di sekitar mereka, suara orang-orang berbicara, suasana riuh yang Basha kenal.

Benar saja, begitu membuka mata terlihatlah gedung perpustakaan kampus, tempat Basha biasa menghabiskan waktu bersama Tamtam saat masih berkuliah dahulu—sambil menunggu Lyra keluar kelas.

Basha merasa harus bergegas dan tidak membuang waktu lebih lama untuk mengubah keadaan. Digenggamnya tangan Zelia lebih erat, lalu berjalan menuju kelas Lyra. Ingatannya masih teramat bagus, karena tak lama kemudian terlihat Lyra berjalan ke arahnya. Basha tidak tahu apakah ini jalan terbaik, tetapi tidak ada waktu untuk mundur. Dia menarik tangan Zelia dan menciumnya di depan Lyra.

Lyra yang melihat itu seketika tertegun dan menghentikan langkahnya. Dia terlihat sedikit bingung dengan sikap Basha, tetapi kemudian dia tertawa keras.

“Bagus, kau sudah punya pacar rupanya, Bash! Bilang saja kau tak bisa mengantarku ke toko buku, pakai bawa pacarmu pula. Good job, Bash! Syukurlah, jadi kau tidak akan menggangguku lagi, kan? Dan, kau … jaga pacarmu baik-baik, jangan sampai dia mengganggu gadis lain, Nona.” Kalimat terakhir dia katakan sambil mengarahkan telunjuknya pada Zeila. Sedetik kemudian dia sudah melenggang pergi ke arah pintu keluar.

Zelia dan Basha berpandangan … lalu sama-sama tersenyum.

“Kita berhasil?” tanya Zelia

“Semoga saja begitu.” Basha berusaha meyakini perkataannya sendiri, karena dia enggan membayangkan sebaliknya.

Musim Semi di Tarburg

. Malam Laknat . Orion Sang Pemburu

Penulis

  • Zavny

    Hanya seseorang yang senang menulis.

Tag:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *