Kata pembuka: Salam sejahtera. Opini ini ditujukan khususnya bagi sesama rekan pembaca Kristen dari denominasi apa saja, akan tetapi bisa juga dinikmati oleh semua pembaca lintas agama dan kepercayaan. Semoga bermanfaat.
Kesaksian, hal yang paling ditakutkan dan dijauhi orang-orang Kristen pada umumnya. Seberapa berat bersaksi, bagaimana caranya bisa menjadi garam dan terang dunia? Apakah dengan harus selalu terlihat alim, tak boleh berbuat salah alias dosa?
Sebagai seorang Kristen awam, penulis bukan seorang yang luar biasa rohani, bahkan belum lagi jadi seorang pelayan aktif di gereja dan sebagainya. Penulis hanyalah seorang perempuan biasa yang sehari-hari bekerja full time Senin-Jumat 8 to 5 sekaligus ibu rumah tangga berputra dua. Jadi, bagaimana cara pribadi penulis mencoba memberi kesaksian?
Bukan dengan pakai atribut besar-besar, menggurui atau bahkan mengkhotbahi, sebab semua itu bukan forte-nya penulis dan barangkali membuat risih. Selain karena punya kepribadian introvert, penulis berpendapat, masih banyak cara lain untuk menunjukkan iman serta memberi kesaksian. Apa saja misalnya?
- Tuhan bisa dihubungi kapan saja kita berdoa, akan tetapi kita tidak perlu/tidak usah selalu menunjukkan di mana saja, kepada siapa saja, jika kita ‘rajin’ berdoa. Mengapa? Meski terkesan bagi orang lain jika dia berdoa karena ‘alim’, berdoa demikian sangat dekat dengan kesan pamer alias show-off. Ingatlah jika dalam kisah injil, Tuhan Yesus membenci perilaku orang Farisi dan imam-imam Yahudi yang berdoa di luar/di jalan-jalan dengan suara nyaring, dengan busana berjumbai-jumbai yang show-off juga. Tuhan Yesus mengajarkan kita untuk berdoa di tempat sunyi saja, tutup dan kunci pintu. Artinya, doa (pribadi) adalah komunikasi pribadi one-on-one dengan-Nya. Berdoalah kapan saja dan di mana saja, tidak perlu show-off.
- Bernyanyilah memuji Tuhan. Tidak harus selalu dengan ikut pelayanan dan tampil offline, apalagi jika introvert akut seperti penulis. Penulis sesekali menyempatkan diri mengabadikan suara di sebuah aplikasi karaoke online. Bukan untuk jadi bintang konten atau disawer, melainkan lewat cara demikian, semoga saja bisa memberi sumbangsih bagi sesama Anak Tuhan yang ingin belajar menyanyi juga. Juga bisa jadi kenang-kenangan seandainya suatu hari nanti penulis sudah tua dan tidak lancar menyanyi lagi. Malu? Tidak perlu malu, ‘kan tidak perlu juga dijadikan video. Merasa suara cempreng alias fals? Bukan juga sebuah alasan, yang penting masih layak didengar. Suara paling fals sekalipun, jika dilatih, lama-lama bisa jadi merdu.
- Menulislah. Jika enggan bicara, malas buka suara, takut dianggap cerewet, mengapa tidak menulis? Misalnya di status WA, media sosial. Tidak perlu menulis yang ribet atau susah, apalagi berteori sampai berspekulasi macam-macam. Jika Tuhan baru saja menolong Anda, menjawab doa Anda, tuliskanlah rasa syukur dan terima kasih kepada-Nya. Malu merinci dapat berkat apa? Cukup nyatakan I’m blessed. Tidak perlu berpikir ‘nanti yang baca siapa? Apa tanggapan mereka?’ dan semacamnya. Tuhan tidak memerlukan feedback dan tidak peduli pada apa kata-pandangan manusia, apalagi yang negatif. Tuhan sangat senang apabila kita ingat pada pertolongan-Nya. Percayalah jika kita akan ditolong-Nya lagi dan lagi.
Kesimpulan: Bersaksilah lewat hal-hal kecil dan ringan saja. Apa yang ada padamu, apa yang Anda bisa, tak perlu sulit-berat apalagi mengeluarkan biaya besar. Berdoalah, tidak perlu heboh-heboh. Menyanyilah satu-dua lagu yang Anda bisa. Tulislah hal-hal yang Anda alami, entah pujian atau pernyataan bahwa Tuhan itu baik.
Tuhan memberkati. Amin.
Tangerang, 24 April 2025
Wiselovehope











