Home / Genre / Chicklit / 7. Telik Sandi

7. Telik Sandi

MERAJUT MASA SILAM
1
This entry is part 9 of 34 in the series Merajut Masa Silam

Ghea menghela napas dalam-dalam saat ibunya menceritakan semua yang terjadi. Semuanya masuk akal sekarang.

“Kamu berhak membenci Ibu, Ghea. Tetapi ibu melakukannya untuk rakyat kita, dan begitu banyak perang yang terjadi akhir-akhir ini. Di sini sangat aman dan orang-orang sini sangat baik kepada kita selama dua puluh satu tahun terakhir.”

Baiklah, jadi sekarang umurku dua puluh satu tahun, pikir Ghea. 

“Aku memaafkanmu Ibu, sekaligus minta maaf atas sikapku selama ini. Aku sudah berubah, Bu. Aku ingin menebus kesalahanku selama ini.”

Mulut perempuan paruh baya itu menganga, matanya membelalak ke arah Ghea dan kemudian melirik Lastri.

“Apakah dia berkata jujur?”

Lastri mengangkat bahu. “Ampun Gusti Ibu, Gusti Ratu sudah mengatakan itu dari tadi pagi.”

Kemudian ibunya kembali menoleh ke arah Ghea. “Tidak ada yang akan membuat ibu lebih bahagia jika pernikahan ini berhasil, putriku. Karena jika tidak, suamimu atau ayahnya dapat mengusir kita kapan saja, dan kita tidak punya tempat lain untuk pergi.”

“Apakah suamiku semacam menteri atau panglima?” Ghea bertanya. Lastri dan ibunya saling bertukar pandang.

“Panglima? Dia Putra Mahkota!” Ibunya menjawab sambil menatap Ghea seolah-olah gadis itu hilang ingatan, terkena teluh atau yang seperti itu.

“Wow!” Ghea berseru. Aku menikah dengan pangeran, seperti dalam dongeng! Luar biasa!

“Tapi, dia sepertinya tidak menyukaiku, Bu,” katanya sambil mengernyitkan hidung.

“Kalian berdua tidak saling menyukai. Sejak kecil sudah membenci satu sama lain. Tetapi pernikahan ini harus berhasil. Tak lama lagi Sultan akan mengadakan perayaan besar-besaran dan kalian berdua akan hadir di sana dan dia ingin memastikan putranya berbahagia dengan pernikahannya. Tolong sayang, lakukan segalanya untuk tidak merusak apa yang sedang kita bangun di sini. Jika tidak, kamu akan menghancurkan semua usaha ayahmu dan kita akan diusir.”

Tamatlah riwayatku! Aku menikah dengan seorang lelaki yang membenciku setengah mati dan menurut ibuku aku juga membencinya separuh nyawa. Sultan gila memaksa putranya menikah denganku sehingga dia tidak akan mengusir kami— Astaga! Aku harus bangun dari mimpi buruk ini! pikir Ghea galau. Mungkin kisah cintanya yang kacau di era modern merupakan karma untuk apa terjadi di masa lampau. Bagaimana cara Ghea untuk membereskan kekacauan ini sebelum ulang tahunnya yang berikutnya?

Ghea akhirnya mendapat gambaran yang lebih baik tentang berbagai hal sekarang. Dia dipaksa kawin untuk melindungi orang-orangnya. Ayahnya dulu adalah pemimpin rakyat yang berasal dari tanah atau kerajaan sekitar sungai Serut yang hancur karena bencana alam. Pengungsian kaumnya melalui jalan darat dan laut, terdampar di Ampenan dan sebelum Sultan mereka menyetujui mereka menetap, dia harus menikah dengan putranya yang namanya masih misteri bagi Ghea, mungkin Jayenglaksono atau seperti itu. Dia telah menjadi semacam persembahan untuk kebaikan mereka. 

Ayahnya meninggal beberapa tahun kemudian. Ghea menjadi pemarah dan jahat sebagai akibat dari kawin paksa itu. Pastilah karena sesungguhnya dia ingin menikah karena cinta. Merasa dikhianati dan dipaksa di luar kehendaknya sehingga menjadi sangat jahat dan kejam kepada semua orang di sekitarnya. 

Ghea tahu bahwa terakhir kali dirinya di masa lampau pulang ke rumah ibunya, telah bersumpah untuk tidak datang lagi sambil berjanji untuk tidak memaafkan ibu dan ayahnya, meski ayahnya sudah meninggal.

Berkali-kali dia menghela napas panjang dalam perjalanan pulang. Begitu banyak pikiran berkecamuk di kepalanya. 

Bagaimana aku bisa mengenal suamiku, yang aku tahu kami sangat membenci satu sama lain? Seberapa cepat aku bisa pulang ke masaku tepat sebelum ulang tahunku?

Dia sama sekali buta dengan apa yang harus dia lakukan dalam waktu singkat. Dia tidak tahu harus memulai dari mana!

***

Saat kembali ke keraton, hari sudah hampir larut malam. Ghea mengucapkan terima kasih kepada Lastri karena telah membawanya berkeliling dan memperkenalkan semua pelayan kepadanya. Ada lebih dari sepuluh pelayan. Mereka semua tampak ketakutan, tetapi Ghea terlalu lelah untuk membuat mereka mempercayainya.

