Di sebuah lembah yang indah bernama Padang Gemilang, lebah, burung, dan kupu-kupu hidup bersama, berbagi segalanya tanpa berebut. Lembah itu dipenuhi bunga tempuyung, bunga aster, dan berbagai jenis bunga yang menyediakan nektar dan serbuk sari untuk semua hewan.
Meskipun lebah, burung, dan kupu-kupu mengumpulkan makanan mereka dan kembali ke rumah yang berbeda, tidak ada yang menguasai apa pun untuk diri mereka sendiri. Sebaliknya, mereka membuat perpaduan warna yang indah saat mereka bekerja bersama. Setiap orang yang melewati padang itu berhenti dan mengagumi suasana yang harmonis itu.
Suatu hari, Lebon Lebah memutuskan untuk menguasai semua bunga tempuyung terbesar dan paling terang di Padang Gemilang.
“Punyaku, punyaku, punyaku!” Lebon melayang di atas setiap bunga sambil berteriak.
Ketika teman-teman lebahnya melihat bahwa dia telah memilih bunga terbesar, mereka memutuskan untuk bergabung dengannya.
Menyadari apa yang terjadi, Ramania, kupu-kupu berbintik oranye yang damai terbang ke arahnya.
“Menurutku kita tidak boleh terpecah belah. Ada cukup bunga untuk semua,” kata Ramania lembut.
“Tidak,” jawab Lebon Lebah tegas.
Maka, ladang itu pun terbagi antara lebah dan kupu-kupu.
Ramania Kupu-Kupu dan teman-temannya terpaksa memakan nektar dari bunga-bunga yang tersisa yang tidak dikuasai Lebon Lebah. Bunga-bunga ini jumlahnya lebih sedikit dan lebih kecil, tetapi karena mereka ingin menghindari masalah, kupu-kupu memutuskan untuk membiarkannya.
Suatu hari, bunga-bunga di Ladang Gemilang mulai layu. Ramani dan teman-temannya, setelah kehabisan bunga, mulai mencari ladang lain. Akhirnya, mereka menemukan satu ladang dan mulai mengumpulkan serbuk sari serta memakan nektar. Mereka terbang bolak-balik dari tempat rahasia baru mereka, tetapi mereka tidak memberi tahu siapa pun apa yang telah mereka temukan. Sementara itu, Lebon Lebah dan teman-temannya memakan bunga-bunga yang layu itu. Hingga suatu hari, bunga-bunga itu benar-benar mati dan bahkan Ramania Kupu-Kupu tidak dapat ditemukan di mana pun. Begitu pula burung-burung.
Ladang Gemilang kini sunyi seperti kuburan. Burung-burung tidak lagi berkicau, kupu-kupu tidak lagi mengepakkan sayapnya, dan orang-orang tak lagi berhenti untuk mengagumi bunga-bunga itu.
“Mengapa kita tidak mencari Ramania Kupu-Kupu? Aku rasa dia telah menemukan bunga di suatu tempat,” usul seekor lebah.
Lebon Lebah tidak mau mendengarkan. Lebah-lebah terus terbang ke ladang yang berbeda, tetapi semua bunga layu. Tak lama kemudian Lebon dan teman-temannya mulai putus asa.
Suatu hari, ketika mereka terbang mencari makanan, mereka bertemu dengan Ramania Kupu-Kupu.
“Hai Ramania, maukah kamu menunjukkan tempat kami bisa mendapatkan bunga segar untuk makanan?” tanya Lebon.
“Tidak,” jawab Ramania Kupu-Kupu. Dia masih terluka oleh sifat mau menang sendiri Lebon dan tidak ingin membagi rahasianya. Lebon terbang dengan kecewa.
Burung bijak bernama Burhan yang telah menyadari apa yang terjadi antara lebah dan kupu-kupu menegur Ramania.
“Lebon masih saudaramu,” katanya lembut. “Kalian harus saling menjaga. Kalian harus melakukan apa pun yang kalian bisa untuk menjaga perdamaian. Bersikaplah baik, penuh kasih, dan pemaaf.”
“Tetapi dia jahat padaku terlebih dahulu,” keluh Ramania Kupu-Kupu.
“Ya, tetapi kalian tidak boleh membalas kejahatan dengan kejahatan. Jika seseorang menyakitimu, tunjukkan padanya kebaikan,” saran Burhan Burung.
Setelah merenungkan kata-kata Burhan, Ramania Kupu-Kupu memutuskan untuk terbang kembali ke Lebon dan berbagi rahasianya. Lebon tersentuh oleh kebaikan Ramania dan meminta maaf atas perilaku egoisnya. Ramania memaafkannya, dan bersama-sama, mereka membawa semua lebah ke ladang bunga baru.
Ladang baru itu luas dengan deretan bunga tempuyung, bunga aster, dan mawar hutan. Bahkan ada lebih banyak burung dan berbagai macam makhluk hidup. Tempat itu berwarna-warni dan matahari bersinar terang. Lebah-lebah menyadari bahwa ada lebih dari cukup untuk semua dan tidak ada yang perlu diperebutkan.
Sekali lagi, ladang itu hidup dengan suara kicauan burung, lebah yang berdengung, dan kupu-kupu yang mengepakkan sayapnya. Warna dan tugas unik masing-masing membuat ladang baru itu menarik bagi orang-orang yang lewat.
Cikarang, 29 April 2025











