Home / Fiksi / Puisi / Bendera Rindu Negara Cinta

Bendera Rindu Negara Cinta

Mencintaimu dengan Cara yang Paling Malu
3
This entry is part 3 of 9 in the series Mencintaimu dengan Cara yang Paling Malu


tak perlu berguru puisi jika cuma untuk mengerti

bendera negeri sendiri

yang dulu begitu lantang kau teriaki

tentang merah yang berani

bertopang kesucian

yang terpancar dari warna putihnya yang menawan

dalam himne tentang negeri nan gagah rupawan

yang selalu kaunyanyikan sepenuh sungguh kala sekolah kemarin


tapi lidahmu yang kian terasa ngilu

tatkala mendendangkan lagi

nada-nada tinggi

yang pernah, amat kau yakini

memaksamu untuk menjelma puisi

coba menerjemahkan kembali:

semua nada, dengan bait dan kata-kata sendiri


ini bendera rindu

dalam tembang tanah air yang penuh cinta

walau merah di kibar atasnya

pernah menghasut matamu hingga pekat

dan bersumpah bahwa itu serupa warna darah


masih merah, ucapmu

pada bendera di halaman itu

walau lambungmu yang sekian hari tak bertemu isi

menghasut matamu hingga pekat

dan bersumpah bahwa itu serupa warna darah


agak ragu kau pandang lagi

kibar di tiang halaman

barangkali cuma lusuh, keluhmu

diam-diam melepas kacamata lalu menggosoknya

berharap debu di kaca penyebab semua

tapi merah itu justru kian pekat

senada dengan warna putihnya

yang kini tak lagi serupa putih


perlahan kau gosok kembali

kali ini sudut di mata dan hatimu

yang tergesa meneteskan gerimis

kepedihan, sebab warna putih itu

yang kini serupa abu-abu

mengingatkan pada warna nasibmu sendiri

di negeri yang pernah berslogan gemah ripah loh jinawi ini


lagi, kau pandangi kibar di halaman itu

kembali ngilu, kembali abu-abu

dan pada merah pekat yang kian berkibar itu

kau sisipkan sebaris nada, dengan bait dan kata-kata sendiri

tentang tanah air mata, dengan bendera

yang tidak lagi sama

*


“Merdeka…!!!” teriak jutaan rakyat dengan amat sedih

sambil terkaing

memegang lambung

yang kian waktu kian terasa perih.


Bay, Ciledug-P, Mei 2008. Diposting untuk pertama kalinya pada situs Kompak’O.

Mencintaimu dengan Cara yang Paling Malu

Cinta Sederhana yang Luar Biasa Na

Penulis

  • Ahmad Maulana S

    Ahmad Maulana S, lahir di Jakarta.

    Sejak kecil ia terbiasa bertualang. Lulus SMU langsung singgah di sebuah madrasah/sekolah sebagai guru, dilanjutkan dengan menjadi pekerja bengkel, pramuniaga, kuli bangunan, pedagang ayam setan, tukang pasang tenda, pengelola pabrik bulu mata palsu, pemilik lapak barang rongsok, penulis buku puisi dan buku serial pendidikan anak, ghost writer, publisher novel-novel motivasi serta pernah menyelenggarakan kelas fiksi berbayar berbasis online lintas negara.

Tag:

Satu Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Arsip

Kategori

Terkini

Cinta Kedua & Terakhir: Bab 58

Cinta Kedua & Terakhir: Bab 58

Tegar

Tegar

Menjadi Penulis: Menghindari Membuang Waktu Percuma

Menjadi Penulis: Menghindari Membuang Waktu Percuma

31. Ancaman

31. Ancaman

Terbangun Tengah Malam

Terbangun Tengah Malam

Antologi KompaK’O

Random image