Padanya juga ditunjukkan istal. Ada banyak kuda yang bagus untuk ditunggangi. Ghea tahu setidaknya dia perlu belajar cara menunggang hewan itu sebelum meninggalkan masa itu. Setidaknya, dia akan mendapatkan beberapa keterampilan baru.

Karena lelah setelah melakukan perjalanan panjang, dia menunda ajakan Lastri untuk meninjau bangunan-bangunan lain di istana sampai besok. Tetapi tidak sebelum dia mengetahui di mana suaminya tidur.

Lastri menunjuk ke kamar Pangeran Mahkota yang terletak di sayap selatan balairung sementara kamarnya sendiri di bagian timur. 

Gusti Pangeran tidak ada di istana. 

Ghea diberitahu bahwa suaminya pergi dan belum kembali sejak dia meninggalkan meja makan setelah sarapan pagi tadi. 

Ghea merasa kecewa tanpa sebab, tetapi segera pulih setelah mandi berendam air kembang. 

Duduk di depan cermin, dia mencoba membiasakan diri dengan semua hal yang berkaitan dengan Ghea masa lalu.

Mereka sangat berbeda dalam hal merawat diri. Dirinya yang dulu memiliki begitu banyak perhiasan, begitu banyak kebaya dan batik tangan halus yang indah. Selemari sandal dan rambut konde. 

Saat memeriksa kotak riasnya, dia mendengar ketukan pelan di pintu.

“Susan, apakah itu kamu?” tanyanya sambil memijat lehernya yang pegal.

“Bukan, Gusti Ratu. Hamba Nunung.”

Ghea mengerutkan kening, mencoba mengingat wajah pelayan yang bernama Nunung, tapi ada begitu banyak sehingga dia lupa. 

“Masuklah.”

Pelayan yang bernama Nunung masuk, baru kemudian Ghea ingat. Nunung adalah pelayannya yang paling takut dari semuanya. Dia juga masih tampak sangat muda, termuda dari semua pelayan. Ghea langsung menyukainya, tapi aku terlalu lelah untuk mengatakan itu.

“Nunung sayang, ada masalah apa?” Ghea bertanya semanis mungkin, tapi gadis itu menatapnya dengan wajah pucat. Dengan tangan gemetar, dia menyerahkan sebuah bingkisan yang dipegangnya kepada Ghea. Ghea mengerutkan kening penasaran dan menerima bungkusan itu.

“Ini untukku?” tanyanya. 

Nunung mengangguk, sambil tetap menunduk menatap lantai.

Siapa yang mengirimkan bingkisan itu untuknya? Dia bertanya-tanya dan membuka kain saputangan pembungkusnya. Di dalamnya seikat bunga indah yang dibungkus dengan kotak merah muda kecil.

Ghea membukanya dan terkesiap kaget. Di dalamnya terdapat kalung paling indah yang pernah dilihat, dengan liontin bulan sabit yang memancarkan cahaya biru samar.

“Apakah suamiku yang mengirimkan ini untukku?” tanyanya penuh harap. Nunung tak menjawab.

“Apakah suamiku yang mengirimkan ini untukku?” dia bertanya lagi.

Rona wajah Nunung berubah merah jambu sebelum menggelengkan kepalanya.

“Bolehkah saya pergi, Gusti Ratu?” Suaranya nyaris tak terdengar saat Ghea menatapnya. Nyata sekali gadis kecil itu terlalu takut, sehingga Ghea jatuh iba padanya. Meletakkan bingkisan itu di meja, Ghea memegang bahunya.

“Berapa umurmu, Nung?”

“Enam belas tahun, Gusti Ratu,” jawabnya pelan.

“Apa tugas kamu di sini?”

“Sa … saya menyiram kembang dan merawat taman. Juga membantu di dapur.” Gadis itu tak sekalipun mengangkat dagu untuk menatapnya.

“Apakah kamu ingin melakukan sesuatu yang lebih menyenangkan?” tanya Ghea.

Gadis kecil di depannya masih diam tak memberikan jawaban, jadi Ghea segera menambahkan. “Seperti memilih batik halus yang akan aku pakai dan merias wajah untukku. Memilih sandal dan berjalan-jalan denganku. Oh, dan juga memberitahuku tentang siapa saja yang pernah mengirim bingkisan.”

Merajut Masa Silam

. 1879 . Nikah Paksa

Penulis

  • Alexis

    Pengarang  novel Lamaran atau Pinangan? (Pimedia, 2022) dan (Deception) Ingkar Jodoh (Pimedia, 2022). Segera terbit, Penyintas Terakhir.

Tag:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Arsip

Kategori

Terkini

Putri Pewaris Mafia: Bab 19

Putri Pewaris Mafia: Bab 19

Tak Sepenuhnya Sadar

Tak Sepenuhnya Sadar

10. Dendam Poseidon dan Ketenangan Alexandria

10. Dendam Poseidon dan Ketenangan Alexandria

Cinta Kedua & Terakhir: Bab 27

Cinta Kedua & Terakhir: Bab 27

Cinde Lara: Bab 26

Cinde Lara: Bab 26

Antologi KompaK’O

Random image