tak perlu berguru puisi jika cuma untuk mengerti
bendera negeri sendiri
yang dulu begitu lantang kau teriaki
tentang merah yang berani
bertopang kesucian
yang terpancar dari warna putihnya yang menawan
dalam himne tentang negeri nan gagah rupawan
yang selalu kaunyanyikan sepenuh sungguh kala sekolah kemarin
tapi lidahmu yang kian terasa ngilu
tatkala mendendangkan lagi
nada-nada tinggi
yang pernah, amat kau yakini
memaksamu untuk menjelma puisi
coba menerjemahkan kembali:
semua nada, dengan bait dan kata-kata sendiri
ini bendera rindu
dalam tembang tanah air yang penuh cinta
walau merah di kibar atasnya
pernah menghasut matamu hingga pekat
dan bersumpah bahwa itu serupa warna darah
masih merah, ucapmu
pada bendera di halaman itu
walau lambungmu yang sekian hari tak bertemu isi
menghasut matamu hingga pekat
dan bersumpah bahwa itu serupa warna darah
agak ragu kau pandang lagi
kibar di tiang halaman
barangkali cuma lusuh, keluhmu
diam-diam melepas kacamata lalu menggosoknya
berharap debu di kaca penyebab semua
tapi merah itu justru kian pekat
senada dengan warna putihnya
yang kini tak lagi serupa putih
perlahan kau gosok kembali
kali ini sudut di mata dan hatimu
yang tergesa meneteskan gerimis
kepedihan, sebab warna putih itu
yang kini serupa abu-abu
mengingatkan pada warna nasibmu sendiri
di negeri yang pernah berslogan gemah ripah loh jinawi ini
lagi, kau pandangi kibar di halaman itu
kembali ngilu, kembali abu-abu
dan pada merah pekat yang kian berkibar itu
kau sisipkan sebaris nada, dengan bait dan kata-kata sendiri
tentang tanah air mata, dengan bendera
yang tidak lagi sama
*
“Merdeka…!!!” teriak jutaan rakyat dengan amat sedih
sambil terkaing
memegang lambung
yang kian waktu kian terasa perih.
Bay, Ciledug-P, Mei 2008. Diposting untuk pertama kalinya pada situs Kompak’O.












Satu Komentar
Kereeen~